Minggu, 25 Oktober 2009

Manusia makin tak mengerti dirinya......ia makin terasing bersama dengan munculnya mesin2 yang merampas waktu2 kita, sehingga hidup terasa lebih singkat......walaupun kita sudah mengurangi jatah tidur kita, kita masih merasa kekurangan waktu saja, waktu seperti sepotong kue yang sudah kita tentukan porsi untuk masing2 kegiatan, dan waktu untuk bercengkraman dengan Tuhan terasa makin berkurang, menatap bintang ketika malam, berjalan kaki dengan menikmati angin malam dan lampu2 yang makin sendu. Merasakan hawa malam dengan keheningan mutlak, tanpa PC,hp,radio atau tv, misalnya. Kemewahan itu kini sudah tak mudah kita jumpai. Atau... memang kita yang makin enggan menemuinya. Entahlah.......

Saat2 kita berfikir tentang segala sesuatu yang sejatinya begitu dekat dengan kita.....Ayah, Ibu, saudara, tetangga, teman, pohon mangga di sebelah kamar kita, jendela kamar kita, tak lagi semenggoda berpikir atau teringat tentang idola, figure, ikon, simbol yang mewakili hasrat-hasrat kita.

Kualitas komunikasi yang makin ditunda. Ia pada akhirnya menjadi semacam komoditas yang bisa diperjual-belikan.......realitas makin dijauhkan, makin gemar terhadap manipulasi imej.Penundaan terhadap yang sebenarnya.Karena penyakit kita adalah haus akan citra, kesan, pujian, nama baik, gengsi dan...(apalagi?)

FIlm itu...


3 Cinta 3 Do’a

Ini termasuk katagori film tahun lalu. Tapi aku baru menontonnya sekitar 1 bulan yang lalu ini. Film yang menceritakan lika-liku kehidupan 3 santri yang memiliki harapan/doa berbeda serta beberapa romansa kehidupan pondok pesantren tradisional tampak real dan mewakili sisi kehidupan pesantren. Genjringan/terbangan/rebanahan, sholawatan, pinjam meminjam baju. Plus keluar pondok pada malam hari untuk sekedar ngopi atau jajan di warung, meiril, dan sandal jepit. Dihukum nimba air, atau sholawatan sambil berdiri. Bayangkan kalau saja ini di India. Bakal banyak film yang serupa/ satu tema muncul bersamaan. Tak heran kita lebih kenal nama2 Raj, Kiran, Sunil, Suraj atau paling popular Tuan Takrur. Kita juga ngerti mahendi, tradisi memakaikan rakhe, ataupun. Kalimat2 “Inspektur!”. “keberatan yang mulia!” dll. Kita punya budaya pesantren dengan romantikanya yang beragam tapi kok ya jarang banget yang mengangkat tema itu. Kita punya banyak ragam budaya. Tidak hanya dunia pesantren. Dunia karang taruna misalnya. Dunia arisan di desa. Dunia pasar tradisional. Dunia angkutan umum dan bis kota( maksudnya seputar romansa kernet dan supir dan penumpangnya, sejauh ini yang saya tahu baru ada 'Ramadan Dan Ramona). Romansa pengemis dan pengamen Sementara dunia klenik seputar pocong dan kuntilanak direpetisi terus menerus. Hingga membuat kita bosan dan mual.
Kembali ke 3 Doa 3 cinta…..hakim mengajak para alumnus santri untuk bernostalgia bersama bagi mereka yang akrab dengan dunia pesantren itu akan pasti akrab dengan cara2 santri ataupun pak kyai meletakkan dan menyimpan uang. Dipeci, di gulung diikat pake gelang karet. Atau merokok satu batang beramai-ramai. Makan di warung desa. Kabur di tengah malam. Dihukum menimba air atau mengisi kulah. Nggak boleh membawa barang2 elektronik semisal radio dan handphone( untuk jaman sekarang .tetapi tentu saja ini hanya tertentu karena sekarang saja sudah bermunculan kisah anekdotal seperti :kyai sekarang bukan lagi tasbeh yang dipegang buat wiridan melainkan handphone) . atau lihatlah percakapan ironis antara Syahid dan Ryan ketika mereka berebut gelombang siaran radio dan hampir saja kepergok kakang2 (semacam Lurah pondok) yang sedang berpatroli.
“ Dari dulu peraturannya kok sama, kapan majunya”. Kita tahu komentar2 yang satu nada dengan Ryan kadangkala malah dilontarkan oleh mereka yang malah tidak memaksimalkan sebuah fasilitas alat teknologi dengan baik( sekedar mendengarkan dangdutan adalah hiburan). Sebuah alasan yang logis untuk membenarkan tindakan yang cenderung /dalam rangka bersenang2. seductive.
“mau pinter? Baca buku.” Jawab Syahid yang notebene memanfaatkan siaran radio untuk mendengarkan berita.
Kita yang terbiasa dengan cara pandang dikhotomis, oposisi binner, hitam-putih selalu beranggapan bahwa tidak memakai berarti menolak.
Memilih untuk tidak memegang hp, tidak memiliki televisi, tidak memakai kendaraan pribadi bukan berarti menolak teknologi. Dan memilih memiliki computer, berlangganan koneksi internet, memakai celana jins juga belum tentu akan berarti lebih maju dari mereka yang masih bersarung dan memakai rok longgar. Maju dan tidaknya peradaban seseorang bukan bergantung pada kuantitas seberapa banyak mereka miliki dan menggunakan high tech . Tapi seberapa dalam manfaat yang mampu mereka raih dari teknologi2 itu bagi kemanusiaan. Bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan masyarakat sehingga mampu menjadi penyokong setitik konsep agung rohmatan lil’alamin.
Akhirul kalam, 3 Do’a 3 cinta cukup mengusik benak saya untuk menulis diblog ini ( wew, apa hubungannya?).

