<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957</id><updated>2012-02-09T07:29:31.230+07:00</updated><category term='28 Januari 2009'/><category term='Subuh yang selalu aduhai'/><category term='26 Januari 2009'/><category term='Desember Terbenam'/><category term='27 Jan &apos;09. 22:09'/><category term='Jum&apos;at Yang Selalu Keramat'/><category term='Januari 2009'/><category term='Jelang subuh'/><category term='Sore'/><category term='Catatan ringan'/><category term='aku dan kawan'/><category term='3 Februari 2009'/><category term='proMezzo'/><category term='Maret 2005'/><category term='lima tahun silam dengan sedikit perubahan'/><category term='nyampah'/><category term='cerita-cerita habis lebaran'/><category term='Ziarah Batin'/><category term='gertakan hati'/><category term='selembar ingatan'/><category term='narasi spontan ketika menerima pesan pendek dari seorang kawan'/><category term='Pagi tanpa Secangkir Kopi.'/><category term='May day'/><category term='racauan'/><category term='riang-gembira'/><category term='2008'/><category term='postlude'/><title type='text'>Dedaun</title><subtitle type='html'>melontar koar, di tepi titian</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anisah-anser.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>185</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-898465648916220118</id><published>2012-02-04T06:50:00.005+07:00</published><updated>2012-02-04T08:07:28.879+07:00</updated><title type='text'>Birokrasi</title><content type='html'>Siapa yang senang katika mendengar kata yang satu ini. Bayangan kita, kesan kita, bahkan pengalaman kita tak perenah manis manakala berhubungan dengan aparatus  negara. Setiap kita berhubungan dengan mereka adalah sekerut kening, sederet gerutu batin dan beberapa umpat di belakang  kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birokrasi tak pernah salah. Kesalahan mereka, selalu warga yang tanggung.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kan &lt;/span&gt;warga yang berkepentingan, begitu pikiran najis itu sudah menjidat. Tetapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toh&lt;/span&gt; , para birokrat asik-asik saja, sekalipun mereka tahu tindakana mereka selalu kurang menyenangkan, prosedur yang mereka mainkan selalu jauh dari kepuasan warga. Bahkan mereka seolah ingin mengabadikan anggapan itu.  Mereka mempersulit, berbelit-belit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelecehan mereka lakukan  sebagai  guyonan. Seperti karena terlalu lama dan bertele-tela  tentu saja kita mendesak dan selalu menemui birokrat yang bersangkutan, namun birokrat lain yang parahnya berkelamin sama dengan warga yang sedang berurusan dengan birokrasi berceletuk ; duh, pakai parfum apa sih, Mas, sampai-sampai dikuntit wanit terus-terusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya kata-kata, kata mereka  begitu pemaaf dan memiliki cita rasa humor yang ketinggian. Tetapi tahukah mereka "dikuntit" karena teledor dan ayem-ayeman begitu.  Sementara si pemohon, warga yang ingin dilayani, sedang dalam urusan yang cukup mendesak dan penting.&lt;br /&gt;Tentu kita sudah kenyang dengan segudang cerita konyol senada. Sebab dari tingkat desa, sistem calo diadopsi oleh birokrasi pun kelewat berlakunya. Mereka belajar dari preman jalanan.  Masih terngiang jelas saat seorang presiden yang diimpeachment di negeri ini sampai berceletuk kira-kira demikian; “negara ini adalah negara preman,” di sebuah lawatan di negeri zionis sana.  Mungkin yang dimaksud adalah birokrasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita seperti tak memiliki wadah untuk protes. Hanya bisa menjadi semacam masalah bersama yang harus diterima sebagai nasib yang tak bisa diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu cerita lain mengenai berbelitnya birokrasi adalah meraka mewakili sebuah pemerintahan yang mengaku “peduli”.  Awalnya  tak ada keinginan berurusan dengan pemerintahan di setiap kegiatan bagi kelompok ini.  Apalagi sampai mengemis hingga kudisan. Toh, selama ini kegiatan terus berjalan dengan baik, dengan sumber daya seadanya. Namun ketika pemerintah  campur tangan. Mereka tersulut  emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tahu, kegiatan dan kelompok ini  terdaftar atau didaftarkan dalam penerima sumbangan dana sosial tahunan dari pemerintah kabupaten.  Sebagai penghormatan dari aparat yang peduli hingga mendaftarkan itu,  kelompok ini menghargainya dengan menindaklanjuti dengan pengurus ini itu. Sekalipun kita tahu, menerima dana dari pemerintah mau tidak mau harus  jadi pengemis dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tampak mudah. Namun benar saja, pada akhirnya berbelit dengan segudang pelecehan dan seringai pegawai survei.  Sekalipun kita menenangkan diri dan emosi dengan berkata pada diri : kami tidak pernah meminta, urusan masuk kualifikasi atau tidak itu buka urusan kami.&lt;br /&gt;Mereka melakukan survei dengan cekikikan. Survey itu layaknya pegawai bank yang ingin cross check terhadap pemohon utang.  Padahal kami tak meminta didaftar. Survei itu seringai sombong para orang tolol yang merasa pintar. Kalau sudah terdaftar dan masih meragukan kegiatan kami? Kenapa harus ada dana tahunan semacam itu? Kalaupun kami dianggap fiktif hanya karena tidak memiliki plang. Kenapa  tercantum dalam daftar? Dicoretpun kami siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasangka buruk terbenak; semakin banyak kegiatan, semakin banyak uang jajan. Makanya sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah, sengaja diperlama dan dipersusah. Toh duit tinggal minta sama pemerintah, begitu mungkin pikir mereka yang butuh uang tambah.   Setelah beres melalui “transaksi” data secara digital, kami masih juga disuruh menyelesaikannya secara manual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mbok yao, &lt;/span&gt;audit dan survey tidak dilakukan hanya karena dana akan cair.  Sehingga pemantauan dan perhatian itu terlihat sungguh-sungguh dan bukan lantaran ada duit yang akan mengalir sekaligus takut akan kecolongan dana. Kepedulian itu bukan segepok duit, bukan selintas audit dan bukan serentetan kerumitan. Kalau mereka menyeringai, kita juga bisa mnyeringai sinis ; emang mau kasih berapa sih, ini orang berbelit-belit dan memposisikan kami layaknya pengemis dana.  Seperti yang tuan-tuan tahu, plang saja kami tak punya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran manakala  prasangka tumbuh subur; mengapa mereka ngotot sembari mengucurkan pelecehan; barangkali biar depertemen sosial tidak dibubarkan dan kelihatan  ada kegiatan yang itu sama dengan tersedianya   'sripilan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan tuna pun butuh teri untuk menjaga eksistensinya dari ancaman hiu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-898465648916220118?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/898465648916220118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/898465648916220118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/02/birokrasi.html' title='Birokrasi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2112974432522454044</id><published>2012-02-03T16:03:00.009+07:00</published><updated>2012-02-03T16:49:13.234+07:00</updated><title type='text'>Tiruan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Agaknya penyakit pascakolonial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;inferior complex&lt;/span&gt; alias minder&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diidap bangsa ini, masih belum terbilang membaik, bahkan cenderung memburuk. Enam puluh tahun lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita merasa  merdeka secara fisik. Namun tampak jelas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kolonialisasi internal berhasil terus mencengkramnya. Penjajahan laten yang lebih bahaya dan lebih menakutkan. Lebih mengguncang iman, dan lebih memabukkan daripada kemerdekaan itu sendiri. (slogan banget neh!)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Apalagi ketika para pemimpin sudah dengan sukarela menjari mitra dan "tong sampah"  pembuangan budaya-budaya  Barat . &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Anggota parlemen dan dewan sudah merasa bak bangsawan yang manja &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menuntut fasilitas, sampai-sampai urusan belanja rumah tangga saja jadi skandal. Kehidupan mereka yang tidak prinsipil dibuka seperti sirkus dan tontonan menyaingi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;program acara komedi di televise yang seringkali melecehkan tampang fisik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Konser penyanyi-penyanyi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;impor maraja, musikalitas dan budaya pop &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimitasi. Mengkopi dan mengepas sudah sangat lumrah. Dan sederet gaya hidup kelas atas digelar murah bak tontonan badut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untunglah, kita masih bisa tergelak melihat tingkah wakil rakyat yang masih juga seperti anak taman kanak-kanak. Kita masih punya dunia "maya" yang bisa menampung sumpah serapah kita. Kita masih bisa pura-pura peduli, pura-pura marah dan pura-pura cinta pada Indonesia. Sambil sesekali kita mengekor dengan bangga gaya hidup para elit eksosbud di negeri ini yang sudah jadi pengekor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fashion dunia Barat. Siapa tahu kita dapat kesempatan untuk kaya dan bisa mencicipi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gaya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;baru bangga kalau cara berpakian kita mirip orang luar (yang seringkali berarti Amerika dan ibu kandungnya, Eropa), nama kita kebarat-baratan dan bahas asing kita lancar. Makanya kita demen sinetron yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;wajah pemainnya kebanyakan hasil persilangan yang kekerabatannya jauh, hibrida, blasteran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita demen infotainment yang artisnya berbicara dengan bahasa bule sepenggal-sepenggal. Kita demen makana yang namanya saja sangat asing di telinga. Padahal terkadang lidah kita sedikit menolaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semua produk hampir memiliki tiruan, atau dalam istilah tanah abang atau pasar glodok ada satuan imitasi  semacam KW.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sekalipun kita tak menikmati produk mahal para delegasi merk impor itu, kita masih bisa menikmati &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;imitasinya. Gradasif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Benak saya memunculkan tanya yang mungkin sudah terulang di memori siapapun yang terusik dengan kejomplangan gaya hidup yang telah menggiring bangsa ini rajin dan giat memelihara budaya koruptif akibat dorongan libido konsumsi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kapan kita setidaknya mengiki sedikit jejak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang kebanyakan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika kita ikut latah berbincang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;OWS, nampaknya hanya sebagai wacana saja, namun ada hal substansif dari OWS yang mempu membuat kita bisa bertindak secepat mungkin. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Membalik &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kebiasaan warga sembilan puluh sembilan persen yang mati-matian meniru si satu persen. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekalipun kemiskinan itu tidak boleh didewakan, namun bukan berarti jalan kesederhanaan tertutup. Kita tak mungkin menyerukan gaya busana tukang becak yang memakai baju “dinas” kaos partai yang dibagikan cuma-cuma tanpa harus terbebani memilih partai yang member kaos ( itung-itung mutualisme; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;abang becak dapat kaos gratis, tim sukses suatu partai bisa pasang iklan dan poster efektif tanpa dibebani pajak). Kita mungkin juga tak beralih makan singkong dan menuntut pemimpin negara ini memakai kendaraan produksi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;anak negeri. Apalagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngangkot&lt;/span&gt; atau jalan kaki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kerana riwayat peniruan yang baik, selain mencontek kehidupan papan atas, bukankah kita juga bisa mencoba meniru kehidupan papan bawah, atau lebih tepatnya penyelarasan kehidupan rakyat kebanyakan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ah, iya, tetapi kita juga dikenal pemalu juga! Kita malu bila tetangga bergunjing membicarakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kekurangan penampilan kita. Kita juga gampang panasan tatkala tetangga beli perabotan baru yang lebih mahal. Maka mustahil seorang kepala daerah yang mampu mempromosikan produksi kendaraan selayak mainan dan perakitan tamia ditiru oleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sang Jenderal yang begitu peduli dengan citra dan wibawa .&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gosipnya, ia malah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ingin beli pesawat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seharga setengah miliar untuk kendaraan dinas kebesaran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan cerita pemimpin hebat yang tak pernah malu hanya karena perbedaan tata cara makan , tak mungkin bisa masuk dalam daftar sesuatu yang layak ditiru. Lanataran ia adalah menlu dari sebuah negeri yang rakyatnya belum mengenal sendok dan garpu, tentu saja biasa bertamu dan kedatangan tamu. Makan semeja dengan pemimpin dan perwakilan berbagai negeri dan tetap menggunakan tangan langsung tanpa sendok, garpu apalagi pisau. “My hand is clean,” jawabnya tatakala&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tamu negara atau tuan rumah di suatu negara yang ia kunjungai bertanya mengapa. Masuk akal. Kalau tangan kita bersih kenapa harus memakai sendok dan garpu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mungkin sangka kita,  Haji Agus Salim muslim alim karena itu ia mengikuti sunah nabi. Tetapi pertimbangan bisa jadi lebih dari itu. Sebab di  saat negeri tempat ia menjadi salah  satu pemimpin yang  baru dua atau lima tahun merdeka,  rakyatnya masih banyak yang makan  pakai  tangan dan hanya segelintir yang makan pakai sendok, apalagi garpu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2112974432522454044?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2112974432522454044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2112974432522454044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/02/tiruan.html' title='Tiruan'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3653678934396804136</id><published>2012-02-03T08:30:00.004+07:00</published><updated>2012-02-03T08:40:40.533+07:00</updated><title type='text'>Denting yang Tak Asing</title><content type='html'>Sejak dulu, di nada pembuka tiap paginya&lt;br /&gt;Si bocah berpikir dia lahir dari gambang asamarandhana yang menyimpang&lt;br /&gt;Sebab bapak pembangkang zaman dan  ibu setali tiga uang&lt;br /&gt;Sehingga ia selalu terbahak nyalang di jalan-jalan&lt;br /&gt;Saat bertemu kerumunan kehangatan buatan&lt;br /&gt;Sementara kerabat   dibiarkan asik mengusik&lt;br /&gt;Dengan ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan&lt;br /&gt;Teguh turun temurun dari nenek moyang&lt;br /&gt;Serta kebenaran yang rawan digoyang-goyang keraguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, si bocah juga mengidap perasaan entah&lt;br /&gt;Lari ke persimpangan dan murtad dari ajaran rumah dan sekolah&lt;br /&gt;Meneriaki diri dan kegelapan yang selalu mengitari&lt;br /&gt;Merasa asing dengan senyum kepuasan  di bibir ibunya&lt;br /&gt;Merasa dikhianati kegelisahan malamnya&lt;br /&gt;Merasa tak bisa terbahak  di anatara semua saudara&lt;br /&gt;Dan hilang rasa heran pada bapaknya&lt;br /&gt;Yang lurus menembus gugus pikir arus&lt;br /&gt;Hilang nyalang kegagahan menantang&lt;br /&gt;Lamunan dan nyanyian ketakutan&lt;br /&gt;Pada keterkucilan dan ketakmapananan&lt;br /&gt;Meski dawai dimainkan membunyi&lt;br /&gt;Denting yang tak lagi asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;05012012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3653678934396804136?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3653678934396804136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3653678934396804136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/02/denting-yang-tak-asing.html' title='Denting yang Tak Asing'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5341050636125542837</id><published>2012-02-03T06:02:00.018+07:00</published><updated>2012-02-03T06:41:36.183+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Kayaknya kamu cocok sama ustadz.."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Enak saja, saya tak pernah punya niat punya pasangan ustadz." &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ujaran tersebuat tentu memiliki alasan. Sebab sebuatan ustadz sedang mengalami polusi; seorang selebetris atau seorang yang mencari uang dengan pengajaran agama atau baca tulis al-Qu'an, berdakwah dengan tarif sekian, dan seruan-seruan merdu atas nama agama yang sayangnya sering minim tauladan elok. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;**&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Apa persamaan ustad sama seniman?"&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Dua-duanya suka pamer."&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Masak sih? Pamer apaan?"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  "Yang satu pamer kealiman yang satu pamer kebajingan-an(ke-urakan-annya)    &lt;p class="MsoNormal"&gt;"Jadi mending seniman ya? Mereka pamer kebangsatan demi memperoleh kealiman batin, semenatara ustadz memamerkan kealimanan batin demi pengakuan dhahir (konkrit)"&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;"Kalau dosa dan pahala hanya dilihat dari tujuan saja dan bukan cara."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5341050636125542837?