Sembilu Panjang Dewa Pedang
Malam di saat kita saling menikam
Pada rasa sepi tak berperi
Aku berdiri di ujung jalan dengan mata nyalang
Menutupi derita batin
Kerena kabar engkau wahai sang dewa pedang
Menuntaskan dendam dari kata2 maha derita
Malam, Kawan!
Ketika kubagi perasaan dingin dan menggigil
Di antara beku tulang sampai empedu
Aku tersedu tanpa suara memungut kata, menatanya
Menjadi arti yang sulit aku ingkari
Malam, Sobat!
Disaat rahsa sekarat mengecap manisnya kalimat
Ada yang kocak dari mainan pedangmu
Tapi jariku tak bisa menarikan satu huruf kuda-kuda
Sehingga senyum kita tertengguhkan di gurun penantian
Malam, Malam!
Apa karena kita sama-sama sakit
Saling menghujamkan pedang paling tajam
Saling mainkan jurus paling pikat
Lalu melepahkannya pada dahan kering dengan serunai amin
Tanpa lambung kita tersayat, tetapi sekarat kita pada kebisuan pongah!
Di setapakku, aku ingin mengenal diriku
Disetapakku, aku juga bertemu engkau
Dalam gelap mata, hanya kerdip kasih yang remang
berlalu
!
~terima kasih padamu, 'peniup salju'~
Minggu, 31 Januari 2010
Kamis, 28 Januari 2010
Sebuah Catatan Yang Tiba-Tiba
~Ada kecoa yang tidak diharapkan kedatangannya ketika bianglala menyapa…~
Usia makin senja ditanah jalang ini. Bunda…namamu yang setiap kali diucapkan anak2nya begitu merdu. Karena kau adalah puisi masa lalu yang selalu kini. Anak yang jantanpun mengharap sorgamu dan ajaran cintamu ketika ia ingin menaklukkan betina. Apakah ia sudah garang karena tetesan vodka yang menggoda kepala dan lidahnya tiap kali ia melintas pada gemerlap malam dengan cahaya tiruan untuk menetaskan kata dan meracik getaran derita dan kesenangan yang selalu merangsang kelelakiannya. Atau mereka yang setia pada ajaran kemurnian sehingga cahaya bintang dan kelam malam lebih memabokkan, dzikir cinta mendidihkan dada karena rindu yang begitu menderu tanpa ada pelampiasan selain pada doa-doa dan puja dan disitulah ia bertemu syair dan kata2kata, lugu namun tuju.( lalu berkata; “Manisku”) Melebihi kemilau memabukkan kerlingan cahayan cawan2 anggur dalam club2 yang memabukkan.
Bunda…kata mereka dan juga aku. Mana restumu tentang sekeping kebahagiaan yang telah pecah bersamaan dengan air ketuban yang kau taburkan dalam hidupku yang berasal dari kerapuhan seorang anak?
Bunda….kayakan ‘ya’ pada pemberontakannku…yang menggigil karena ketidak adilan dan kecerobohan kemarahan cara kerja mesin polotik dan kekuasaan yang sampai sekarang aku masih benci mengenang paksaan mereka terhadap pilihan yang bukan pilihan.
Bunda…kini aku tersedu pada sebuah kecelakaan tentang harapan yang menukik dengan pilu. Aku melesat dengan harapanku tapi aku terjembab pada panorama goda yang menjelma bianglala.
Bunda….kutahu pelangi sejati itu ada dalam telapak tanganmu.
Tetapi aku lalai, sama seperti lalainya kanak2 dalam dongeng2 yang seharusnya membawakan makanan pada ayahnya yang bekerja. Aku lalai pada 9 bulanmu mengandungku. Dan kau begitu rajin merapal harapan dalam jaga malam yang paling magis. Pada detik2 bibirmu berdoa sehingga Tuhan meneteskan Kun, dari FayakunNya….
Aku juga lalai pada langkah2mu bersenandung dalan jagat kecilku, membawa gairah dunia. Lidah yang mengecap anugerah Tuhan dan lidah yang melafal pesona Ilah….
