Hidup adalah perjalanan yang harus ditempuh oleh diri sendiri. Tak ada yang bisa dititipkan. Kita tak bisa mengandalkan orang lain untuk menjalaninya. Seperti sajak Chairil, hidup adalah kesunyian masing-masing. Dan kita kesepian, mampus dikoyak sepi.
Kita butuh orang lain, bersama dengan mereka. Tapi kita juga terkadang ingin sendiri, menepi. Sibuk dengan diri sendiri.
Masalahnya saat kita ingin bersama dengan kawan2, sepertinya tak ada yang peduli. Dan saat kita ingin sendiri, mereka datang!
Sabtu, 07 Februari 2009
Jurnal
Asalamualaikum!
Ashar yang indah!
Ah, sebetulnya mana ada waktu yang tak indah?
Aku pergi bersama adik-adikku. Tidak dalam rangka hura-hura, hanya bisnis kecil-kecilan. Setelah urusan kerjaan beres. Kami menghadiahi diri dengan pergi ke mall. Untuk beli sabun stok 1 bln. Nah, ìnilah acara yang ditunggu-tunggu adik kecilku. Dia itu lapar mata, tapi kenyang dengan sendirinya kalau sudah melihat-lihat(terutama mainan). Ia yang masih 8 tahun berbaju koko berpeci haji dan lengkap dengan sarung 'unyil'nya, sebab dia habis jumat. Melangkah dengan wajah sumringah, tersenyum yg menyerupai tawa tak bersuara. Gigi susu yang keropos itu tampak. Lucu! Bukan lantaran dia adikku aku bilang begitu. Tapi sebab kami sedang dalam keramaian pasar (ekonomi maupun sosial) dengan identitas yang kontras. Sandal jepit, celana+baju koko, peci rajut. Aku, berjilbab, juga bersandal jepìt. Baju dan kerudung berbulan2 tak tertindih setrika.
Tentu saja itu biasa. Biasa banget malah. Mewah? Mungkin, kalau masih ada yang menganggap pergi ke mall adalah gaya hidup 'wah'.
Tapi bukan itu maksud yang ingin saya utarakan. Saya cuma ingin menuliskan bahwa, kami yang kadang tampak teraliensi, bangga dengan identitas 'ndesa' kamì. Di tempat2 manusia datang dengan dalih ekonomi padahal lebìh dalam rangka ekshibisi sosial. Tak tekecuali kami. Tapi kami tidak beli makanan untuk stok, tidak membawa tas, hp, tak beraksesoris ala _mallian_. Kami hanya merayakan kebersamaan dengan menjadi diri sendiri diantara orang lain yang tampil mati-matian hanya untuk keperluan menaikan gengsi.(Ops! Keputus pembaca!)
aku bangga karena kami tak merasa minder bersendal jepit. Mondar-mandir tanpa es krim atau sepotong cokelat. Kami tak pernah benar2 tak terbiasa menikmati cemilan macam itu. Kami juga tak memimpikannya. Tak tahu kenapa. Mungkin saja karena kami orang desa.
Tapi kalau boleh membela diri bukan karena alasan itu kami tak bercokelat dan menjilat es krim. Kami muak dengan gaya hidup yang dibuat2. Kami muak dengan ekshibisi sosial yang keropos. Taruhlah di panggung begitu sempurna, di dapur mereka tak jelas rimba. Cantik sebab rajin ke salon. Mewah berandalkan kartu kredit. Impresif karena latihan/buatan. Tidak alami lagi.
Ashar yang indah!
Ah, sebetulnya mana ada waktu yang tak indah?