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5341050636125542837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5341050636125542837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2247053924107698344</id><published>2012-01-30T11:49:00.001+07:00</published><updated>2012-01-30T12:12:36.928+07:00</updated><title type='text'>Perempuan  Penyongsong  Malam</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;                                                                                               untuk  Nyonya M&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;hidup bagimu adalah tunduk&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;pada nasib dan kata tetua&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;setelah engkau berhasil mendapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tepat sepakat adat&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;namun hanya karena sejak kecil tak kau menenggak&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;kasih dan buaian ibu-bapak&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tak berarti kau berhenti&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; mencari huruf yang menari dalam sunyi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;meski&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kau gagal mengeja&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;melontarkan bahasa&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;namun dengan ujung kain&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;yang biasa kau pakai untuk menyeka air mata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;merembas suatu pengertian sepadan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tanpa bisa diutarakan kepada tetangga&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;hanya alam yang memanjamu dengan guman bisu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dan hening dingin malam membuat rumahmu terlelap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;menyongsong kebebasan untuk sekedar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membenak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tanpa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bentak dan sebentar-sebentar aturan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;norak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;getir permusuhan purba&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;anatara ibu dan para  saudara dari lelaki yang kau persuami &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;a&lt;/span&gt;tas dasar yang engkau sendiri tak pernah ingin mengerti&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2247053924107698344?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2247053924107698344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2247053924107698344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/perempuan-penyongsong-malam.html' title='Perempuan  Penyongsong  Malam'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4262465539753805369</id><published>2012-01-29T06:40:00.006+07:00</published><updated>2012-01-29T07:15:13.686+07:00</updated><title type='text'>Khayalan</title><content type='html'>&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;&lt;/w:alwaysshowplaceholdertext&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:lidthemecomplexscript&gt;&lt;/w:lidthemecomplexscript&gt; &lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:cachedcolbalance&gt;&lt;/w:cachedcolbalance&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beberapa tahun yang silam, dua bocah yang lagi ngalami pubertas berangkat ke sekolah bareng dan jalan kaki, tiba-tiba seorang remaja cewek cantik dengan motor mulus melintas. Mata mereka tak bisa lengah ke    arah pandangan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Kalau tiba-tiba kau dapat duit tujuh juta, kamu mau beli apa?” ujar bocah yang satu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Heh, apa? Kalau kamu sendiri?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Aku mau beli motor yang kayak itu tadi. He he he, rumahku kan jauh dari kota. 'Tar aku tebeningin kamu  kalau kamu kemana-mana ” berderai tawa si bocah tadi. “kalau kamu apa?!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Aku mau beli buku yang sekarang cuma kita kenal judulny saja. ‘Tar kamu juga tak tebengin baca dah. Ha ha ha”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dua bocah yang lagi puber itu tertawa berderai. Mereka sedang belajar menipu diri dengan khayalan-khayalan yang datang mendadak dan  menghibur diri. Tak apa-apa, toh berkhayal itu hak asasi manusia dan tidak  mengganggu orang lain,  bukan pula perillaku menyimpang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kini, sebuah kursi mahal yang menjadi polusi telinga  dan mata kita tiap televise dinyalakan, polusi  tiap halaman-halaman berita dibuka, mungkin juga membikin  bejibun bocah yang beranjak remaja yang menyeret dusta-dusta indah di jalanan sambil cekikikan mengenai apa yang bakal mereka lakukan kalau tiba-tiba dapat duit sebanyak harga kursi yang kelewat mahal itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Benar saja,  menerbitkan imajinasi itu gampang, menyenangkan pula. Sebab   tatkala pertanyaan itu kita lemparkan ke anak-anak kecil dan beberapa anak yang mendekati usia remaja, mereka juga  memiliki beragam jawaban yang lebih berguna ketimbang hanya mengejar kenyamana dari suatu tindakan duduk.  Suatu kenyamanan yang bisa membuat tuli dan buta matahati dan pikirannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Saya akan memberikan pada emak, buat benerin warung .” kata anak yang warung ibunya lantak karena bisikan kegelisahan angin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Saya…saya…” bola anak itu berputar mencari pengandaian yang paling bagus dan mengira-kira seberapa banyak duit  dua puluh empat juta itu . ..”beli tivi yang gede.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan yang lain mulai terpancing karena telah memiliki jawaban  tapi tidak kunjung datang giliran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Saya beli mobil!”  (tipe anak angkot neh kayaknya)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Saya mau bikin kamar saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Beli tas, sepatu, kulkas” (tipe pemborong)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Beli  apel! Apel merah!”  ngawur seorang bocah menjawab. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Apel malang, apel washington.” Ujar bocah yang sedikit melek berita menimpali, pretensius. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan beragam jawaban yang membuat kita tergelak bahagia. Tertawa hingga perut kaku. Tetapi tak ada satupun yang menyebutkan ingin beli  kursi.  Sebab bagi mereka duduk di dipan all in one saja sudah sangat nyaman.  Kursi, apalagi kursi yang sangat mahal, bukanlah impian. Ngelemprak, alias duduk di lantai saja dengan bercanda dengan kawan-kawan sudah membuat mereka senang. Mereka, tidak semuanya tahu bahwa pernah ada jenius kehidupan yang amat dikagumi oleh jenius yang menemukan rumusan relativitas  memilih duduk ngelemprak juga. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anak-anak bahkan belum sampai usia remaja, sekalipun hanya mimpi, mereka memiliki khayalan yang lebih fungsionalis ketimbang para pejabat wakil rakyat.  Mata hati mereka lebih jeli, lebih ngerti dan tidak neko-neko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;**&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan fungsionalisme hampir mendekati omong kosong yang paling murni di era ketika teknologi, kerja mekanik, proses produksi, harus bersinggungan, atau selalu dirumuskan  dengan efisisensi, efektivitas dan kepraktisan. Mereka yang mengaku  telah begitu beradab dan dibesarkan oleh modernitas, tersekolahkan dan dimanja kursus-kursus pula, nyatanya adalah pengkhianat dari identitas asasi kemoderenannya.  Ketika orang dewasa begitu meruah dengan konsep dan deretan data faktual,  anak-anak lebih suka imajinasi yang serat visi yang malah sering dituduh terlalu mewah dan sedikit kandungan ke-nyata-annya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;**&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kerena khayalan itu memang enak, pikiran saya pun menerbitkan khayalan yang sejenis sampai melontar di depan  orang rumah. Seandainya saya dapat duit sebanyak itu, mungkin saya bisa ‘memelihara’ atau bahkan menerbitkan rasa takjub dan heran khas  anak-anak dan 'menjaga'-nya untuk kesenangan saya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Namun ayah saya, negasi sukarela saya yang selalu rajin menjalankan perannya langsung menginterupsi kenikmatan khayal saya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Tukang khayal  payah!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Jangan salah, khayalan itu setengah doa ” Saya membela diri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dan setengahnya itu dusta penuh dosa” Sengit dia mengejar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Olala, apa kabar “seandainya”?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4262465539753805369?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4262465539753805369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4262465539753805369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/khayalan.html' title='Khayalan'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2643307435745562105</id><published>2012-01-28T15:01:00.011+07:00</published><updated>2012-01-29T07:14:40.167+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'>Sebuah Cerita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Cinta yang berakhir dengan kram seluruh badan. &lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau saja bukan demi sopan santun dan menjaga perasaan untuk  penderitaan yang didap oleh salah satu adikku, aku hampir terbahak saat temanku menemukan klausa jenaka di atas. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Cinta &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang  membuat kram hampir seluruh badan, tangan dan kaki kaku hingga tak bisa berjalan. Awalnya saya khawatir kalau dia  kena jenis flu unggas yang mematikan atau radang sumsum tulang berdasar keterangan dari teman saya yang sudah  bertanya pada kyai Google.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tiga hari dia mangkir belajar, ketika dijenguk ternyata tergeletak tak bisa bergerak sudah tiga harian.  Orangtunya, menurut cerita tetangga, sewot kalau ada tetangga  atau kerabat yang peduli yang berniat membawanya berobat dan mencak-mencak tak mau berutang budi dan selalu mengumbar kekereannya. Maka terpaksa ketika kedua orang tua lengah, kami bawa si adik itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Agak heran kami mendengar seorang dokter&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengira-kira penyebabnya : " dia banyak pikiran kali, mbak". Namun si adik itu tak mau mengaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah kami selesai dengan urusan surat keterangan desa dan (pada akhirnya mau tidak mau tetap berurusan) meminta tanda tangan orang tua si adik dengan melewati adu mulut begitu sengit, kami interogasi si sakit dan akhirnya cerita juga, dan masalahnya...kemelut cinta segitiga! (Alamak! Terlalu   borjuis ini penyakit, batin saya menyeletuk. Eh, emanganya sakit yang disebabkan oleh cinta itu cuma milik orang-orang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gede-gedean&lt;/span&gt; apa? Sakit hati dan penyakit cinta juga berhak diidap siapa saja. Mentang-mentang bukan orang berada masa dilarang sakit, termasuk penyakit cinta) .Teman saya berang, langsung meluntahkan kata-kata "keramatnya".&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jatuh cinta, pacaran, itu hak setiap orang tetapi saat cinta sudah nipu logika dengan kelewatan mana ada kata toleran. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan teman saya, yang masih kebal dengan cinta itu, tentu saja mudah ngomongnya, dia belum nemu objek cinta yang tepat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namun siapa sangka setelah teman saja mampu menelanjangi perasaan malu-malu teman yang menyertai , kami malah mendapatkan curhatan cinta sususlan dari teman-teman yang menungguinya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bocah yang sedang belajar  menikmati pahit dan manisnya gelora asmara itu belum bisa  mengatasai cara memanipulasi rasa apalagi mengatasinya. Jujur  dan lancar ia berujar tentang  sakit  hati yang selama ini ia idap. Puncaknya, selain sakit hati karena  pacarnya "direbut", ia malah dituduh mau merusak hubungan asmara mantan  pacar dan temannya. Waw, jatuh cinta  searah atau dua arah saja bisa  berabe, apalagi yang sampai tiga jalur macam cinta segitiga.  Jadi sekalipun  mereka yang di belajar di teknik tahu banngunan paling dasar paling kokoh ya, segitiga  itu. Tetapi dalam urusan cinta, fondasi demikian paling merapuhkan.&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka sambil bercanda saya pegang pergelangan tangannya, nyontek adegan di sebuah novel, lalu saya sebut nama satu-satu. Bingo! Ibnu Sina benar. Metode klasik ini masih releven dan berlaku, terutama terhadap remaja yang belum bisa memanipulasi perasaan dan denyut nadi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Denyutnya lebih cepat saat suatu nama, kekasih hatinya, aku sebutkan. &lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami ketawa, si gadis kecil itu mau tak mau  tersenyum malu-malu. Namun, di antara kami semua terselip bahagia yang  cuma-cuma, beberapa kawannya menyanggupi menunggunya secara bergilir, karena orang tua si sakit, terlalu "pusing" untuk berurusan dengan  rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Romantisme saya mengeliat, ingin rasanya saat  menulis di secarik kertas sajak yang dinukil dari Yevgeni Yevtushenko  untuk menghiburnya;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan jika seorang  manusia hidup dalam kekelaman, namun bisa menjalin pershabatan dengan  para sahabatnya, kekelaman bukan lagi hal yang menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Suatu cuplikan sajak yang juga gagal saya berikan kepada remaja yang ikut menungguinya juga, yang pernah memiliki rencana untuk bunuh diri, setelah kami temukan empat tablet sakit kepala dan sebotol "Sprite" di lemarinya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:browserlevel&gt;&lt;/w:browserlevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2643307435745562105?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2643307435745562105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2643307435745562105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/sebuah-cerita.html' title='Sebuah Cerita'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-495688981502799100</id><published>2012-01-22T21:26:00.002+07:00</published><updated>2012-01-22T21:32:36.114+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Iri&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tak lagi ku bisa cium aroma maut&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;engkau malah bertukar aksara mesra dengannya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tak lagi bisa kuraba tata kata berkandung makna&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;engkau malah mampu melafal arti hanya bersandar bantal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tak lagi ku dapat kecup kesturi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;engkau malah bertaman manggali&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;berkebun langkah memanen ruah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;tak lagi ku mampu cumbu hidup yang berdenyut&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;engkau malah menjamah dengan begitu serakah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;                         &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;                                                        &lt;span style="font-style: italic;"&gt;~Minggu Petang bermuka-muka dengan ikan cupang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-495688981502799100?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/495688981502799100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/495688981502799100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4164499754528289172</id><published>2012-01-22T21:06:00.003+07:00</published><updated>2012-01-22T21:19:33.317+07:00</updated><title type='text'>Dedaun Itu...</title><content type='html'>Agaknya Tuhan tidak mengizinkan saya menjadi pengumpul sampah yang baik.  Biar secara serampangan dan lancang menyeret nama Tuhan   begitu saya menerjemahkan  raibnya daun-daun kering yang sudah saya kumpulkan dan hampir seluruhnya hilang  tanpa jejak.  Tak tersisa. Tak tertolong. Mungkin karena saya tetep saja goblok , gak negrti cara mendaur ulang dan cara pemanfaatannya. Kuantitas sampahlah yang pada akhirnya saya bangga-banggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dedaun kering yang menjadi bantalan rasa seolah saya meluap riang maupun serasa diterkam kelam, tiba-tiba harus saya relakan kepergiannya. Helai demi helai bercak, noktah yang tertinggal dan tergambar di sana. Harus saya ingat kembali untuk menemukan sedikit jejak kepergiannya. Mau apa lagi? Suatu onggokan detil dari gerutu yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesutau yang memang sudah dipandang  orang lain yang paham sebagai kemegahan cemooh. Suatu pendewaan kegelisahan, dan suatu yang buruk karena tak bisa dipahami. Juga suatu pelarian dari realitas murni. Dari sengketa akumulasi dan imajinasi. Suatu penghayatan yang dibuat-buta dan suatu gunungan huruf yang tunamakna. Suatu ketergila-gilaan yang setengh-setengah. Suatu kemalasan yang sempurna dan sebuah nyanyian pedih yang hanya mampu membuai batin berkembang dalam pangkuan kemanjaan. Bukankah hilang berarti suatu kekosongan? Suatu ketersediaan  ruang bagi keterisisan dan prosesi yang terbuka dan menggoda untuk dihuni dan diisi. Suatu celah untuk berkah yang berwajah musibah yang barangkali, jika aku kembali lengah, hanya kembali terisi sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada titik tertentu, ketika saya mulai merasa  serangkaian kelahiran dan kematian terus terulang. Ketika kita hanya salah satu dari milyaran bercak di kegelapan. Yang barangkali hanya bisa sesekali muncul dalam rabaan kegelapan. Apa perlu kita? Jiwa yang begitu riang dan terlalu riang di suatu tertentu menjadi kelam di saat lain, dan anehnya semakin kita menginginkan kekelaman untuk menyetarakan aljabar kehidupan yang berisi konstanta-konstanta yang makin menyeringai, dan bersanding dengan variable yang lemah dalam pencarian nomina (nilai?) pastinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemah karena memang ia hanya sebuah kepalsuan rasa, kepalsuan kesadaran, dan kepalsuan pengertian. Kepalsuan mengendus realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedaun, yang membuat saya merasa yakin dengan apa yang saya rasakan itu benar, nyatanya, tak terima manakala ia harus menanggung semangat dan kemegahan palsu dari seorang individu yang merasa bahwa dipahami lebih beruntung manakala hanya dikasihani.  