Sabtu, 24 Oktober 2009

Perdebatan itu memintarkan. Konflik itu mendewasakan. Kata kawan saya. Tapi saya ragu. Karena saat berdebat tidak ada arahnya. Arahnya hanya memenangkan salah satu pihak atau menyatukannya. Saya, hanya diam. Walau cukup banyak antagonisme, antitesa, sintesa, muncul dalam kepala saya. Saya terdiam bukan karena saya merasa melampaui mereka yang berdebat. Tapi lebih dari itu, biasanya setelah mengeluarkan pendapat yang muncul adalah rasa gagah-gagahan. Siapa mengungguli siapa. Ajang unjuk diri. Akhirnnya yang terjadi adalah merayakan, membanggakan, menyombongkan debat itu sendiri. Tanpa bena-benar ada usaha “mencari”.

Minggu, 11 Oktober 2009

Sering kali kita salah paham atau bahkan terkecoh. Orang pintar kita kira bodoh,orang bodoh kita anggap pintar. Mereka yang tampak selalu riang dianggap tak pernah atau jarang mendapatkan kesusahan. Sementara orang yang selalu tampak murung, sendu, kita kira memiliki banyak penderitaan. Sama juga saat kita membaca tulisan/ sebuah karya dari seseorang.Apakah orang yang memiliki gaya penulisan saarkatis tidak memiliki keramahan sama sekali tau apakah gaya tulisan merupakan cermin dominan dari watak penulisnya?

Atau….apakah orang yang tampak begitu riang dan humoris tidak memiliki sisi kelam, dan tanpa keseriusan yang dalam. Barangkali pribadi itu hanya pelengkap dari kepribadian kita sehari2. Ia yang setiap hari mampu membagi tawa dan lelucon, dengan cara itulah dia mengatasi kegundahan hatinya. Atau ia yang selalu tampak murung dan serius, kadangkala untuk melengkapi humor dan keriangan yang terlalu banyak ia lihat, ia nikmati, ia rasakan namun lenih sering tampak palsu di depan matanya.
Ia yang sering kita lihat tampak begitu dangkal padahal kerena dia terbiasa dengan pembahasan dan pemikiran yang dalam sehingga saat dibutuhkan dalam keseriusan ia tidak kaget, tanang tampak dataran. Mereka yang terlihat amat pintar, terpelajar dan terdidik kadangkala hannya pemolesan “kemasan” saja. Kita lebih senang melihat karakter manusia secara linier, parsial, dangkal, apa yang tampak dipermukaan saja. Atau merasa mengetahui orang lain dengan baik sementara kita sendiri tak memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang diri kita. Kita merasa cukup mengenal kawan/ kenalan/ orang sekitar kita dari reportase dan apa yang mereka ceritakan tentang diri mereka. Kamu siapa? Aku blab bla bla. Sehingga terkecoh dengan citraan yang mereka sajikan, tak mampu membaca kalimat yang tersirat, tertahan, ditutup-tutupi, malas memperhatikan. Atau, memang hanya “segitu” gambaran yang mampu kita tangkap?

Minggu, 04 Oktober 2009

Kenapa selalu ku kais sesuatu yang usang…?
Hmmm…jejakmu…aku sabar meruntut waktu. Sebab penantian yang berdebu adalah kerja bertuju. Walau karat keheningan malam. Ia seperti biasanya mengajari ketelitian. Dalam pesta pora apa yang dijanjikan???!!! Sejuta tawa dan harus dibayar dengan kehampaan. Tidak, tidak!!!

Kawan, kita hanya berkenalan dalam mabuk kata tak lebih dari itu igauan persepsi yang bersebrangan. Nyalimu adalah bersahabat dalam kehadiran zat dan aku dalam rindu yang menguatkan tekad tertentu, tentu kau tak puaskan itu. Maka, aku bukan kawanmu paling, apalagi mengenalimu. Aku hanya pengembara yang kebetulan istirah bersama. Kawanku, pengembara pula yang tak candukan pora.
Karena pahit tak layak dibagi
Sedang yang manis datang dari tangan yang saling menggenggam………
Dan makna terdalam hidup sejauh yang kuselami/ ketahui. Ialah sepi!

Kata puisi "aku kagum pada mereka yang mabuk sepi”
Kata filsuf “reaksi terhadapnya adalah karya”

Arsip Blog

Cari Blog Ini