Aku pergi bersama adik-adikku. Tidak dalam rangka hura-hura, hanya bisnis kecil-kecilan. Setelah urusan kerjaan beres. Kami menghadiahi diri dengan pergi ke mall. Untuk beli sabun stok 1 bln. Nah, ìnilah acara yang ditunggu-tunggu adik kecilku. Dia itu lapar mata, tapi kenyang dengan sendirinya kalau sudah melihat-lihat(terutama mainan). Ia yang masih 8 tahun berbaju koko berpeci haji dan lengkap dengan sarung 'unyil'nya, sebab dia habis jumat. Melangkah dengan wajah sumringah, tersenyum yg menyerupai tawa tak bersuara. Gigi susu yang keropos itu tampak. Lucu! Bukan lantaran dia adikku aku bilang begitu. Tapi sebab kami sedang dalam keramaian pasar (ekonomi maupun sosial) dengan identitas yang kontras. Sandal jepit, celana+baju koko, peci rajut. Aku, berjilbab, juga bersandal jepìt. Baju dan kerudung berbulan2 tak tertindih setrika.
Tentu saja itu biasa. Biasa banget malah. Mewah? Mungkin, kalau masih ada yang menganggap pergi ke mall adalah gaya hidup 'wah'.
Tapi bukan itu maksud yang ingin saya utarakan. Saya cuma ingin menuliskan bahwa, kami yang kadang tampak teraliensi, bangga dengan identitas 'ndesa' kamì. Di tempat2 manusia datang dengan dalih ekonomi padahal lebìh dalam rangka ekshibisi sosial.
aku bangga karena kami tak merasa minder bersendal jepit. Mondar-mandir tanpa es krim atau sepotong cokelat. Kami tak pernah benar2 tak terbiasa menikmati cemilan macam itu. Kami juga tak memimpikannya. Tak tahu kenapa. Mungkin saja karena kami orang desa.
Tapi kalau boleh membela diri bukan karena alasan itu kami tak bercokelat dan menjilat es krim. Kami muak dengan gaya hidup yang dibuat2. Kami muak dengan ekshibisi sosial yang keropos. Taruhlah di panggung begitu sempurna, di dapur mereka tak jelas rimba. Cantik sebab rajin ke salon. Mewah berandalkan kartu kredit. Impresif karena latihan/buatan. Tidak alami lagi.
Selasa, 03 Februari 2009
Jurnal
Salam!
Aku tak tahu hari-hariku dari posting terakhirku, ternyata tak ada perubahan. Aku pikir terlalu pengecut mengeluh terus. Tapi jika memang keluh itu pantas atau malah harus dituliskan, mengapa tidak?
Aneh, menyadari bahwa kita tak muda lagi, bukan anak-anak lagi. Sementara kita masih ingin menikmati kekolokannya dan bukannya jiwa petualangnya yang kita lestarikan. Aku sadar tulisanku bukanlah tulisan yang baik apalagi menarik. Tapi selain menulis, apa yang bisa dapat kita perbuat? untuk membesarkan hati kita(atau tepatnya saya). Maafkan dan sesungguhnya semua lucu!
Berbahagialah mereka yang mampu berbagì
Berbahagialah mereka yang mampu menanggung beban rahasia mereka
Atau berbahagialah mereka yang tak punya rahasia!
Aku tak tahu hari-hariku dari posting terakhirku, ternyata tak ada perubahan. Aku pikir terlalu pengecut mengeluh terus. Tapi jika memang keluh itu pantas atau malah harus dituliskan, mengapa tidak?
Aneh, menyadari bahwa kita tak muda lagi, bukan anak-anak lagi. Sementara kita masih ingin menikmati kekolokannya dan bukannya jiwa petualangnya yang kita lestarikan. Aku sadar tulisanku bukanlah tulisan yang baik apalagi menarik. Tapi selain menulis, apa yang bisa dapat kita perbuat? untuk membesarkan hati kita(atau tepatnya saya). Maafkan dan sesungguhnya semua lucu!
Berbahagialah mereka yang mampu berbagì
Berbahagialah mereka yang mampu menanggung beban rahasia mereka
Atau berbahagialah mereka yang tak punya rahasia!
Langganan:
Postingan (Atom)