Sembari sok bijak menyadari bahwa mengharap pemahaman juga adalah suatu tindakan lancang dan kurang ajar.  Penghinaan terhadap keterlantaran yang seringkali membentuk serpihan kebijakan hidup. Suatu arogansi filosofis yang tak pernah meminta sambil berteriak-teriak sementara kehidupan dengan realitas sehari-harinya tak mampu membuat ia beranjak mengerti, mengarti, dan ikhlas mengalami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  dedaun itu... enggan mengonggok di selasar tempat mereka, begitu sering tetapi enggan, tertohok dan terpojok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4164499754528289172?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4164499754528289172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4164499754528289172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/dedaun-itu.html' title='Dedaun Itu...'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4201008658149655141</id><published>2012-01-16T07:07:00.000+07:00</published><updated>2012-01-16T10:00:02.278+07:00</updated><title type='text'>Sandal Jepit</title><content type='html'>Jangan-jangan sebagian besar rakyat negeri ini memendam rasa sayang yang hebat terhadap sandal jepit. Karena itu, sekalipun sandal jenis ini "terlarang" menjadi seragam alas kaki pegawai di berbagai institusi resmi negeri ini serta ia juga "haram" memasuki perkantoran dan beberapa tempat untuk acara resmi, sandal jepit pun, belum apa-apa sudah tereksekusi di depan pintu masuk dengan sebuah kalimat larangan : 'di larang memakai sandal jepit', atau yang 'bersandal jepit di larang masuk!'. Namun saat acara tidak resmi, santai di rumah, sangat mungkin sandal jepit adalah alas kaki paling favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersingkirnya sandal jepit dari peredaran formal-elitik di arena publik tak lepas dari pengaruh dan warisan sitem administrasi jaman kolonial.  Sebelumnya, melalui cerita lisan atau penggambaran dari cerita dari buku maupun dunia media lain, dahulu raja-raja dan punggawa kerajaan pada jaman nusantara jaya dulu, sandal jepit justru merupakan alas kaki arketipal dari kebudayaan “pemerintahan” di nusantara ini. Sebab selain praktis, sandal jepit memberikan kenyamanan dan “kesegaran” jari-jari kaki si pengguna disamping memberikan perlindungan kepada telapak kaki tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, nasib sandal jepit di kemudian hari rasanya memang tampak sedikit ironis, ia dicintai banyak orang, namun tak ada yang berani mengungkapkan  dan membuktikan “rasa cintanya”  secara terus terang di dalam kerumunan. Di  instansi-instansi, peraturannya seringkali meminggirkan bahkan menolak kehadiran sandal jepit. Belum acara semi formal di dalam keluarga atau acar informal lain yang seolah mempersekusi si pemakai sandal jepit. Sehingga kerap kali dibutuhkan suatu kenekadan atau  keberanian memakai sandal jepit dengan pede dalam kerumunan dan acara semi formal, kunjungan ke perhelatan, masuk instansi atau sekedar kongkow ditempat umum yang direkayasa keumumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cinta yang terpendam itulah, mereka lebih memilih untuk “selingkuh” dengan sang sandal. Sekalipun alas kaki resmi yang dipakai sepatu, tak jarang mereka para pekerja, entah yang berkerah putih maupaun kerah biru, entah yang jadi buruh atau CEO perusahaan multinasional, masih juga doyan membawa alas kaki “terlarang” itu untuk sekedar dipakai manakala dalam keadaan santai. Mereka menggunakannya ketika jam istirahat datang. Atau kalau memang peraturan dan atasan tak terlalu ketat mereka masih boleh sekali dua kali memakainya secara berseling dengan sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergusuran sandal jepit tak hanya berlangsung di kantor-kantor yang terdapat di gedung-gedung tinggi. . Di perkebunan dan ladang, para buruh juga dianjurkan memakai sepatu boot demi kesehatan. Tak kalah, buruh bangunan juga sangat dianjurkan menghindari limbah cor-coran semen dengan memakai alas kaki sebentuk sepatu.Dalam acara keluarga semi resmi atau yang tergelar agak formal, atau perayaan tertentu, adalah semacam pengucilan sosial yang dipaksakan. Mereka yang hanya memakai sandal jepit dianggap tidak atau kurang&amp;nbsp; menghargai si empunya hajatan,  melecehkannnya atau paling banter dicap kampungan.  Karena itu nasib sandal jepit seperti namanya, makin terjepit. Ia yang dicintai berjuta rakyat negeri, namun siap yang berani meunjukkan cintanya , ketimbang rasa benci dan “meremehkan” si pemakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat umum seperti mushola, sandal jepit menunjukkan kegagahannya bahwa masih banyak manusia Indonesia yang bergantung padanya. Namun sekali lagi mereka hanya bisa memendam rasa itu. Orang berseliweran melakukan ritual menghadap Tuhan, dan sebelumnya mereka berwudlu, yang dicari pun sandal jepit. Entah bawa sendiri, pinjam kawan, atau nyerobot tanpa permisi dan berterima kasih pada sang empunya sampai-sampai si empunya harus nunggu si “peminjam” itu selesai urusannya di kamar kecil. Betapa telanjang orang yang sudah terdidik dan beradab di hadapan sang sandal jepit, sebagaimana telanjangnya jari-jari si pengguna alas kaki yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu barangkali sandal jepit selalu tampil dalam kenyentrikan dan menjadi hal tak begitu berlebihan untuk melampiaskan kenakalan bagi generasi tengik yang suka menukar sandal jepit butut mereka dengan sandal jepit yang lebih baru atau mencurinya di suatu masjid. Mereka yang mencuri sandal jenis ini, seringkali bisa mengutarakan rasa bangga ketimbang malunya. Seorang kawan, bahkan merasa bangga membeberkan kenakalan masa anak-anaknya ketika ia berhasil menjadi maling sandal jepit yang kemudian ia gunakan untuk membuat mobil-mobilan hanya dengan bantuan pisau dan tusuk sate bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi tampak cukup aneh manakala ada kasus, yang terjadi sudah setahun baru diperkarakan di meja hijau baru-baru ini, seorang anak remaja kedapatan mencuri sandal jepit yang kebetulan milik seorang polisi menjadi berita yang asik dinikmati ( atau bagi sebagian orang malah membosankan) di seantero nusantara ini . Psikolog dan para pegiat hak-hak anak meneriakkan kekhawatiran masa depan anak yang telah “dicap” oleh palu pengadilan sebagai pencuri. Para pegiat hak asasi manusia, praktisi hukum yang kritis dan masyarakat yang peduli melakukan protes dan melontarkan kemarahannya sebab rasa keadilan yang telah terlukai. Diskusi dan obrolan warung kopi mengenai sandal jepit, juga diam-diam, mampu mereka manfaatkan utu sekedar menambah keakraban, topik cuma-cuma perbincangan antar kawan, atau untuk melampiaskan akumulasi kegelisahan yang sudah lama tertahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenapa setiba-tiba itu? Sementara ada suatu kenyataan bahwa menjadi maling sandal jepit adalah suatu "kebanggaan" sendiri. Perwakilan dari jiwa yang nakal dan &lt;i&gt;kere.&lt;/i&gt;  Tanpa bermaksud permisif terhadap tindakan kriminal kecil-kecilan, dengan mengasihani secara berlebihan bukan tidak menutup kemungkinan si AAL itu makin merasa ia memang telah “dipermalukan” oleh sitem peradilan dan cap negative ketukan sebuah palu. Ia merasa menjadi korban dan menjadi seseorang yang “terhina” hanya karena palu hakim suatu peradilan di sebuah negeri yang selalu haus akan sensasi dan kesamasetaraan hukum hanya tinggal slogan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang memberikan kekhawatiran dan rasa kasihan dan dukungan yang berlebihan pada remaja tersebut, bukankah kita bisa memberi suport santai khas remaja : elu emang salah, akui aja, men! Tetapi elu nggak perlu berkecil hati , ngerasa jadi jagoan juga gapapalah, pupuk kepercayadirian dan suatu saat mampu berucap secara jantan : aku punya rekam jejak keren, mulung sandal jepit saja terseret ke meja hijau, plus dapat sorotan media yang cukup anulah. Kerenlah. Dan mau tahu lawan kasusku? Polisi, man! Aparatus negara  yang terkenal begitu anu bukan? Beritaku sudah cukup "meludahi" muka orang-orang gede di istana nun agung di sana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri yang pemimpinnya tak punya rasa malu untuk pamer gaya hidup, tas, sepatu, mobil mahal dari uang curian,  buat apa rakyatnya, generasinya, ditatar untuk malu pada  suatu “cap” dan putusan  yang jauh dari orientasi efek jera dan  tegaknya keadilan, sekalipun itu legal, kalau orang-orang yang di senayan sana saja tak pernah malu ketika ketahuan menggondol duit negara, tidak malu ketahuan pura-pura sakit, pura-pura pikun, pura-pura jadi korban, pura-pura terancam, pura-pura tidak tahu. Kenapa rakyatnya, remaja pula, dianjur- ajarkan untuk malu, khawatir, panik akan masa depannya, "hanya karena"&amp;nbsp; pernah dinyatakan terbukti bersalah mencuri sepasang sandal jepit oleh sebuah sistem peradilan yang diragukan kadar keadilannya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4201008658149655141?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4201008658149655141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4201008658149655141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/sandal-jepit.html' title='Sandal Jepit'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7127520857537213305</id><published>2012-01-07T05:37:00.004+07:00</published><updated>2012-01-07T06:16:58.949+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;pencucian mulut yang lantang. aku harus berkata apa. diam. iya, seharusnya kudengar sengaumu. aku bahkan tak bisa berterimakasih. padahalah konon poyangku orang ramah. kau dari sebelah, mampu membuat aku tampak murah. tidak, tanpa itu aku sudah murah. atau memang aku ingin menjadi murah. oh, tidak ini sangat kelihatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya kesombongan yang aku punya, maka sudah sepantasnya aku tak perlu merasa menjadi perlu bertemu dengamu. kau harus tahu, semua bukan lantaran ada kegelisahan yang tak bisa aku tundukkan, atau kalau tidak kebahagiaan meletup dan menyingkirkan kekuatan. sialan bukan? atau memang aku tak tahan dengan degup jantung yang lancang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serakah. aku bahkan tak bisa membedakan apa benar aku memiliki keinginan atau sekedar ingin merasa berarti. dan kau masih mau mengajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertemu lalu sedikit menyelipkan rindu. di tengah gerombolan domba yang bisa merasa bangga karena berhasil mengibuli serigala. kau mengajak aku menjadi domba yang merasa pintar atau serigala yang jatuh cinta pada mangsanya. aku memang tak suka dicengkram dan digerayangi kegelisahan, atau dicumbu kenikmatan kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haram. tetapi bukan berarti aku tak mau memilih. aku bahkan tak tahu apa itu pilihan. tetapi semoga kau mampu lega, karena setidaknya aku tahu ada banyak sampah di dunia ini, dan apakah aku salah satunya? itupun selalu kutanya&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7127520857537213305?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7127520857537213305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7127520857537213305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/pencucian-mulut-yang-lantang.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1117701673929324736</id><published>2012-01-04T05:43:00.013+07:00</published><updated>2012-01-04T07:46:57.950+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bagi penganut cinta platonik, jangan terlalu alergi dan menganggap bego terhadap wanita cantik, seksi, atau mereka yang berwajah super cakep dan berbodi aduhai. Premis kompromistik-dikhotimik yang  terbiasa membenak dalam  pikiran kita : orang cakep kurang pintar sementara mereka yang pintar lebih banyak tidak cakep.  Tetapi apa anda tahu kalau Merilyn Monroe itu ternyata bisa berbincang soal Puskin, Dostoevsky dan pengarang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rebellious&lt;/span&gt; lain dari negeri pembangkang itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda merasa heran, anda tidak sendirian, Sidney Sheldon merasakan hal yang sama ketika ia makan malam dengan simbol seks abad ke-20 itu. Meriliyn yang nyerocos berbicara tentang "mereka" (penulis-penulis Rusia kaliber dunia), membikin Sidney tak percaya, bahkan ia sampai curiga kalau Merilyn  asal bunyi dan nggak tahu apa yang diomongin. Tetapi berikutnya ia yakin sebab nyatanya Marilyn pernah mengencani Elia Kazan dan bahkan sempat menikah dengan Arthur Miller, mentornya. Dua-duanya penulis (skenario film) yang tak diragukan lagi pengetahuan akan sastra dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan pernah membiarkan apa yang telah bercokol di benak kita menyesatkan cara menilai orang , sekalipun itu banyak benarnya, karena pengecualian itu juga tak kalah sering berlaku. E he he he…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1117701673929324736?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1117701673929324736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1117701673929324736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2012/01/bagi-penganut-cinta-platonik-jangan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5063268839703080607</id><published>2011-11-20T03:23:00.005+07:00</published><updated>2011-11-20T06:03:50.023+07:00</updated><title type='text'>Nestapa Keranjingan Sosmed</title><content type='html'>Ketika hari belum lama berganti. Aku malas sekali untuk bangun, sekalipun alarm sudah meraung-raung. Tetapi ketika orang rumah juga telah sampai pada masa yang sama : kamar sebelah meraung juga alarmnya. Aku segera bangkit. Jam 2 lebih sedikit. Itu pun barangkali alarm berulang yang sudah lebih dari tiga kali mengganggu tidur. Setelah aktivitas barang setengah jam. Tanganku sudah gatal, meraih hp. Membangunkan teman atau menjawab e-em-es yang kebetulan (ada) yang harus dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, "kegatelan" tanganku tidak berhenti di situ. Aku ingin langsung bergabung ke "dunia yang tak pernah tidur". Masuk twitter ( setelah agak jemu dengan facebook). Benar saja, masih banyak orang berkicau sekalipun jam-jam ngantuk. Para penikmat bola sedang sibuk menunggu (apalah menunggu kesibukan?)dan menyaksikan. Saya yang biasa-biasa saja dengan bola sebetulnya ingin bergabung juga, tetapi saya ingin keheningan saja. (masih bisa disebut hening orang yang mencari keramaian meski pada jejaring sosial?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ingat ebook kiriman teman dan ada link buku gratis di twitter, lumayan. sayangnya berbahasa asing yang artinya entah kapan saya bisa membacanya (ngakak). Lagi-lagi saya protes pada diri yang narsis. Kamu masih mau ngetwit dan facebooking?&lt;br /&gt;(adik-adik saya suka tertawa kalau kakaknya nyerocos perihal informasi yang didapat dari twitland seraya menimpali : apa urusanku sama dunia itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat blog, sepertinya males banget nulis buat blog. Terlalu bertele-tela. tetapi saya bertekad pada diri : cuma satu jam, jangan terlalu lama. apapun hasilnya. Bukankan "kegatelan" tangan lebih baik dipakai untuk "meraba" diri sendiri dibanding harus "pamer" citra yang belum tentu pas antara muatan dan ekspresi demi suatu "perhatian" yang tidak jelas ujung-pangkalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, terhadap dunia sosmed, sikap saya masih ambigu; benci tapi rindu, sebel tapi ketagihan. Dan saya rasa bukan hanya saya yang merasakan. Sebuah akun ngetwit berbunyi ; social media life is killing sosial life, dan itu tak hanya sekali dua kali saya jumpai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya saya tak terlalu cocok dengan dunia sosmed, baik facebook maupun twitter. Tetapi saya tak bisa meninggalkannya demi sinapsis saya yang melonglong__memakai istilah Nicholas Carr. Sebab saya sering merasa sakau dan merasa terhubung dengan banyak orang, sekaligus merasa saya mengkhianati diri saya ( anda boleh menganngap sikap saya ini sedikit ekstrim)melalui pelacuran kata-kata dan ekspresi bahagia atau duka, yang ujung-ujungnya apa? Bahagia karena kita "diperhatikan"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal nggak lebay dan bercerita mengenai diri melulu nggak apa-apa, saran teman saya. Tetapi apa itu cerita mengani "diri" dan "bukan diri", seseorang yang saya follow berkicau; "heran saya masih banyak orang yang tiap hari hanya bercerita menganai dirinya saja, apa tidak malu?". Kita bisa mengira yang dimaksud mengeani menceritakan diri  barangkali mengenai belanja, makanan, kerjaan, curhat seputar hati dlsb.&lt;br /&gt;Kalau tidak bercerita mengenai diri dengan menulis misal; demokrasi sejauh ini hanya mampu jadi pengasuh yang baik bagi kapitalisme" apakah itu yang disebut tidak bercerita mengenai diri? Sementara toh otak "pamer" kita meminta harapan untuk dikagumi dan dipuji (walah gedalah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, sayapun menulis agar dibaca, hehe, sekalipun saya sangat sadar paling-paling tulisan saya dibaca saya sendiri (wahahaha, makin akut saja narsisinya). Tetapi akan berbeda manakala kita menulis "untuk" seseorang yang barangkali tak mengenal kita, orang yang entah di mana dan entah siapa. Kalau di twitter kita kan sudah tahu landskapnya; siapa yang akan membaca dan orang seperti apa yang membacanya. Setidaknya gambaran minimalis dari "pembacanya" telah kita miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai "entah siap yang akan membaca" atau ada dan tidaknya pembaca, seorang teman pernah bilang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku punya blog tolong kunjungi, tapi jangan di link, aku ingin belajar menulis secara bebas, kalau ketahuan siap aku nanti aku jadi malu dan tak bebas.&lt;/span&gt; Dari situ juga saya jadi teringat ketika awal saya ngeblog, keyword untuk searchingnya ternyata nama saya. Nah, berangkat dari situ saya mulai mikir, enak benar teman-teman saya bisa "tahu" dan "memantau" saya, sementara saya tak tahu mereka. Saya pun belajar minimalis informasi sebagaimana orang memakai nickname di facebook dan akun lain mereka dan karena itulah saya belajar bagaimana "peraturan" berinteraksi di dunia maya ( semisal tetangga saya pernah menambahkan saya jadi teman di facebooknya, tetapi beberapa hari kemudian akun saya diblokir, dan saya "haram' komplain  apalagi memunculkan kata "kenapa" (yang terakhir adalah peraturan saya sendiri) di depan mukanya). Lagipula saya sudah masuk dalam kategori "sombong" yang nggak akan nge-add duluan kalau tidak karena penasaran atau minat yang tak bisa saya bendung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, barangkali saya belum bisa mengatakan "selamat tinggal" kepada sosial media, sekalipun sesungguhnya sangat ingin saya lakukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5063268839703080607?