Bunda….bahkan aku sudah lupa ketika kau sibuk mengusir kecoa,
Anakmu malah menikmati bianglala….
Usia makin senja ditanah jalang ini. Bunda…namamu yang setiap kali diucapkan anak2nya begitu merdu. Karena kau adalah puisi masa lalu yang selalu kini. Anak yang jantanpun mengharap sorgamu dan ajaran cintamu ketika ia ingin menaklukkan betina. Apakah ia sudah garang karena tetesan vodka yang menggoda kepala dan lidahnya tiap kali ia melintas pada gemerlap malam dengan cahaya tiruan untuk menetaskan kata dan meracik getaran derita dan kesenangan yang selalu merangsang kelelakiannya. Atau mereka yang setia pada ajaran kemurnian sehingga cahaya bintang dan kelam malam lebih memabokkan, dzikir cinta mendidihkan dada karena rindu yang begitu menderu tanpa ada pelampiasan selain pada doa-doa dan puja dan disitulah ia bertemu syair dan kata2kata, lugu namun tuju.( lalu berkata; “Manisku”) Melebihi kemilau memabukkan kerlingan cahayan cawan2 anggur dalam club2 yang memabukkan.
Bunda…kata mereka dan juga aku. Mana restumu tentang sekeping kebahagiaan yang telah pecah bersamaan dengan air ketuban yang kau taburkan dalam hidupku yang berasal dari kerapuhan seorang anak?
Bunda….kayakan ‘ya’ pada pemberontakannku…yang menggigil karena ketidak adilan dan kecerobohan kemarahan cara kerja mesin polotik dan kekuasaan yang sampai sekarang aku masih benci mengenang paksaan mereka terhadap pilihan yang bukan pilihan.
Bunda…kini aku tersedu pada sebuah kecelakaan tentang harapan yang menukik dengan pilu. Aku melesat dengan harapanku tapi aku terjembab pada panorama goda yang menjelma bianglala.
Bunda….kutahu pelangi sejati itu ada dalam telapak tanganmu.
Tetapi aku lalai, sama seperti lalainya kanak2 dalam dongeng2 yang seharusnya membawakan makanan pada ayahnya yang bekerja. Aku lalai pada 9 bulanmu mengandungku. Dan kau begitu rajin merapal harapan dalam jaga malam yang paling magis. Pada detik2 bibirmu berdoa sehingga Tuhan meneteskan Kun, dari FayakunNya….
Aku juga lalai pada langkah2mu bersenandung dalan jagat kecilku, membawa gairah dunia. Lidah yang mengecap anugerah Tuhan dan lidah yang melafal pesona Ilah….
Bunda….bahkan aku sudah lupa ketika kau sibuk mengusir kecoa,
Anakmu malah menikmati bianglala….
Selasa, 19 Januari 2010
Konstelasi Imaji
Ini bukan soal saya punya banyak imajinasi. Tapi ini soal teman2 di facebookku yang memberikan aku banyak imajinasi lewat tulisan2 status mereka. Ataupun catatn dan data2 mereka. Ehmm… kayaknya aku harus ngeralat posting yang kemaren deh yang menjustifikasi kalau tulisan status itu cenderung dangkal. Kalau aku menilai dangkal mungkin itu dikarenakan oleh
1. Kedangkalan atas penilaianku terhadap teman2
2. Mereka memang sedang berkamuflase agar tidak tampak ataupun menonjolkan kepintaran mereka. Ataupun kalau mereka tampak pintar, itu belum seberapa dari kemampuan mereka yang sesungguhnya. Tahu sendirilah kalau orang pintar itu ya gak mungkinlah menonjolkan kepintarannya
Jadi malu neh….
Padahal banyak kawan2 facebookku yang pinter beneran loh.
Kembali ke masalah citraan. Aku memang masih punya analisis yang serampangan terhadap seonggok citraan yang belum tentu representasi dari keadaan mereka yang sesungguhnya. Nah lu! Mungkin kawan2ku akan mengatakan. I am more than what u think. Atau I am not what u guess. Oke. Aku paham. Apalagi dengan tingkat analisisku yang masih serampangan jelas yang semua aku baca dari mereka cuma representasi keserampanganku.