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5063268839703080607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5063268839703080607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/nestapa-keranjingan-sosmed.html' title='Nestapa Keranjingan Sosmed'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3684403073436315854</id><published>2011-11-13T07:25:00.000+07:00</published><updated>2011-11-13T07:29:14.240+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kalau aku berbaring menghadap  langit, aku merasa seperti bermuka-muka pada Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai Tuhan, Kenapa kita sudah tak rajin bercakapa seperti dulu? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lalu masa lalu mengalir hingga sampai sebelum aku bersatu dengan bumi, kapan aku mati dan kenapa aku lahir, tetapi aku hanya menanyakan tanpa harus menjawab apalagi menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bukankah kita pernah akrab, Tuhan?&lt;/span&gt; Setiap aku merasa terlalu gembira atau begitu tertekan aku akan “menghambur” dan berbaring dengan berbantal telapak tangan Aku bisa berlama-lama “menatap” Yang Di Atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu kita bercakap tiada batas.&lt;/span&gt; Namun kemudian aku tumbuh dalam buaian kekurangajaran dan selalu meronta untuk melampiaskan penasaran-penasanan yang terus berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Diri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah kau tega membiarkan dirimu kesandung beribu candu&lt;br /&gt;Dalam perjalanan yang tak sepi dengan godaan&lt;br /&gt;Bahkan pasrah terhadap penjajahan asalkan senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah selalu menyerah pada rasa nyaman dan aman&lt;br /&gt;Sedang sebetulnya kau meneteskan air mata tiap terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah kau rajin mengikuti arak-arakan dan berkejaran dengan peredaran planet dan bintang &lt;br /&gt;Sedangkau engkau telah berjanji untuk hidup dan saling mengenal di bumi&lt;br /&gt;Sejak  engkau belum bisa menjawab pertanyaan : mengapa ikan mati tak tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                   ~&lt;span style="font-style:italic;"&gt;minggu pagi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3684403073436315854?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3684403073436315854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3684403073436315854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/kalau-aku-berbaring-menghadap-langit.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-9197114845090672683</id><published>2011-11-13T05:29:00.002+07:00</published><updated>2011-11-13T08:23:56.498+07:00</updated><title type='text'>Soedirman</title><content type='html'>Huhuy, aku makin yakin Goenawan Mohammad “ketularan” M. Rilke saat membikin sajak ini dengan frasa “dingin yang tak tercatat”. Rilke juga menulis hal yang sama ketika menulis surat kepada Lou Andreas; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rodin, adalah suatu contoh tiada tara, keajaiban yang menyinar sampai jauh__tapi toh seorang tua, “sepi tidak tertuliskan”….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sejak saya membaca puisi GM dan kemudian menemukan sebuah frasa yang sama dalam surat M. Rilke itu, saya yakin GM jelas membaca M. Rilke. dan kenapa saya merasa bersorak, sebab kemarin siang GM berkicau di twitternya dalam dua bahasa, bahasa Rilke, yakni Jerman,  dan dalam  bahasa Indonesia berbunyi : Benar adalah Waktu, Sang Perusak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuhuiiiiiiiiii, saya sepertinya memiliki catatan mengenai tua, kerja dan sepi. Tetapi itu dulu, wakytu saya masih remeja dan mendapati ada kakek-kakek yang tetap saja jadi kernet. Dan si sopir dan kondekturnya sebetulnya agak keberatan, sebab sering mengumpat dengan kata “ dasar pak tua!”. Namun barangkali rasa kasihan nggak bisa mereka ingkari sehingga mereka tetap saja ‘memakai’ si kernet tua sebagai bagian dari awak mereka. Tapi di mana yak? Buku-buku catatan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangen buku yang mungkin lembarannya sudah pada menguning bak padi aja. Tetapi sejauh ini saya ingat bahwa saya menuliskan kira-kira mengenai manusia yang selalu dicatat dalam kehangatan jam kerja. Artinya yang diperhitungkan adalah mereka yang masih perkasa, dalam dunia kerja yang dicatat adalah mereka yang bertenaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya mau membelokkan “sepi tidak tertuliskan” dan “dingin yang tak tercatat”. Bukan lagi mereka yang tak memiliki sejarah karena tak tercatat, apakah moment, apakah waktu apakah manusia yang kesepian, dengan “puisi yang tak tercatat” : Soedirman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soedirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ragu kalau Pangsar Jend. Soedirman itu terkenal, namanya hampir seluruh warga negara Indonesia tahu siapa dia, baik yang sekilas maupun yang tuntas. Lelaki yang mati begitu muda ini (duh, apakah karena itu Sophocles menulis “ berbahagialah mereka yang mati muda, sedang nasib terbaik adalah bagi mereka yang tidak dilahirkan, dan, untuk melengkapi apa yang senang dikutip Soe Hok Gie, yang tersial adalah mereka ynag mati tua (saya tidak tahu kalau yang terakhir apakah dari Sophocles atau tidak, sebab saya juga tidak khatam membaca Sophocles), yakni tidak genap 35 tahun, tetap muda dalam kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dua tahun silam di sebuah museum (kompleks Brawijaya), lupa nama musiumnya (jancuuuk, lupaan teruuuus), ranjang yang dikenakan Soedirman ketika bergerilya dalam keadaan sakit tersimpan di sana, saya cuma membenak; owh, pernah ada lelaki muda yang digerogoti tuberkolosis, lelaki kerempeng, seorang Jenderal, memimpin perang di Ambarawa selama lima hari dan kemudian bergerilya selam tujuh bulan naik turun gunung, masuk ke hutan. Kehujanan, kena hawa dingin, digigit nyamuk( nyamuk memang musuh abadi umat manusia, dari yang paling tegar sampai yang paling manja), tulang ngilu, demam. Dengan bekal yang tidak mewah sebagaimana buron penjahat korupsi di negeri ini baik yang umurnya seusia dengan Seodirman maupun yang lebih renta. Plus alat komuniksai yang sangat sederhana.  Dapat dibayangkan susahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang memilih memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dengan terjun langsung ke medan pertempuran ketimbang harus mendapatkan kemerdekaan yang jauh  murni sebab membiarkan pihak pencuri ikut mengurusi urusan dalam negeri bukanlah sebuah kemurnian. Soedirman sendiri adalah sebuah kemurnian, sebab ia tak pernah peduli akan dunia “takhta” RI 1, sebagaimana Jenderal penggantinya. Ia juga tidak tertarik dengan dunia politik, sebab kenyataannya berjuang tak harus dalam jalur politik. Ia sependapat dalam tujuan dengan Tan Malaka; mencapai Indonseia seratus persen. Mereka berdua memilih bergerilya dibanding harus menampuh meja runding. Mereka tak menyukai diplomasi yang selalu merugikan bangsa ini. Tetapi Tan bukan gelandang murni sebagaimana Soedirman. Ia adalah Gerpolek itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Kesalahpahaman tak pernah sepi dari perjalanan sejarah perkawanan. Akibat sebuah peristiwa yang membuat satu sama lain merasa diakui oleh sebuah pihak yang dibenci lain, atau karena yang satu berhasil diterima oleh pihak yang lain, sementara yang lainnya tertolak. Keberseberangan langkah itu tak dihindarkan, sekalipun garis horizon yang mereka tuju, tarangkum dalam titik yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan Soedirman yang kerempeng itu kurang tidur demi menyusun strategi dalam kegelapan malam serta persenjataan yang kurang, dengan niat yang menyala-nyala kuat apalah arti kematian seorang Soedirman dibanding kemerdekaan yang membayang dipelupuk mata, yang lebih mempesona dan menggoda dibanding kekasih hatinya, begitu mungkin tekad batinnya. Oleh eksotika dan pesona malam, dalam bayangan saya , Soedirman sedikit tergoda untuk mengekspresikan sensasi personal yang biasa ia alami di malam hari, di bawah naungan langit dan bintang yang berkerlip, dalam guyuran gerimis, atau terpaan sinar bulan dan hawa dingin yang menusuk tulang,   dengan jauhnya handai taulan dan kerinduan pada kampung halaman. Sangat tidak mungkin untuk mengekspresikannya dalam bentuk puisi apalagi menggubah lagu, bikin album, atau mungkin sekedar membuat coretan sepi yang menyala di dadanya. Keadaan mendesak ia lebih memilih menjadi “seniman” kemerdekaan dibanding harus berkasih-kasih dengan kata-kata dalam naungan cahaya rembulan, guyuran hujan dan dinginnya hawa  belantara, maupun wangi pagi dengan ditemani fajar yang merekah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan Indonesia itu sendiri adalah puisi yang  ia gubah bersama dengan rekan-rekan, pejuang lainnya. Sebuah mahakarya yang sayanganya sepi apresiasi dari generasi muda seperti kita. Sebuah karya seni yang menginspirasi. Sebab tak hanya darah dan keringat yang memuncrat, namun juga amis nanah dari mereka yang terlepah dalam orbitan hidup akibat kesusahan yang ditebar oleh bajingan-bajingan yang mengaku lebih beradab. Tulang belulang kawan-kawannya yang gugur mendahului adalah gundukan fosfor yang tak pernah membuat api kobaran perjuangan surut sekalipun banjir air luapan samudera hindia menerpanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjajak enam puluh tahunan,  jauh tabiat pemimpin negeri ini sekarang. Yang pada usia yang sebaya memilih membuncitkan perutnya memilih kendaraan yang menebarkan kedengkian dan bukan kendaraan ketulusan dari anak buahnya. Yang di usia sangat muda cepat berseberangan dengan kawan bukan lantaran beda pendapat atau kesalahpahaman yang sulit dielak. Namun sebab kepentingan pribadi lebih merajai, kepentingan golongan mengedepan, dan kepentingan bangsa tinggal dibibir saja. Lalu memilih menjual dirinya pada iblis layaknya Faust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seniman kemerdekaan, Soedirman terpanggil dengan rintihan rakyat, dan pedihnya anak negeri yang harus mengucurkan darah dan keringat demi memperkaya bangsa lain. Baju dan jubah Soedirman barangkali bukan bikinan tailor terkenal sebagaimana wakil rakyat yang menggantengkan diri dengan penampilan berjas dan hem yang sekali menjahit barangkali gaji sepuluh bulan karyawan di sebuah pabrik kayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara haru bercampur malu memenuhi dada ini , sebab seperti yang pernah Iwan Fals teriakan di kota kami ; Inilah kota yang menghasilkan seorang panglima besar Soedirman!” (ha ha ha!, padahal cuma ditumpangi lahir saja, tetapi ya apa salahnya sih bangga) Sang Jendral yang sangat muda, maha guru perang gerilya (kata Cak Nun sih) melawan penjajahan yang sangat menginspirasi bangsa Asia. Soedirman yang tak protes hanya karena fasilitas seadanya, sangat bertolak dengan pejabat wakil rakyat sekarang yang sekalipun sudah makmur secara finansial masih terus menerus mengemis fasilitas dan kemewahan kepada rakyat. Mengemisnya secara paksa pula. ( dasar zombie!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soedirman, bersama dengan Tan atau Syahrir dan dua proklamator lain barangkali telah berangkulan dan berdamai di sana. Tetapi mungkin Soedirman dan yang lain miris menyaksikan kota yang berkilauan cahaya dan jauh dari hawa sepi. Perih menyaksikan gedung-gedung bak istana yang megah dan hangat di Jakarta itu, berpenghuni para perampok rakyat yang memilki kesusahan hidup yang tak jauh beda ketika bangsa asing menginjak-injak tanah air ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-9197114845090672683?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9197114845090672683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9197114845090672683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/soedirman.html' title='Soedirman'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6462674029862152180</id><published>2011-11-05T04:50:00.011+07:00</published><updated>2012-01-04T07:09:47.009+07:00</updated><title type='text'>Surat Keong</title><content type='html'>Pada diriku berlaku : bersinggungan dengan masa lalu menambah daya hidup yang kian tertitah akibat sergapan kekinian yang sepotong-sepotong dan tak pernah tuntas memberikah suatu arah ke mana sesungguhnya potongan itu akan membawa kita berserah. Jika lebih suka buta dalam arah, dan memberikan kepercayaan pada kepastian  tersendiri, atau meraba-raba dalam kegelapan sebab kebutaan tak pernah ditoleransi, namun sakitnya sergapan warna-warna tajam tak bisa kita rasakan, atau keremangan yang sering membuat kita hampir putus asa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hujan menjeratku untuk bermanja-manja dalam kedinginan sebagaimana kebanyakan anak semesta. Temanku sudah tak bisa menoleransi kemangkiranku menemani bocah-bocah berani menantang petir dan hujan. Bersamaan aku keluar, sebuah... surat keong menyambut. Surat!!! Lama sekali aku tak menerima surat keong yang datang atas nama personal. Dunia telah lama meninggalkan kehidupan yang lebih mesra dan tahan lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaanku; tentu dari manusia masa lalu yang masih mencatat alamatku. Benar, seorang kawan yang telah lama tak singgah dalam ingatanku. Seorang kawan masa kecil yang tak memiliki cara bagaimana mendapatkan alamat yang lebih mudah ditempuh dan singkat. Aku merasa memasuki jagad kanakku lebih dekat ketika aku berbagi mengenai keluh kesah dan daya hidup (gairah?)panjang kita, dan bukan kesementaraan yang terus berulang dan membawa pada konsekuensi kerapuhan yang semakin menantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, bahkan aku pernah berkomunikasi dengan seorang teman dalam bentuk buku catatan (setiap setengah atau satu bulan buku merk "sinar dunia" dengan tebal 32-38 halaman, diisi segala catatan dan coretan, bahkan gambar untuk membagikan sedikit apa yang ingin kita bincangkan, kita bagi kepada sang teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seleksi alam a la Darwinian memang masih bekerja, siapa yang paling segar/ "fittest" (dalam menggunakan teknologi (komunikasi)) dialah yang paling bertahan/menang "survive". Surat keong?!! Bassssssi, kata para dromolog maupun penganut setianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga nasib surat undangan. Undangan nikah atau undangan lain, orang tinggal sebar lewat surel atau bahkan sms doang. Sekalipun alat komunikasi yang sangat memudahkan itu telah berhasil (sedikit) banyak dalam pembabatan elitisasi komunikasi, namun ia tak memberikan kesan apa-apa selain sebagai sebuah "kerja" yang menyampaikan sebuah kabar dan undangan. Selebihnya, tak ada yang istimewa sebab memang tak ada keterlibatan lebih personal dalam membuat kata-kata yang sangat singkat dan seragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika surat undangan atau kartu pos mampu membuat orang berpikir agak dalam ketika hendak menuliskan dan memilih kata, memilih warna kertas , memilih jenis kertas dan memilih jenis huruf, ada ikatan personal yang lebih real dan tertanda dibandingkan sesuatu yang memang dibuat begitu datar. intinya..ada sensasi personallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak anti teknologi tetapi jika teknologi bekerja mengikis kemanusiaan kita, mengasingkan kita dengan dengan apa yang kita punya dan memberikan angan-angan untuk menggapai suatu fatamorgana dan kenisbian yang memang menyenangkan. Pikir-pikir dulu sajalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tunggu dulu, saya pun tak akan membiarkan hati saya jumpalitan demi perayaan bertemu dan adanya pertautan masa lalu yang bisa dijadikan daya untuk memelihara impian-impian yang masih tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda akan adanya "masih hidup dalam ingatan orang" saya hargai setengah mati. Tetapi apa saya perlu merayakannya dengan membalas mereka dengan ekspresi serta merta? Tidak, akal bulus saya berpikir mungkin karena dua sahabat lama ini sedang kesepian jadi butuh teman dan kebetulan saya adalah tempat pelampiasan? Pemikiran itu juga harus saya tunda. Sebab untuk apa mereka mengorek-korek album kenangan demi menuliskan sejumput alamat pada sampul surat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, saya memilih jalan tengah. Saya menulis balasannya namun tidak ada keharusan secepatnya membalas sebagaimana yang temanku minta. Namun terima kasihku tak kalah besar, sekalipun hampir bercampur dengan prasangka yang tak berdasar. Terima kasih...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6462674029862152180?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6462674029862152180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6462674029862152180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/surat-keong.html' title='Surat Keong'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-656716379267816695</id><published>2011-11-04T06:14:00.002+07:00</published><updated>2011-11-04T06:22:36.662+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Saya ingin menuliskan perasaan saya yang masih bercokol, sebab rasanya saya cukup merasa terperdaya dengan persahabatan yang ditawarkan seseorang yang ternyata bersandar pada ketidakseimbangan. Ia hanya ingin banyak tahu tentangku, mengajakku pada permenungan-permenungan. Awalnya saya merasa kawanku ini  beda lantaran ia bukan si penceramah yang doyan mengumbar jati-diri dan apa saja yang dia lakukan seperti kawan sebaya lainnya. Ia adalah sebuah specimen yang berani dilupakan kawan sebaya dan lingkungan demi sebuah kerja yang “membenamkan” dan “menenggelamkan”, dengan konsentrasi yang tak mudah diinterupsi oleh kicauan burung yang hingga di ranting pohon di sepanjang arak-arakan dan perayaan-perayaan tiap jam. Ia adalah penikmat langkahnya yang tak mudah goyah hanya karena suara-suara menggema di mana-mana. Ia adalah “pembangkang” dalam gerak arus yang menggerus. Ia, aku pikir, adalah kesenyapan di padang lalu lalang dan kebingaran. Karena itu aku rela waktu luangku terbenam bersama, membicarakan kegilaan yang menggelepar-gelepar dan menertawakan batasan yang menelikung yang sedang kita lawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi semua mulai runtuh ketika ia ternyata juga seseorang yang memiliki gelak tawa sendiri dalam pestanya dengan kawan yang selama ini saya pikir sangat ia hindari. Dunia yang membuat saya menaruh bangga, bahwa ada orang sama sekali tak tergoda untuk mencicipi lantai dansa dan menggoyangkan dirinya dalam hura-hura juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ia tak bersalah mengenai ini semua, hanya saja aku merasa terhanyaut ke dalam perasaan terhubung dengan persamaan-persamaan yang semestinya memang ada. Hehe.&lt;br /&gt;Tak punya kata yang bagus untuk mengekspresikannya saya mau meminjam surat M. Rilke kepada Lou Andreas yang diterjemahkan Chairil Anwar di bawah berikut ini : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Turnborg, 19 Oktober 1904&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Lou Andreas- Salome&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tidak semua menipuku akan maju aku selangkah ke depan dan sudah semestinya aku lakukan setidaknya sekarang di masa yang dikaruniai ini. aku mungkin mengambil beberapa putusan untuk hidup tambah banyak bekerja dan lebih sadar dari kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa di sini bagaimana banyaknya pengaruh yang baik datang berkumpul padaku. Sipat sebenarnya yang baik dan kerelaan yang dalam akan menolong dari orang di sini, tenaga dan beningnya kejernihan mereka – perasaan berhubung dengan yang tinggi, rasa tertekan serta kenikmatan yang murni dari musim gugur bekerja di diriku dan aku bertukar benar. Aku sepotong besi yang lantas pijar dan palu akan berganti-ganti mendera…………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.......aku mau mulai tiap jalan dari pangkalnya dan semua yang kutulis akan tiada, lebih hilang lagi dari usapan di ambang, karena tiap tamu mambawa pergi pula jejak kakinya. Dalam diriku ada kesabaran yang berabad dan akan hidup serasa waktuku sangat panjangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersukur sebab saya menyadari bahwa  kerendahhatian yang begitu besar kadang adalah penyembunyian dari kesombongan yang lebih sulit dikira-terka. Dan kesenyapan yang tampak begitu murni hanyalah pemburuan penasaran yang dituntaskan tanpa mempertimbangkan ukuran kemanusiaan orang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-656716379267816695?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/656716379267816695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/656716379267816695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/saya-ingin-menuliskan-perasaan-saya.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-246836680903551325</id><published>2011-11-03T11:12:00.004+07:00</published><updated>2011-11-03T11:39:47.738+07:00</updated><title type='text'>Elegi : Suara dari  Altar  Sunyi</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;Gayatri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prapanca,&lt;br /&gt;Kataku dari surgaloka&lt;br /&gt;Maka apa kau masih punya&lt;br /&gt;Telinga yang mau menunggu&lt;br /&gt;Setiap sabda yang terbit&lt;br /&gt;Dari kehidupan yang terbirit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Wuruk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pitaloka,&lt;br /&gt;Engkau tak memiliki kesabaran&lt;br /&gt;Mengecup cinta dari tirai kesalahpahaman&lt;br /&gt;Dan dari tanah Bubat&lt;br /&gt;Dendam rakyatmu  mengalir begitu kesumat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Pitaloka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan pada si pesumpah palapa&lt;br /&gt;Aku tak pernah takut kafir dalam cinta&lt;br /&gt;Sebab dari rahim kesetiaan&lt;br /&gt;Takdirku dituliskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Mada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutahu adalah pengabdian&lt;br /&gt;Sumpahkupun sampai pada kebiadaban&lt;br /&gt;Karena aku setia pada junjungan dan cita-cita&lt;br /&gt;Sekalipun aku tak mengecap kenikmatan&lt;br /&gt;Sebab surga rasa pun tak cuma-cuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Wuruk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda,&lt;br /&gt;Paman patih telah mengebiri rasa cintaku sejak dini&lt;br /&gt;Maka ketika aku berselera pada perempuan&lt;br /&gt;Aku hanya berselingkuh atas jiwa yang paling rapuh&lt;br /&gt;Jadi biarlah anak turunku bertikai&lt;br /&gt;Sampai kedewasaan mampu mereka capai&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  16:44:28:10:11&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-246836680903551325?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/246836680903551325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/246836680903551325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/elegi-suara-dari-altar-sunyi.html' title='Elegi : Suara dari  Altar  Sunyi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2176524412364697868</id><published>2011-11-03T10:10:00.007+07:00</published><updated>2011-11-03T10:32:43.801+07:00</updated><title type='text'>Melayangkan Pandang pada Halaman Si Empu</title><content type='html'>Usianya lebih udzur daripada pertapa yang kini berkeliaran liar keran kehilangan tempat yang nyaman&lt;br /&gt;Atau kehilangan pekerjaan, sebab dunia menolak mereka yang tak ingin dikenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya lebih ganteng dari pada para pemuda yang rajin bersolek di salon dan pusat perawatan badan&lt;br /&gt;Sebab dari gelombang kehampaan mereka rajin mendengarkan&lt;br /&gt;Sejarah sebelah yang berteriak ; Sparta menang atas Athena!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si empu ini, yang berbicara dalam lembaran sunyi&lt;br /&gt;Bergema di seluruh  pelosok nusa &lt;br /&gt;Ada megalomania yang mampu merengkuh kehidupan semesta&lt;br /&gt;Tanpa pernah meninggalkan tanda kelahiran dan kampung halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi engkau adalah halaman depan&lt;br /&gt;Yang tak pernah tuntas dibaca dalam tindakan&lt;br /&gt;Juga dalam aksara, apalagi alinea&lt;br /&gt;Bahkan tiga kata keramatnya diamini oleh agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagaimana penghuni ruang lupa&lt;br /&gt;Dan tukang rindu terdapat di mana saja&lt;br /&gt;Tuhan dilupakan &lt;br /&gt;Agama dituhankan&lt;br /&gt;Perang dirindukan&lt;br /&gt;Untuk mensucikan keputusasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun hanya kenal &lt;br /&gt;Ia yang bernama besar&lt;br /&gt;Namun buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan yang membuatnya berpijar&lt;br /&gt;Dari abad-abad lalu sampai kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;blockquote&gt;22:02:22:10:11&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2176524412364697868?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2176524412364697868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2176524412364697868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/11/melayangkan-pandang-pada-halaman-si.html' title='Melayangkan Pandang pada Halaman Si Empu'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5257049257410642735</id><published>2011-10-20T23:59:00.000+07:00</published><updated>2011-10-21T00:21:19.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selembar ingatan'/><title type='text'></title><content type='html'>Dibandingkan hutangmu terhadapku, hutangku terhadapmu lebih banyak, kawan. Dan sekalipun persahabatan itu sendiri bukanlah sebuah transaksi ekonomi, tetap saya aku lebih merasa beruntung mengenal dan menjalin persahabatan dengamu. Kau, tahu, karena selama ini kita, aku lebih banyaknya, tak hanya membagi tawa, kadang hanya suka, keluh, kesah, ratap, igau dan masih bahkan hanya arena berekspresi minimalis. Tetapi begitulah, kesepian dari perjalanan eksistensi manusia menuju dan mewujudkan diri, kau dalam jeda-jeda yang teramat menyengat. Sekalipun datar dan bosan tak bisa dinafikan hadir dalam jalinan antar kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja aku memberimu ucapan selamat padamu, tetapi aku memilih untuk tak lagi memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang mendengar, aku lebih banyak ngomong. Sementara, kau tak pernah muak dan bosan menampung sampah yang meruah dariku. Dan itu jarang kudapatkan dari hubungan social yang seringnya tak dapat aku hindari. Tetapi kau, dengan tegas dan kerendahhatian selalu berucap; aku tak paham dengan benar engkau, hanya itu yang aku pahami. Lebih berutang lagi, bahkan, aku tak pernah mencoba memahamimu. Galibnya, kau malah merasa aku telah paham semua tentangmu sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyadari akan tiba suatu saat ketika masing-masing dari kita mulai mematok pagar rumah dan berharap halamannya tumbuh rumput dengan tawa generasi kemudian. Makhluk masa depan yang akan meneruskan dan menyertai kehidupan yang harus terus berjalan. Kau lebih dini menyadari itu, dan aku masih berharap suatau ketika di mana titik cakrawala akan kulintasi sebelumnya dan berlalu setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ketika kita semakain melangkah, titik itu kembali menjauh. Perjalanan tetap terus harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persimpangan, masing-masing dari kitapun bersua dengan makhluk-makhluk musiman yang berkedok persahabatan dan menertawakan keterperdayaan kita, di jeda-jedanya. Menuang anggur-anggur kenikmatan yang memperdaya kita dengan kemerasaberjalinan.  Tetapi tentu saja itu hanya berumur sesaat, ketika taring dan tanduk kepentingan menyeruak tak tahan. Dan kuharap, aku bukan salah satu dari mereka. Tentunya, kau pengecualian juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sandungan itu, sedikitnya kita mengerti, bahwa kita tak pernah saling mengumpat dan berharap doa dan mendoakan. Di hening saat orang lain tak peduli, di ramai saat orang lain sibuk sendiri, kita masih saling bisa bertukar frasa yang paling datar sekalipun. masih punya muka berhadap-hadapan tanpa suara sekalipun. muatan itu hanya terisi oleh kedataran yang lama menggenang. bukan sirkuit yang menyakitkan dan hanya berumur sekelumit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti biasanya, aku memilih tak memberitahumu mengenai kata-kata ini, sebab aku tak mau perasaan yang sesungguhnya membahagiakan dirayakan dalam himpunan kata-kata yang malah mengubur rasa itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5257049257410642735?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5257049257410642735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5257049257410642735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/dibandingkan-hutangmu-terhadapku.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7435548339946964628</id><published>2011-10-20T23:40:00.002+07:00</published><updated>2011-10-20T23:58:03.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selembar ingatan'/><title type='text'></title><content type='html'>Itulah bedanya aku dan kamu, kawan. Ada berlembar-lembar kertas dan tulisan yang sengaja aku alamatkan padamu namun tak kunjung aku kirimkan, hanya hendak bertanya, karena terdorong penasaranku yang terlalu : apa yang kini mengisi hari-hari dan pikiranmu? &lt;br /&gt;Aku bertanya bukan lantaran aku khawatir atau cemburu sebab kau selalu jatuh cinta dan rindu. Namun aku hanya takut bahwa kau beranjak dan memilih dewasa lalu mencampakkan sebuah kebenaran yang pernah kita baca. Sebab itu artinya sama saja kau telah berselingkuh dalam persahabatan kita. Kalaupun kebenaran itu telah menjadi kejahatan atau sesuatu beban, setidaknya aku melihat dengan penglihatan yang hampa dusta. &lt;br /&gt;Atau...kau, mungkin bahkan tak memiliki satupun tanya karena ada sesuatu yang memenuhi pikiranmu entah itu kau sendiri yang gila kerja atau kesibukanmu mencatat alamat setiap kata yang berbenak atau kata asing yang tiba-tiba menyeruak. Tetapi sejujurnya yang paling aku khawatirkan adalah engkau begitu bersorak dalam kanak abadi atau dalam kegilaan yang selalu ku-iri-i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mereka yang menolak dewasa dan pada mereka yang berbesar hati mampu berputus dengan "kenapa", cemburu dan penasranku tak pernah terburu-buru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7435548339946964628?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7435548339946964628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7435548339946964628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/itulah-bedanya-aku-dan-kamu-kawan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1947163141669197518</id><published>2011-10-20T20:24:00.003+07:00</published><updated>2011-10-20T22:13:36.984+07:00</updated><title type='text'>Membangkitkan Subjek di Meja Makan</title><content type='html'>“Enak benar ini makanan!” seruku girang pada suapan pertama setelah seharian menahan lapar. Tetapi adik saya yang masih duduk di sekolah dasar membalas, “siapa dulu yang makan!”&lt;br /&gt;Saya lihat adik saya serius, tak ada niat dia mengolok dengan sebab saya berselera buruk atau sebab saya yang rakus makan.&lt;br /&gt;Tak ada tawa. Saya hanya sedikit terhenyak : kebangkitan subjek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, selama ini kita sering amnesia kalau rasa makanan ataupun kesan yang dihasilkan hasil dari kualifikasi kualitas/kuantitas objek yang terindra adalah lantaran kandungan kualitatif dari objek tersebut. Kita lupa pada si pengukur, subjek. Kita nyaman dengan kualitas suatu produk karena “memang” produk itu berkualitas bagus. Atau mungkin seringkali bukan lantaran hasil kita menilai secara pribadi. Tetapi karena pesohor ini bilang begini, karena iklan bilang begini. Dan pada akhirnya karena orang banyak sudah bilang dan sepakat kalau barang itu memiliki kualitas ini. Atau bahkan kita jatuh pada sihir produksi. Barang itu oke lantaran produk yang telah terkonsekrasi sebagai brand yang berkualitas nan terkenal. Atau karena capaian simbolik yang lainnya. Akutanya, sampai juga pada fetisisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memakan makanan atau menilai rasa makanan karena ia memang banyak orang yang sudah mengatakan enak atau mungkin karena simbol yang dikandung makanan itu tinggi. Misal karena makanan itu mahal sehingga memberikan kesan pada yang memakan dan mengkonsumsinya tampak maju,modern dan berselera tinggi, elite, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita makan jajanan pasar yang sangat terjangkau dan akan tetap lezat lantaran kita lapar, sebab kita terbiasa, sebab memang lidah kita memang menggemari dan mengenal baik rasanya yang dihasilkannya, atau sebab rasa sukur dan proses intensitas pergumulan lidah dengan makanan sangat dinikmati. Atau dalam subjektivitas radikal a la Gandhi karena makanan itu enak dalam pikiran kita sehingga kitapun bisa merasakan ke-enak-an makanan yang kita makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula kalau orang lain yang tidak doyan dengan makanan yang kita makan, atau orang yang tak terbiasa memakan makanan yang saya makan, mungkin akan lain penilaian kualitatifnya serta memiliki penilaian kualitatif yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang hendak dibangkitkan kembali oleh neohegelian seperti Zizek. Mereka mencoba membangkitkan “subjek” yang diproklamasikan oleh para strukturalis telah mati. Tak bisa kita membantah, saat kapitalisme meratu dengan pengawalan ekstra ketat dari konsumtivisme. Menggempur individu dengan lingkungan artifisial yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga tak ada daya lain selain patuh dan tunduk terhadap pengaruh lingkungan yang digawangi kekuasaan dominan, tempat kapitalisme bernaung. Dan dengan terengah-engah, kekuatan individu sebagi subjek yang tak bisa melawan jatuh dalam objektivasi individu yang hanya bisa pasrah, tunduk, serta jinak terhadap sistema di sekitarnya. Apa yang dimiliki oleh subjek per individu selain sebagai sebuah pendapat dan sejarah yang “terbuang”? Dan apa yang dimiliki manusia pingggiran yang terlupakan? Apa otoritas mereka mentidak-enakkan makanan yang telah diklaim enak oleh pihak berkuasa/dominan atau pihak yang telah merasa bagian dari yang dominan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Cogito Descartes dianut dengan “kebablasan” sehingga menyingkirkan pesta ontologi atau lebih tepatnya metafisika, subjek harus hilang karena manusia membebek pada positivisme. Dunia yang objektif dan rasional menuntun kebutaan subjek dalam rimba ‘keilmiahan”. Sekalipun kemudian ada Sartre yang hadir dengan dewa subjektivisme , Subjektivisme (mel. eksistensialisme) Sartre-pun mengalami hal yang sama dengan cogito-nya Descartes. Ditafsir kebablasan dan justru dijadikan sebagai pijakan gaya hidup individualis, si karib kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita tahu kapitalisme sendiri tak pernah ramah dengan heterogenitas, kalaupun terpaksa sopan terhadapnya itupun karena ada “maunya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tadi, saat saya merasakan enaknya makanan, itu bukan hanya lantaran ibu saya yang masak atau bumbu yang dipakai diproduksi korporasi tengik yang telah mengimpalankan sejumput kualitas pada jidat masyarakat melalui iklan yang terulang dan terkemas menyenangkan. Tetapi hal terpentingnya adalah karena lidah saya merasakan bahwa makanan itu enak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1947163141669197518?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1947163141669197518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1947163141669197518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/membangkitkan-subjek-di-meja-makan.html' title='Membangkitkan Subjek di Meja Makan'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-9173833404877566627</id><published>2011-10-14T13:59:00.004+07:00</published><updated>2011-10-14T14:50:18.737+07:00</updated><title type='text'># nyampah</title><content type='html'>Laki-laki seringkali terburu-buru menyatakan perasaan cintanya terhadap perempuan. Dengan merasakan cinta, mereka seolah-olah telah dewasa. Dan tak bisa meragukan sedikit saya perasaan yang ia rasakan. Bahkan saat para perempuan meragukannya mereka semua memiliki jawaban yang sama dengan ungkapan Hamlet kepada Ophelia; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ragukan bintang itu api/ ragukan matahari itu bergerak/ ragukan kebenaran itu dusta/ tetapi jangan ragukan cintaku. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Padahal, bagi seorang perempuan, tak mudah membuat konklusi dan meyakini bahwa pernyataan itu benar. Apalagi hanya dengan/karena pernah bertemu dua atau tiga kali saja yang tak sampai berjam-jam lamanya. Atau hanya pernah terlibat kegiatan yang sama yang hanya berlangsung satu bulan. Padahal, sebagai seorang perempuan akan lebih nyaman semua jalinan berada dalam koridor persahabatan yang kokoh atau setidaknya saling lebih tahu satu sama lain lebih dari pertukaran informasi statistika semata dan saling nyaman dahulu, sebelum cinta menyeruak di antaranya. Sebelum cinta memorak-porandakan detak jantung dan keterbukaan sahabat. Sehingga saat bangunan kokoh persahabatan itu harus dirombak strukturnya menjadi hubungan lebih intim dalam hubungan apa yang disebut pacaran dari sepasang kekasih, atau mungkin hanya tetap sebagai sahabat, jalinan itu tak mudah rusak. &lt;br /&gt;Ada kalahanya memang perasaan itu berbalas. Namun, sebagai perempuan, yang berusaha untuk tidak menjadi mainan dan objek hasrat melulu, juga butuh waktu untuk menyusun sebuah konfirmasi dari pernyataan cinta seorang lelaki. Apakah pernyataan itu benar adanya atau hanya hasrat sejenak dan jeda sesaat dari penat seharian dan pelarian kelelahan. Atau hanya perasaan cinta sesaat yang akan tamat dalam hitungan petak umpat. Sekalipun pernyataan itu kuat, sangat kuat, terlalu kuat, namun jika tak memiliki ketahanan dan hanya kesementaraan, bukankah semua akan berbekas sangat menyakitnya jika kita, sebagai perempuan, dengan mudah mengiyakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai perempuan, kitapun hendak kembali mempertanyakan perasaan kita terhadap laki-laki; apakah kita telah jatuh hati atau hanya perasaan senang dicintai. Kalaupun benar perasaan itu disebut cinta, kita butuh tahu diri seberapa ketahanan perasaan itu. Agar di tengah-tengahnya tak perlu ada keributan yang kurang menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perempuan pun berhak berekspektasi dan diapresiasi. Bahwa ia bukan bola atu barang material lainnya. Seorang perempuan kadang ingin  diapresiasi (dicintai) seolah sebuah nyanyian. Yang tak hanya bisa dilihat dari sisi nada(fisik) saja, tetapi juga liriknya. &lt;br /&gt;Sebab, sebagai perempuan, makhluk yang konon memiliki ketahanan lebih tinggi dari laki, tak ingin menjadi arena yang hanya bisa dijajah dan disakiti dengan sekerat gombal akibat hasrat yang menggebu dari seorang lelaki sementara setelah semua penasaran dan pesonanya yang diincarnya telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi seorang perempuan, dan saya rasa bagi laki-laki juga, sebuah perasaan yang muncul terburu, jalinan yang dibangun terburu-buru, sering kali, walaupun tidak semua, berakhir dengan tergesa-gesa juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-9173833404877566627?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9173833404877566627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9173833404877566627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/nyampah.html' title='# nyampah'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7144219789662107779</id><published>2011-10-09T08:39:00.003+07:00</published><updated>2011-10-09T09:43:18.441+07:00</updated><title type='text'>Yang Ikhlas Bukan Di Atas Kertas</title><content type='html'>Sebab ikhlas tak pernah berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa ibu-ibu tak meminta anaknya memakai atau meletakkan namanya di belakang nama anak mereka. Itulah mengapa ibu-ibu tak pernah harus merasa cemberut jika sang ayah, yang iuran air man,  malah mengklaim anak yang meraka lahirkan sebagai anaknya ketika mendapatkan penghargaan, serta menganak-ibukannya ketika mereka tak mau tunduk pada kemauan dan keinginan sang ayah. &lt;br /&gt;Itulah mengapa kita, tanpa kita sadari, sering ingin membanggakan ayah ketimbang ibu. ibu sudah terlalu bangga menjadi ibu kita. Mencintai ibu hampir tak ada bedanya dengan mengasihi (karena kasihan). Sedang mencintai ayah tak pernah sepi dari sorot kebanggaan. &lt;br /&gt;Hal itu juga yang membuat kita, sering lupa peran orang terdekat (ayah-ibu) dan saudara ketimbang peran orang jauh yang justru selalu mampu diendus ingatan dan kesadaran kita dengan segera. Sementara dukungan dan jasa orang terdekat hanya masuk dalam bawah sadar yang seringkali terlindas arus waktu.&lt;br /&gt;Itulah kenapa juga, Wall’s, sebagai perusahaan yang berhasil menarik pelanggan anak-anak manja dan gila gengsi, mampu menangkap (dan merangkum) fenomena rabun dekat a la anak-anak dalam kalimat advertasi : anak kadang lupa, ibu selalu ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu juga yang membuat umat manusia disebut sebagai anak adam, entah laki-laki atau perempuan. Karena sudah jelas Hawalah yang melahirkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7144219789662107779?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7144219789662107779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7144219789662107779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/yang-ikhlas-bukan-di-atas-kertas.html' title='Yang Ikhlas Bukan Di Atas Kertas'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4463199663938250427</id><published>2011-10-09T07:30:00.003+07:00</published><updated>2011-10-09T07:43:15.854+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Diam 1&lt;br /&gt;Memanfaatkan ke-diam-an sebagai katalisator larut dalam sebuah tindakan atau hanya sebuah pelebaran untuk kembali merasakan ada yang berdenyut dalam tarikan nafas kita setiap waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 2&lt;br /&gt;Tetapi barangkali memang justru manusia merasa begitu terusik jika yang lain terus-terusan diam. Seharian saya berdiam diri di kamar. Banyak sekali manusia yang menggodaku untuk bersuara atau bertanya-tanya hal tak perlu. Sementara saat kita terselenggara untuk senuah obrolan ringan, mereka tak terlalu bernafsu untuk bertanya sesuatu yang memang perlu ditanyakan. Manusia, memang cenderung “mengganggu” yang lain. Manusia cenderung merasa tertantang jika berkomunikasi dengan manusia yang paling mirip atau paling berseberangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pada akhirnya aku merasa kembali akrab. Setelah terlalu banyak ngomong dan ngobrol serta berserah pada godaan untuk bercakap-cakap dan saling bersuara. Bersuara, pada akhirnya tak harus dengan bahasa lisan. Ia bisa juga dalam bahasa yang paling diam. Namun tak berarti tak terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang selamat pagi tak penting, sarapan pagi lebih penting. Bagiku diam di waktu pagi lebih penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam itu emas, mungkin berbicara adalah perak atau malah platina. Tetapi bagiku diam adalah sebuah gejala terbaik ketika bersuara hanya menimbulkan keraguan dan kesia-siaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang layak disembunyikan, kenapa harus dipamerakan. Mungkin ini karena manusia lebih suka berbicara daripada mendengar. Dan diam, diam-diam adalah senjata paling manjur untuk tak peduli pada penilaian orang. Diam adalah afirmasi pada diri untuk tak meminta perhatian secara berlebihan dari orang lain. Tetapi diam bukan juga penolakan kepada "sang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam bukan berarti tak melakukan apa-apa. Diam tak berarti tak memiliki kekuatan. Diam adalah simbol kerja yang paling minim kedahagaan pengakuan. Kerana dengan diam tak ada rongga yang harus menganga dan itu tak menimbulkan kehausan. Dengan diam orang tak perlu konfirmasi atas kehausan dan kelaparan pujian dan pengakuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mencintai dengan diam, tetapi tidak dengan diam-diam, rindu bakal terpelihara tanpa luka, sebab yang sejati selalu memberi ruang pada nafas yang bebas dan bukan tuntutan lekas-lekas atau modal balik. Modal besar, nonkapitalis, tak berasal dari hasil pemerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar! Bisakah kau tak menjajah telingaku! &lt;br /&gt;Imperialisme telinga yang disengaja untuk mengganggu "yang diam" sekalipun menjengkelkan, tak akan merobohkan semangat untuk kembali "menguatkan" diri. Sekali lagi dengan diam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4463199663938250427?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4463199663938250427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4463199663938250427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/diam-1-memanfaatkan-ke-diam-sebagai.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1965782940285684440</id><published>2011-10-09T06:26:00.003+07:00</published><updated>2011-10-09T06:43:44.915+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Aku tak begitu menyukai pagi dengan bunyi-bunyi, entah suara obrolan yang kencang atau sekedar bunyi nyanyian. Sepagi ini manusia sibuk saling melempar kata, di jalan, di rumah, atau di batas pagar antar tetangga. Bagi mereka hidup dan berinteraksi adalah bersuara. Ngomong. Ngobrol. &lt;br /&gt;Orang tak pernah berlapang dada pada apa yang namanya saling diam, tak banyak cakap, tetapi bukan berarti ngambek atau tak suka dengan manusia lain. Diam, kadangkala sering diterjemahkan sebagai kesombongan dan kejengkelan. Tak terbuka sedikit saja bahwa diam adalah pengendalian minimalis.&lt;br /&gt;Aneh memang. Saya sering melakukan perjalanan dengan adik saya hingga dua jam,dengan minim obrolan. Itu biasa. Tetapi ketika dengan teman-tema atau kerabat mereka akan bertanya : "kok kamu diam saja?". seolah keheningan memang harus dipecahkan dengan percakapan dan obrolan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bukan sebuah dosa, atau tak sopan jika kita bersama untuk tak selalu ngobrol dan membiarkan keheningan mengada bersamaan dengan kebersamaan kita. Hening, sepi, sunyi, tak harus disingkirkan sekalipun saat kita membentuk kerumunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1965782940285684440?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1965782940285684440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1965782940285684440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/aku-tak-begitu-menyukai-pagi-dengan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-9170608810897517120</id><published>2011-10-07T20:23:00.002+07:00</published><updated>2011-10-07T20:58:30.642+07:00</updated><title type='text'>Antagonis</title><content type='html'>Dalam dunia yang mengalami percepatan, saya mungkin masuk dalam kategori antagonis. Saya sangat menyadari itu. Label itu saya terima dengan baik, mengingat pendapat dan komentar teman-teman yang dialamatkan pada saya mengisyaratkan kalau saya adalah manusia tak bisa memahami dengan baik sopan santun yang semakin sensitive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membalas es-em-es gagap, terima telpon tak pernah mau, dikunjungi orangnya gak mesti ada, disuruh mampir ke tempat orang pilih-pilih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bunyi sandek teman saya sore tadi. Terus terang saya merasa kecut. Bagaimana saya harus menerangkan sedangkan teman saya itu tak butuh keterangan dan alasan? Meminta maaf juga percuma. Bukannya sibuk, saya justru banyak tak sibuknya. Tetapi kalau saya lagi tak ada niat untuk melarikan diri dengan bermain-main hape, ya saya tak mau. Ada beberapa teman yang sepakat kita kadang ngutik-utik hape karena lagi kurang kerjaan atau sedang lagi “nylimur” karena merasa dicuekkin di antara kerumunan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang kurang ajar seperti kamu, dari mana dapat teman?” Canda teman saya. Saya hanya mengangkat bahu sambil berkata; “Dibutuhkan orang-orang seperti kamu untuk menghadapiku”. Dalam hati saya berterima kasih. Ketemu spesies2 yang “tahan” dengan kekurangajaran saya.  . &lt;br /&gt;Tak ada label positif dari sandek tadi. Saya merasa bahwa saya begitu buruk dalam penilaian orang. Tentu saja kalau dirasa itu semua tak mengenakkan. Tetapi apa mau dikata. Saya memang begitu adanya. Tanpa bermaksud sombong, jual mahal atau sok sibuk. Saya tahu, sebagian orang berpendapat demikian dan saya akan terima itu sebagai kegagalan saya dalam berinteraksi. Yang artinya saya termasuk manusia yang memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan sosial. Atau paling tidak, saya adalah spesimen yang masih gagap menerima “peraturan” dan tak tahu sopan santun jaman yang berjalan begitu cepat. Dan karena sikap tak mau tahu kesopanan itulah saya juga sangat layak disebut egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganai hape, mungkin hanya teman-teman lama saya yang bisa tahan dengan tabiat saya; kalau lagi pegang hape, saya senang sekali nyampah dan kirim sandek tak jelas tanpa pernah mengharapkan balasan (karena memang es-em-es ngawuran) sambil sesekali membuat mereka geram. “Dasar tukang ledek! Kalau di es-em-es balasnya lama banget, atau malah nggak dibalas, eh kalau lagi kumat malah memenuhi inbox. Parah!”. Ya, mau bagaimana lagi.  Kerabat saja kadang merasa sedikit tersinggung dengan adat saya. Dihubungi nggak nyambung-nyambung, esemes nggak dibalas. Sindiranpun berseliweran. (tahan kok, hehehe). Yang kadang kasihan ibu saya, sampai dapat laporan kekurangsopanan anaknya yang tak membalas es-em-es dan tak menganggkat telepon. Pernah juga ada yang baikot komunikasi dengan saya gara-gara saya tak balas es-em-es, tanpa pernah bertanya "kenapa"(padahal juga kontennya bukan hal penting menurut saya), langsung mengeluarkan kata pedas : bakhil murokkab! (maksudnya pelit kuadrat). Padahal waktu itu saya benar tak punya pulsa dan lupa isi ulang sampai ketemu orangnya. Hingga beberapa bulan dia tak pernah menyapa kalau bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya curiga, jangan-jangan saya memang bukan orang yang siap dengan perubahan jaman yang cepat ini. Bukan cuma tak sedap dinilai orang lain sampai menimbulkan kesal. Saya sendiri berkali-kali kena dampakanya. Hape ketinggalan dan lupa naruh di mana yang kemudian tak bisa dicari karena tak pernah setting nada dering. Lebih parah lagi, waktu janjian dengan teman, saya sudah menempuh setengah perjalanan (satu setengah jam), waktu di lampu merah saya berhenti dan melongok hape yang ternyata sudah dihubungi dan dies-em-es berkali-kali mengabarkan: dompet tertinggal. Tahulah hal yang tak mengenakkan telah terjadi ; saya pergi tanpa membawa sim dan uang sepeserpun. Sebab dompet ketinggalan di rumah. Putar balik, maka perjalanan menjadi dua kali lipat waktunya. Yang harusnya bisa ditempuh 3 jam, terpaksa tergandakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, seringkali merasa kesulitan menjinakkan  diri supaya lebih santun berkomunikasi di zaman yang makin sensitif ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~buat para pawang dan ibu periku yang selalu tahan dengan pertemanan ini.&lt;br /&gt;Ceeeeeeeeeeeeer!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-9170608810897517120?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9170608810897517120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/9170608810897517120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/antagonis.html' title='Antagonis'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3388932495055083919</id><published>2011-10-07T20:17:00.001+07:00</published><updated>2011-10-07T20:22:04.031+07:00</updated><title type='text'>Liar</title><content type='html'>Sudah lama saya tak bertemu dengan orang baru yang hanya ngobrol kurang dari dua jam langsung mengecap sama satu kata : liar! Jantung saya berdegup cukup kencang. Lebih buruk (atau mungkin lebih baiknya) dia menantang saya untuk menambah kadar keliaran saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun diawali dengan cemoohan dan penghinaan, tantangan agar menjadi lebih liar aku terima. Karena aku tak bisa menolak hal baru macam apa dianggap menantang. Hidup kadang harus jadi arena berlaga. Tak peduli kalah menang, gelanggang baru itu terlalu manis untuk dilewatkan. Wilayah baru itu, ingin aku jajahi. Sensasi itu harus tuntas terlampias. &lt;br /&gt;Saat aku menolak kadar gilaku bertambah,juatru seseorang menantang agar derajat keliaranku dinaikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depanmu, aku tak bisa melonjak berjingkrak-jingkrak. Sebab  terus terang aku tak bisa berekspresi sebagaimnana adanya. Sudah lama aku tak bertemu seseorang yang bisa mencela dan menghinaku (atau memujiku) dengan porsi yang sedikit kasar. Sudah lama aku tak merasakan denyut jantung mau copot akibat nikmatnya termendum yang memompanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai bercengkraman dengan “buaian” dan “hembusan” agar bisa melewati hidup dengan segar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3388932495055083919?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3388932495055083919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3388932495055083919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/liar.html' title='Liar'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3595405218545214346</id><published>2011-10-07T06:46:00.008+07:00</published><updated>2011-10-07T21:10:52.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'></title><content type='html'>Laju sejarah manusia terganjal oleh urusan perut, demikian Foucault nyaring “menggemakannya”, sejak manusia mengenal rasionalitas kita mulai membentuk tabel gastronomi, mana yang layak dimakan manusia dan mana yang tak layak dimakan. Mana makanan yang paling efisien, dan mana makanana yang mengurangi mobilitas. Dan paling penting adalah mana makanan sehat yang jadi dikonsumsi orang kaya dan mana makanan yang nirekonomi yang bisa diraih kaum papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan juga menjadi event-ground pertemuan berbagai urusan. Mulai dari deal2 bisnis,politik, sekedar pesta sosialita, atau kencan. Makanan juga yang menjadi pengawal setia memisahkan si kaya dan si miskin. Makanan juga yang menentukan siapa yang berkuasa, siapa yang berweanang, dan (juga barangkali) siapa yang menang dalam perebutan status sosial atas  domistikasi  pihak yang ingin dikuasai; aku yang cari makan, akulah tuan kalian! Akulah yang berwenang di negara kecil paling otoriter ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi hal yang menyentuh perasaan seluruh lapisan warga dunia adalah, saat pertanyaan paling basis dan paling biasa ini diungkapkan sebagai bentuk perhatian (?); sudah makan, belum? Padahal kita tahu yang kita tanyai adalah seorang jutawan yang memiliki pelayan yang hanya dengan teriakannya siap menghidangkan aneka ragam hidangan, yang dengan uangnya mampu melenggang direstoran mana saja, yang kita tanyai adalah seseorang yang fasih mengurus dirinya, seseorang yang barngakali sangat lihai terhadap pelampiasan selera lidah. Si penanya berhasil mencapai maksud, yang ditanya juga cukup senang dan merasa diperhatikan.&lt;br /&gt;Kita, melalui makanan, tak pernah kehilangan keprimitifan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3595405218545214346?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3595405218545214346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3595405218545214346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/laju-sejarah-manusia-terganjal-oleh.