Yah, mohon dimaklumilah. Terus kadangkala aku sking asyiknya dengan tulisan2 mereka sampai2 aku browsing dengan apa yang mereka tulis. Dan masyaallah aku malu sekali ketika mendapati kawan2ku menulis sesuatu yang mereka kutip dari buku2 tertentu. Yah…ternyata mereka sudah banyak membaca dan aku malah tahu judulnya saja enggak. Atau mereka yang melek berita2 aktual lalu menuliskannya di status mereka. Dan alamak aku malah belum membaca judulnya mereka sudah mengupasnya di facebook( ketahuan deh telatnya gue!). aku jadi ngiri karena itu aku browsing masalah yang mereka tuliskan. Malu aku. Anak baru kemaren sore aja udah pada pinter nulis dan menganalisis kok aku ya stagnan dan jalan ditempat. Nah aku jadi banyak belajar kan?
Adapun kenapa aku jarang nulis status aku malu sama aku sendiri karena aku. Tak punnya@ kegiatan yang pantas dituliskan@ perasaan yang indah untuk ditungkan@ atau kata2 manis dan bijak. Ya sudah aku biarkan saja. Ah gak harus selayak kualitas2 itu kok! Yah, tapi aku kan tergolong inferior complex yang agak sombong ataupun yang oleh psikoanalisa disenut terserang narsisme negative. Jadi wajar aja aku gak pede.
Selamat menulis status buat kawan2 di face bookku, terima kasih telah menghadirkan konstelasi imajinasi lewat huruf2 itu… I owe u all…
1. Kedangkalan atas penilaianku terhadap teman2
2. Mereka memang sedang berkamuflase agar tidak tampak ataupun menonjolkan kepintaran mereka. Ataupun kalau mereka tampak pintar, itu belum seberapa dari kemampuan mereka yang sesungguhnya. Tahu sendirilah kalau orang pintar itu ya gak mungkinlah menonjolkan kepintarannya
Jadi malu neh….
Padahal banyak kawan2 facebookku yang pinter beneran loh.
Kembali ke masalah citraan. Aku memang masih punya analisis yang serampangan terhadap seonggok citraan yang belum tentu representasi dari keadaan mereka yang sesungguhnya. Nah lu! Mungkin kawan2ku akan mengatakan. I am more than what u think. Atau I am not what u guess. Oke. Aku paham. Apalagi dengan tingkat analisisku yang masih serampangan jelas yang semua aku baca dari mereka cuma representasi keserampanganku.
Yah, mohon dimaklumilah. Terus kadangkala aku sking asyiknya dengan tulisan2 mereka sampai2 aku browsing dengan apa yang mereka tulis. Dan masyaallah aku malu sekali ketika mendapati kawan2ku menulis sesuatu yang mereka kutip dari buku2 tertentu. Yah…ternyata mereka sudah banyak membaca dan aku malah tahu judulnya saja enggak. Atau mereka yang melek berita2 aktual lalu menuliskannya di status mereka. Dan alamak aku malah belum membaca judulnya mereka sudah mengupasnya di facebook( ketahuan deh telatnya gue!). aku jadi ngiri karena itu aku browsing masalah yang mereka tuliskan. Malu aku. Anak baru kemaren sore aja udah pada pinter nulis dan menganalisis kok aku ya stagnan dan jalan ditempat. Nah aku jadi banyak belajar kan?
Adapun kenapa aku jarang nulis status aku malu sama aku sendiri karena aku. Tak punnya@ kegiatan yang pantas dituliskan@ perasaan yang indah untuk ditungkan@ atau kata2 manis dan bijak. Ya sudah aku biarkan saja. Ah gak harus selayak kualitas2 itu kok! Yah, tapi aku kan tergolong inferior complex yang agak sombong ataupun yang oleh psikoanalisa disenut terserang narsisme negative. Jadi wajar aja aku gak pede.
Selamat menulis status buat kawan2 di face bookku, terima kasih telah menghadirkan konstelasi imajinasi lewat huruf2 itu… I owe u all…
Langganan:
Postingan (Atom)