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6811754073484796420</id><published>2011-10-05T19:31:00.004+07:00</published><updated>2011-10-05T20:42:25.371+07:00</updated><title type='text'>Nol Ikhlas : Dendam Terlampias</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Dari cerita nabi-nabi;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah iri saudara&lt;br /&gt;atau sekedar saling melempar kenakalan&lt;br /&gt;dan merebutkan perhatian Tuhan&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pada hari dimana kau merampas dongengku&lt;br /&gt;Pada telinga aku berkeyakinan bahwa akupun ingin jadi maling waktu&lt;br /&gt;Memburu setiap penjuru&lt;br /&gt;Untuk dapatkah berkah&lt;br /&gt;Seperti Eshol yang bisa merampas do’a Ayahanda&lt;br /&gt;untuk saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdamu mungkin bagi mereka yang ternganga dengan kata-kata&lt;br /&gt;Tetapi seruku menuju pada 'ulu yang paling kau cemburui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakan aku mengagumi tanpa pernah terselip dengaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya di sini berdiri&lt;br /&gt;Di arena nol duka&lt;br /&gt;Aku dan kau &lt;br /&gt;Saling berpacu dengan malu-malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sepanjang jalan balik&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6811754073484796420?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6811754073484796420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6811754073484796420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/nol-ikhlas-dendam-terlampias.html' title='Nol Ikhlas : Dendam Terlampias'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-619141612929193889</id><published>2011-10-05T18:20:00.003+07:00</published><updated>2011-10-05T21:36:11.451+07:00</updated><title type='text'>Tapak Sunyi</title><content type='html'>kita memang tak perlu sama &lt;br /&gt;tak usah mencampuri urusan di luar tapak ini&lt;br /&gt;aku himpunan &lt;br /&gt;aku kerumunan&lt;br /&gt;dan kamu ada utuh sebagai kau&lt;br /&gt;di luar itu, aku tak peduli&lt;br /&gt;di waktu lalu, dan nanti&lt;br /&gt;itu perhutungan, bukan urusanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jeda kita, hanya semburat tegang yang nyalang&lt;br /&gt;di luar itu gambang yang nadanya asing tak menganal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seru!&lt;br /&gt;kau tak masuk dalam keterpilahan&lt;br /&gt;seru!&lt;br /&gt;aku serukan lancang di jagat kekosongan&lt;br /&gt;aku kekurangan keakuan&lt;br /&gt;saat manusia-manusia asing memamerkan senyum kegembiraan yang sulit aku kenal&lt;br /&gt;kepada diri, aku serukan penolakan pada ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tapak sunyi, kembali)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-619141612929193889?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/619141612929193889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/619141612929193889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/10/tapak-sunyi.html' title='Tapak Sunyi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7996851681708505453</id><published>2011-09-28T10:31:00.003+07:00</published><updated>2011-09-28T11:02:03.913+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita-cerita habis lebaran'/><title type='text'></title><content type='html'>Kadang kala, gratisan adalah kutukan. Begitu yang saya rasakan ketika saya mendapatkan gratisan meruah dari sebuah operator yang saya pakai sementara seharian saya hanya memakainya beberapa saja. Di tengah malam, dengan sisa gratisan sms yang masih sangat banyak serta efek Joni (blak-blakan) yang masih bekerja, dalam suasana masih cair dan akrab akibat reuni dadakan serta sillaturahmi lebaran,  saya merasa  "wajib" menggunakan secara maksimal(melampiaskan) gratisan tersebut kepada teman-teman dengan berkirim sandek dengan bahasa yang sok akrab lagi sok bijak. Banyak yang setuju isi sms yang saya tebar itu. Ya, seputar "bunga-bunga" mengenai persahabatanlah. Namun, dua balasan cukup menohok jantung kemunafikan saya. Yang pertama balik bertanya: “apakah kita teman?”. Yang kedua adalah pernyataan; “aku tak yakin kalau kita bertaman”. Curigai perasaan kebertemanan kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm. Negasi seringkali memukau dan memberikan afirmasi, redefinisi, bahkan remember terhadap apa yang dinegasikan. Terus terang dibanding yang setuju saya cukup senang dengan jawaban yang penuh curiga. Memangnya siapa saya? merasa telah berteman dengan mereka? Apa hak saya mengklaim berteman dengan mereka, dan berteman atau tidak saya dengan mereka bukankan itu tak mengurangi hubungan yang sudah “terlanjur” itu? Baik dalam bingkai pertemanan atau hanya sekedar kenal dan berhubungan dengan saling berkirim kabar atau menyapa, hanya karena sering bertemu karena memang keadaan mengharuskan adanya interaksi, terus kita merasa berteman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula kenapa harus berteman, kalau kita cukup “baik-baik saja” hanya dengan saling kenal?&lt;br /&gt;Saya jawab : "Tentu saja engkau curiga bahwa kita hanya orang asing yang sesekali saling bertukar kabar, kita hanya manusia yang kebetulan hidup dalam satu masa dan berinteraksi di dalamnya. Sekalipun aku tak tahu jawaban pastinya, tetapi engkau sahabatku belum tentu aku sahabatmu, demikian sebaliknya. Kita juga tak layak merasa jadi sahabat hanya karena pertukaran dan transaksi kat-kata yang kebetulan bernada persahabatan, di antara kita hanya ada kata-kata, persahabatan-nya sendiri entah ada atau tidak, tergantung pengertian dan perasaan itu sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, dibanding persamaan dan saling mengerti, kita seringkali tidak mendapatkan itu semua. Kesimpulan pra-reuni dengan beberapa teman, karena didorong oleh beberapa teman yang sudah ganti pasangan, teman, bisa jadi adalah pacar abadi layaknya saya ralat dalam-dalam. Tak ada itu semua, kita hanya sibuk menghimpun kepentingan maksimal di dalam interaksi kita, bukan? Tanpa bermaksud mengurangi perasaan persahabatan bagi yang menyetujuinya, saya malah lebih semangat dalam menguatkan skeptasi adanya jalinan yang bernama persahabatan agarjalinan sosial itu tak melulu masuk dalam himpunan kepentingan saja. Bagaimana saya layak dikatakan sahabat mereka sementara saat mereka ulang tahun saya tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun? Bagaimana saya bisa dikatakn sahabat mereka tiap kali mereka berbicara mengenai salon, tempat makan, bahkan bursa asmara saya tak pernah merasa terlibat? Bagaimana saya bisa dikatakan teman mereka kalau saya ogah-ogahan tiap kali diajak kumpul-kumpul maupun tongkrongan. Juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya jawaban seorang teman cukup jenaka: "Beruntung saja kita tak hidup di zaman perang dan tak sedang perang, coba kalau dalam situasi itu. Kita harus bisa memilah mana kawan mana lawan". Saya pun mengamini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beruntung kita bukan musuh. &lt;/span&gt;Kalimat falsifikasi itu melegakan. Kita tak perlu tahu apakah kita berteman atau tidak, tetapi minimal kita bukan musuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7996851681708505453?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7996851681708505453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7996851681708505453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/09/kadang-kala-gratisan-adalah-kutukan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5613043711755342047</id><published>2011-09-28T09:55:00.007+07:00</published><updated>2011-09-28T11:19:06.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pagi tanpa Secangkir Kopi.'/><title type='text'>Igauan Kecut</title><content type='html'>Tiap bangun pagi, apalagi sangat pagi, normalnya semangat hidup menaungi. Tetapi tidak tahu kenapa baru setengah jam saya merasakan semangatnya, tiba-tiba saya merasa sangat gamang dan kecut menyambut pagi.&lt;br /&gt;Beruntunglah seorang teman, setelah satu jam berlalu, tiba-tiba beresemes(menanyakan sedikit persoalannya). Saya merasa jadi sedikit berguna dan kekeutan itu sedikit berkurang. Tetapi edan, dasarnya pertanyaanya lama-lama menggila saya mau tak mau “wajib” browsing. &lt;br /&gt;Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the shallows&lt;/span&gt; yang saya coba hindari tak bisa saya ingkari. Jejaring sosial saya buka dan juga blog tempat narsis dipiara pun saya perlakukan sama. Karena tak ada bahan untuk ditulis, saya coba-coba nulis dengan agak kecewa (lagi-lagi cerita) namun berharap terbit bahagia. He he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status teman tak jauh beda. “kenapa tiba-tiba hidup terasa membosankan?”. Sic! Mau dikata saya merasa senasib dah. Mantera Homer ( raih harimu!) tak lagi mempan, apalagi kalimat advertasi terbaru susu bendera (raih esokmu!), yang tadinya saya pakai buat bikin senyum gila menyinggung di wajah, malah ogah-ogah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Shallows&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm. Jauh sebelum baca buku &lt;a href="http://www.theshallowsbook.com/"&gt;ini&lt;/a&gt;, pikiran saya sudah pernah berkonklusi ; internet memang sangat meruah informasinya. Gagahnya: bikin pintar dah. Tetapi lama-lama kita kehilangan suasana kontemplatif kita. Saya sendiri tiap menghidupkan komputer tergoda untuk online dan menjelajah ke sana-kemari. Akibatnya kalau kita lagi ngerjakan sesuatu yang ‘harus’ pakai komputer, jadi tak usai segera. Browsing sih bermanfaat, tetapi apa mudah menampik godaan untuk mengintip resensi film, mengklik laman berita yang sudah berkali-kali kita dengar (butuh baca komen sentimental full emosionil sih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang sama seperti saya (rada picik menilai, gagah berandai, dan gemar mengkhayal), Buku yang ditulis Nicholas Carr ini menjadi "penguat" untuk tidak membuang "cara lama" (dan tetap elegan, ha ha ha), mengobati kerinduan terhadap jaman analog; tenggelam dalam bacaan (buku), fokus pada apa yang dikerjakan dan pada apa yang dipikirkan dan bukannya sesekali diinterupsi oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;notice&lt;/span&gt; surel masuk atau pembaruan status teman atau juga bunyi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;beep&lt;/span&gt; karena ada sandek masuk atau nada dering panggilan. (Oh, mesin tik tua, kau kini di mana? Ingin aku pajang di dekat jendela kamar. Mistis kali ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga, merindukan masa ketika saya tergopoh senang karena pak pos datang membawa surat kilat yang sekalipun pakai layanan kilat, yang sekarang tetap saja disebut surat keong yang isinya berhalaman-halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~&lt;span style="font-style:italic;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;enangan yang tak pernah lapuk adalah ketika kertas-kertas yang berserakan itu terangkum dalam sebuah kumpulan halaman yang menyatu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates, sesekali, harus angkat topi kepada muridnya, Platon. Bagaimana cara hutang “keabadian”itu  ditebus?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5613043711755342047?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5613043711755342047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5613043711755342047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/09/igauan-kecut.html' title='Igauan Kecut'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3120414920874227814</id><published>2011-09-28T09:29:00.003+07:00</published><updated>2011-09-28T11:20:28.133+07:00</updated><title type='text'>No Women No Cry</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulisan ini cuma tafsir iseng-iseng akibat lama melotot di depan PC, dan   keingetan Tukul Arwana yang sudah fasih berbahasa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Enggres&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang menafsirkan lagu yang dilantunkan Bob Marley tersebut sebagai lagu yang di latari dengan sebuah cerita mengenai lelaki yang gara-gara diputus kekasihnya menjadi menangis. Karena itu sampai-sampai membuat diktum; No women, no cry, nggak ada perempuan nggak ada tangisan, saya malah cenderung mengingat lagu ini sebagai sebuah anugerah tentang apa arti sebuah tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan adalah indikator paling dasar kelahiran seorang bayi dengan sehat. Bayi, ketika lahir tanpa tangisan, sekalipun bukan mutlak pertandan sehat atau tidaknya seorang bayi, akan dicemaskan oleh dukun beranak ataupun bidan atau dokter dan orang sekitar atau bahkan ibu yang melahirkan sendiri. mereka bakal ditepuk tepuk anggota tubuhnya agar sang bayi mengeluarkan suara tangisan. Maka lahir premis lanjutan; semakin keras tangisan perdana seorang bayi, semakin sehat keadaan fisik sang bayi. Dan itu sudah bisa membuat sang perempuan, aktor yang melahirkan, tersenyum senang bahkan bangga dengan kehadiran anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka; no women no cry, tak ada perempuan, tak ada tangisan “kehidupan”. Tangisan juga sering dijadikan indikator seorang sehat atau tidak secara mental. Orang yang hidupnya tak pernah atau sangat jarang menangis ketika tertimpa masalah berat, akan sangat dipertanyakan keadaan mentalnya. Maka aliha-alih menafsirkan lagu Bob dalam nuansa bias gender, dengan menuding perempuan sebagai biang timbulnya tangisan dalam pemaknaan peyoratif, mending menafsirkan dengan semangat  positive, tanpa membumbui dengan unsur pilojenik, misogenik atau nada sumir lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No women? Possibility, no cries.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3120414920874227814?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3120414920874227814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3120414920874227814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/09/tulisan-ini-cuma-tafsir-iseng-iseng.html' title='No Women No Cry'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7804754826344648463</id><published>2011-08-23T15:28:00.006+07:00</published><updated>2011-08-23T17:21:31.591+07:00</updated><title type='text'>Baju Mus(l)iman</title><content type='html'>                  oleh Generasi Sandal Jepit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan puasa, adalah bulan perburuan, di mana setiap muslim mencoba memperbanyak dan memaknai ibadah demi mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Giat  mengais hikmah di balik puasa menerjemahkan maknanya dari segi kesehatan, social, islamologinya, individual, bahkan dari segi roda ekonomi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Money never sleeps&lt;/span&gt;, duit nggak pernah tidur, apalagi beribadah atau beramal. Anak judul film Wall Steet ini ada benarnya. Mengingat pasar, ibu kandung dari uang itu, begitu berstaminanya mempertebal dompet siang-malam nonstop. Begitu gesitnya mengintai tiap sisi kehidupan dan kesempatan asal bisa mendapatkan laba. Ramadhan juga tak bisa mengelak dari incarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bulan yang memiliki gegap gempita. Dari pelaluan dan laku yang  sakral hingga yang profan. Dari yang teistik hingga yang sekuler. Uang bisa dikeruk lewat seremoni dan ritual agama. Mulai dari urusan perut dan lidah : berbuka bersama atau saur bersama, busana dan asesoris bulan puasa dan mengekor untuk hari raya, hingga  hiburan yang bernuansa pengajian. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa dikemas dalam kemasan yang “serba enak” dan membikin ketagihan. Ya, kita memang menahan lapar dari waktu imsak hingga waktu maghrib. Tetapi makanan yang kita santap menjadi lebih mewah dan tidak ekonomis dari hari-hari biasanya. Dengan berpuasa pula kita merasa suci dan memaki mereka yang tidak berpuasa. Ya, kita memang memperbanyak sedekah. Tetapi sedekah dan bantuan yang dimaksud selalu dalam arti material. Sehingga kita merasa pantas menepuk dada atas besarnya materi yang sedekahnkan. Ya, kita memang menjadi lebih santun dengan busanan muslim. Tetapi busana muslim yang dipakai bersaing dengan busana tetangga sehingga menyilaukan mata, dan harganya menusuk hati kaum jelata. Ya, kita memang memproduksi tayangan-tayangan religi. Tetapi mengapa nilai-nilai diiklankan adalah fundamentalisme agama. Di mana yang baik digambarkan sebagai yang berjilbab, yang jahat digambarkan dengan tokoh yang berpakaian norak. Tokoh protagonis, entah yang miskin atau kaya, di samping mempromosikan baju muslim yang sama-sama kelas butik, juga mempromosikan kejinakan yang berlebihan, ketundukan terhadap yang kuat tanpa perlawanan. Sementara kalau disuruh mengelah, karena menganut asas tak boleh su-udzon, mereka telak menerima kesewenangan dari pihak lain. Kesemua itu, adalah skenario pasar yang buat. licin dan memikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ya, kita memang mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu tetapi kenapa para penjual CD bajakan yang menjadi sasaran?  Mereka dipensiunkan dengan waktu yang tak tentu dalam rangka menghormati bulan Romadlon dan bukannya tindak pidana atas penyebaran hasil karya bajakan. Jalan sembunyi-sembunyi atau melakukan kamuflase dengan menjual jilbab atau minyak wangi sambil sembunyi-sembunyi melayani seorang pelanggan yang sepertinya sudah familiar benar dengan asongan sang penjual CD bajakan dan tanpa sengaja menggunakan jaket almamater akademi kepolisian lengkap dengan tahun angkatan. Atau ada juga yang terpaksa beralih profesi menjadi pelayan toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita juga bersabar. Tetapi kenapa kesabaran kita ditularkan dengan cara memaksa? Menurunkan sepleton pasukan untuk berjaga-jaga di pasar tradisional,dan bukanya di mal-mal atau swalayan besar,  kalau-kalau ada pedagang kakilima yang tak memakai “busanan muslim” sebagaimana bunyi peraturan daerah selama masa puasa. Ya, kita tetap berangkat sekolah. Tetapi kenapa sekolahan mewajibkan muridnya memakai seragam “muslim” sehingga membuat geger ibu-ibu kita agar menjahit baju seragam lagi atau harus mencari kakak kelas yang telah lulus. Siapa tahu baju mereka, yang kebetulan waktu sekolah memakai baju panjang, bisa dipinjam atau diminta secara sukarela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi yang hampir menjadi kiblat sehari-hari lewat berita, jadwal imsak, jadwal sahur, tayanganmodel baju, ngaji a la selebretis, asupan gizi, harus makan apa yang sehat, minum apa biar mulut nggak bau, makan apa yang menggungah selera, baju muslim model seperti apa yang sedang tren, kue apa yang bakal pas untuk dihidangkan dalam acara silaturahmi lebaran, peci apa yang akan dipakai, kerudung model artis sapa yang bagus dan sedang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;in&lt;/span&gt;, pun mengalami Ramadhanisasi program.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam kita telah bergerak jauh secara tak sadar, dengan memakai baju yang tebal dan tertutup rapat selama sebulan, barangkali, menjauh dari makna "busana muslim" dalam terminologi kitab suci : taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Tuhan mewajibkan umat yang beriman pada-Nya untuk berpuasa dengan tujuan ber-"busana muslim" yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7804754826344648463?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7804754826344648463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7804754826344648463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/08/baju-musliman.html' title='Baju Mus(l)iman'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4328522762645536506</id><published>2011-08-21T09:21:00.005+07:00</published><updated>2011-08-21T10:40:01.946+07:00</updated><title type='text'>Lembu Peteng</title><content type='html'>&lt;br /&gt;oleh Generasi Sandal Jepit (Rumput Tebing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam JLC kemarin (minggu ke-2 Agust), Sujiwo Tedjo berujar, jika bangsa ini mau sukses, dipimpinlah sama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lembu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;peteng&lt;/span&gt;. Yakni, seseorang yang tak jelas identitas orangtuanya (ayahnya), layaknya Soeharto dan Soekarno. Atau, dalam terminologi lebih klasik, sejarah masa lalu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lembu peteng&lt;/span&gt; ialah mereka yang terlahir dari pernikahan atau garwo yang tidak sah (selir). Sebagai permisalan, Ken Arok yang sukses melakukan suksesi dan duduk dalam tampuk kepemerintahan. Ia, bocah haram jadah itu, naik tahta dengan “kutukan” berdarah dan semangat gelak dari dendam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh sebelumnya Gus Dur pun pernah mengemukakan mengapa lembu peteng naik daun tiap kali masuk dalam bursa pencalonan pemimpin. Sebut saja karena lembu peteng yang lahir dari trah keraton namun tak memiliki hak secara sah untuk duduk sebagai penerus sang ayah. Kemudian  disamping menjadi kekuatan tandingan yang terus membayang dalam pemerintahan yang sah, yang tak tahan dengan berbagai goncangan, lembu peteng mampu dijadikan stok jika sewaktu-waktu kekuatan tertentu ingin menebar klaim sebagai pengganti yang sah terhadap ketakbecusan pemerintah yang legitime namun tak mampu melewati masa krisis. Dengan alasan penyelamatan itulah, lembu peteng bisa dihadirkan sewaktu-waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usul “nakal” Sujiwo Tejo mengenai sosok yang layak memimpin bangsa ini: sosok lembu peteng , di tengah kemelut bangsa  yang tak habis-habisnya akibat dari kepemimpinan sosok yang dinilai tak memberikan jawaban terhadap persoalan yang menimpa bangsa kita. bahkan dalam isu oposan perpolitikan negeri ini, seringkali disebut sebagai masa “kehampiran”  sebagai negara gagal, adalah keresahan yang sekali-kali ingin menengok sejarah “kalau-kalau”, “mbok menawa”.  Kalau dulu kita berhasil dengan kepemimpinan lembu peteng, kenapa nggak mencobanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menafsirkan lembu peteng dalam terminologi non-genetik namun masih nostalgik., yakni ; sebuah sosok yang hadir dari gelombang lain. seseorang yakni mereka yang awalnya tak diperhitungkan, mereka yang pada mulanya tak dianggap maupun yang dipandang sebelah mata. Yang kesemuanya, sebagaimana kebiasaan lembu peteng, hidup lama di antara rakyat, yang kemudian membuat mereka belajar persoaalan riil kehidupan, dibanding tumbuh dalam kerangkeng istana ( baca: lingkungan elite politik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa penggulingan kekuasaan olem lembu peteng dan kepemimpinannya sering kali menuai sukses, walaupun kegagalannya juga berimbang.? Apa karena sejarah seorang yang tidak memiliki identitas jelas, di luar ia merupakan muncul dari kalangan rakyat biasa sehingga ia pun mendapatkan dukungan yang kuat dari rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologi lembu peteng itu sendiri adalah sebuah “perjalanan”mencari identitas diri,  pengakuan, sehingga hasrat untuk mewujudkan ambisi yang begitu besar tersembur dalam perilaku kepemimpinan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno memiliki ambisi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai polar peradaban dalam blantika politik internasional. Kita sayup-sayup atau malah masih jelas dengungan GANEFO yang ia inginkan menjadi counter PBB bikinan Amerika. Kita tahu betapa Soekarno kurang menyukai Malaysia karena Negara tersebut membebek kebijakan Inggris. Tetapi sekalipun Soekarno pernah radikal, ia tak mau mengkopi paste ideologi kiri dari blok Timur. Ia ingin komunis, nasionalis, tetapi agamis. (seberapapun akurat ideologi dan seberapa berseberangan niali-nilai yang melandasinya, terbuka kemungkinan memunculkan mengawinkan dengan rekayasa sedemikian rupa. (Belajar rekayasa genetika (ideologi) yok?!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeharto juga bukan pribadi kacangan, ia memipikan kegemilangan tandingan dari pendahulunya. Negara ini secara singkat dan cepat melakukan pembangunan infrastruktur yang besar-besaran. Sehingga kegemilangan fisik dari negara yang masih seumuran remaja yang sibuk pacaran dan bersolek itu menjadi lupa diri, bahwa untuk menjadi yang terdepan diperlukan asupan gizi dan gemblengan mental, moral dan spiritual.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau mau dicungkil dengan psikoanalisa Freud, di mana masa lalu(masa anak-anak), trauma masa lalu,  sebagai tonggak kepribadian serta navigasi perilaku kita sehari-hari. Orang yang memiliki masa lalu tidak menyenangkan memiliki kecenderungan merehabilitasi identitas secar berlebihan. Di mana tituk balik dicapai sebagai tumpuan untuk lompatan masa depan. Suatu “trauma” dapat membawa pribadi tumbuh dalam “kegilaan”  yang bermanfaat (secara komunal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau juga, barangkali karena lembu peteng adalah hasil perilaku seksual yang muncul dalam perilaku social yang berhasil mengkonfrontasir dan menjinakkan rintangan prosesi menjadi pemimpin? Dengan berasumsi bahwa seluruh rintangan menuju kepemimpnan tak ada apa-apanya dibanding menerima kenyataan “ketakjelasan” ataupun keabu-abuan status dan identitas orangtua? Dengan kata lain kepemimpinan atau keberhasilan memimpin merupakan kompensasi dari “pengakuan” diri seorang anak yang “tidak penuh”? Yang parahnya, ketundukkan yang dipimpin pun dirasa tidak setara dengan pengakuan dan keberadaan mereka “yang sah”. Ketidakpuasan ini lalu muncul menjadi obsesi-obsesi yang sedikit “gila”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kemungkinan ketiga adalah lembu peteng hadir sebagai ‘si liyan’, sosok ‘yang lain’ atau istilah kerennya “the other”. "Yang liyan", yang tampil mendobrak narasi besar yang telah bobrok, yang selalu memiliki logikanya sendiri sehingga mampu menggantikan "logos" yang telah usang dan tak memiliki solusi. Negasi dari status quo yang tak representatif atas kepentingan dan keinginan rakyat, antagonisme kritis yang siap untuk menumbangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;status quo&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beberapa kemungkian  bagaimanapun kepemimpinan itu hadir dan yang jelas tak harus lembu peteng, ada yang sangat menggelithik dalam benak kita mengenai hadirnya pemimpin yang “tak jelas”, ia berjibaku untuk ‘hidup’, sebagaimana umumnya pemimpin, dengan jelas. Ia terus berjuang untuk “diakui” secara cadas sejak sebelum ia menjadi pemimpin, ketika masih “memimpin” dirinya mengarungi “pertumbuhannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ebab keberangkatan yang tak stabil akan menghasilkan gemuruh yang tidak datar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4328522762645536506?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4328522762645536506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4328522762645536506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/08/lembu-peteng.html' title='Lembu Peteng'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3910306831215237590</id><published>2011-08-16T00:25:00.005+07:00</published><updated>2011-08-16T02:55:33.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'># nyampah</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Tadarus Bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ada beberapa celetuk membenak. Meronta hendak memisahkan dari lintasan ingatan. Layaknya kemanjaan yang di pertegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah tahu bahwa aku seorang pengalpa, terhadap yang lewat tiba-tiba,dengan tergesa, atau yang mudah mengupas tak jelas. Maka di mulai dari ingatan masa kanak yang galak nyalak meminta kembali dieja. Atau, sekedar gerutu yang lembam biru cemburu pada rindu yang memiliki kemegahan dalam limbo masa lalu. Jika hanya sejenak, lupakan saja sekalipun kata gemilang nyalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan kertas aku angkuh dan malas. Karena itu beberapa pengingat dan pencacat tak bisa sembunyi terus dalam sarang. Kadang yang dituju adalah kebebasan, yang didengungkan sejak dalam kandang. Atau, sesungguhnya kebebasan itu hanyalah kematian usaha mengingat dan ke-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;emoh&lt;/span&gt;-an terganggu dengan berisik yang paling bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oho! Ini memang hanya kesah seorang yang masih ogah mengikuti arakan masa yang akan datang, dan secara sukarela terjebak pada masa silam. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3910306831215237590?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3910306831215237590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3910306831215237590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/08/nyampah.html' title='# nyampah'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6563524301842630403</id><published>2011-08-10T17:16:00.001+07:00</published><updated>2011-08-10T17:39:50.969+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Inkarnasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu aku, kau-ku&lt;br /&gt;Mengaduh dan lalu&lt;br /&gt;Berkacak congak, kau-mu&lt;br /&gt;Membawa cat dan malu-malu&lt;br /&gt;Melukis gelisah menjadi bidah&lt;br /&gt;Di masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kau, aku-mu&lt;br /&gt;Meretas di sunggging jiwa cadas menggema&lt;br /&gt;Mengoyak pandangan&lt;br /&gt;Bagi mata lapar&lt;br /&gt;Harmoni, aku-ku&lt;br /&gt;Harta karun ranum&lt;br /&gt;Dikait kepala jentera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tak perlu&lt;br /&gt;Berbahasa dengan suara &lt;br /&gt;Ada yang tak pantas&lt;br /&gt;Bertulis abjad terbaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kita, yang pernah mesra&lt;br /&gt;Kau dan aku-ku, oh, kitaku&lt;br /&gt;Menyeberangi lautan sunyi tanpa tepi&lt;br /&gt;Sebab di pantai asing saja&lt;br /&gt;Bibir dan tangan berpagut &lt;br /&gt;Saling merenggut dan menggagahi&lt;br /&gt;Kematian yang paling pasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;     PP, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6563524301842630403?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6563524301842630403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6563524301842630403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/08/inkarnasi-itu-aku-kau-ku-mengaduh-dan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7479154356397719732</id><published>2011-08-01T07:56:00.002+07:00</published><updated>2011-08-01T08:06:08.876+07:00</updated><title type='text'>pengakuan #1</title><content type='html'>Tuhan, mengapa aku merasa Engkau semakin Lain?&lt;br /&gt;Bahkan di saat begitu banyak orang  memiliki degup menyambut sebuah bulan penuh cinta. Bahagiaku tak mampu berdenyut barang sesaat. Hanya detak datar yang tak berdenyar seperti biasa-biasanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui, menyambut tandaMu tak harus gempita, tapi jika menonton dan menyambut sajian dan bikinan manusia saja makhluk macam aku ekstasa, kenapa kepadaMu aku tak lagi menderu, walau hanya memberi jejak kata barang satu dua? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menyambutMu dengan sungging senyum tak lagi merona, kecuali harus pura-pura. Dan berjingkak mengingat Kau dengan sorakpun, sudah amat tercekat. Aku hanya berdegup tak rapi, saat aku mengingat kepadamu aku sudah tak mudah membuncahkan bara di dada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu harus berdoa bagaimana. Aku tak tahu lagi bagaimana berdoa yang merangsang birahi hidup yang menari seperti kuas di atas  takdir kanvas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…maaf dan tolonglah ini perasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7479154356397719732?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7479154356397719732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7479154356397719732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/08/pengakuan-1.html' title='pengakuan #1'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1036710124802732308</id><published>2011-07-29T16:27:00.003+07:00</published><updated>2011-07-29T17:55:04.351+07:00</updated><title type='text'>Pekak</title><content type='html'>kuterima sebuah suara yang menggelitik dan memekik, tentang semua rasa yang mengejar segala sesuatu yang membuat aku sama sekali tak memiliki sebuah unggahan. dan kali ini aku beranikan diri, menatap mata yang menantangku bermuka-muka. akan bahaya hidup dan mengatakan ya. akan tantangan mengatakan pergilah untuk kemudian kembali. Bagaimana menenggelamkan aku pada sebuah proses yang harus aku mulai sendiri. tentang tanggung jawab yang tak bisa dibawa kemana-mana. &lt;br /&gt;serasa dunia amat gelap dan menggelapar. Berkata "ya" pada yang lain. namun teramat sungkan bersepakat dengan diri yang menggigil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengarungi terik bak padang pasir gersang jiwa terguncang dalam keterasingan. sebuah pesona sempurna antara sepi dan kepongahan. sebuah kegundahan tak berujung di antara lorong dan kerlip lambu yang mengerling seperti rayuan setan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, barangkali di sudut bumi, ada Tuhan yang menguji dengan selembar tekateki. menertawakan manusia yang beradu pendapat dan saling debat. Barangkali juga ada manusia bebas yang ngeri apa arti mengerti dan arti berinteraksi. Ngobrol ringan dengan menerima "yang lain" sebagaimana adanya. Bukan setiap bertemu spesimen atau makhluk memanadang sebagai lahan penanaman diri dan wacana. Ekspansi eksistensi, tong tempat memekakkan lolongan dan hasrat pengakuan secara paksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika pertama kali aku menyambut rayuan kata. aku tahu bahwa aku memilih jutaan helai sunyi yang tak mudah dijelaskan. bahkan dengan kata itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi sekalipun aku mengerti bahwa apalah saya ini, dan untuk apa saya mencari, aku masih sibuk bertanya, dan sesekali lampias marah karena jawaban justeru makin remang ketika nyala mulai timbul dan muncul sebagai titik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buhul sisifus, mengendus lalu menelikung kabur. repetisi abadi sejuta degup, yang tak mengerut, tak bisa diamankan dalam jeda lama. sebentar yang pejal, menukik ke jurang berkekuatan. entah apa, ketika di tangan kita bertanya tentang piala yang membalik sekaligus menghujam : apalah saya, Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1036710124802732308?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1036710124802732308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1036710124802732308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/pekak.html' title='Pekak'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-100812576651533631</id><published>2011-07-29T16:04:00.004+07:00</published><updated>2011-07-29T18:25:15.746+07:00</updated><title type='text'>Inspirasi</title><content type='html'>Sesuatu yang membuat engkau lupa&lt;br /&gt;Menghitung waktu yang melaju&lt;br /&gt;Sesuatu yang membuat engkau kembali &lt;br /&gt;Ke tapak sunyi&lt;br /&gt;Yang meraung di ujung siang&lt;br /&gt;Dan melonglong di pokok malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang membuat engkau tak lagi berhitung&lt;br /&gt;Tentang seberapa yang kau peroleh &lt;br /&gt;Dan seberapa keringat yang meleleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang membuatmu terus kembali&lt;br /&gt;Sekalipun ia memeberi pedih&lt;br /&gt;Justeru menerjangnya kau akan bertahta&lt;br /&gt;Dalam ketegangan hidup yang didamba&lt;br /&gt;Pembasuh waktu dan pengagum senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pesona yang memancar&lt;br /&gt;Sepadan dengan kata pergi lalu pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau 'ya' dan 'jangan'&lt;br /&gt;Dalam degupan kekinian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-100812576651533631?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/100812576651533631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/100812576651533631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/inspirasi.html' title='Inspirasi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3521714596462839334</id><published>2011-07-20T01:09:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T01:13:43.125+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sajak Lugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang salah dengan kerah kemejamu&lt;br /&gt;Seseorang merapikannya tanpa ucapan salam&lt;br /&gt;Lugas menuju pelukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tanganku tak kuberikan&lt;br /&gt;Karena bahumu sudah ada yang bersandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila malam menjelang&lt;br /&gt;Aku bisa bersuara lantang&lt;br /&gt;Mengibaskan kemesraan yang menjauhkan pertobatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3521714596462839334?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3521714596462839334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3521714596462839334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/sajak-lugas-ada-yang-salah-dengan-kerah.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5247786129411072732</id><published>2011-07-18T10:47:00.006+07:00</published><updated>2011-08-10T17:08:44.882+07:00</updated><title type='text'>Country Strong</title><content type='html'>Ringan namun manis. Itukah kalimat pendek yang bisa meringkas adanya film Country Strong. Dan kita layak gigit jari jika melihat kenyataan bahwa ada begitu banyak manusia inspiratif dari negeri ini yang sayang sungguh sayang jika tak diangkat ke layar lebar. Taruhlah para intellectual abortus seperti Gie (sudah diangkat), Chairil Anwar (hampir diangkat oleh alm. Sjuman Djaya namun keburu meniggal), Kartini ( antah kapan), Widji Tukul. Atau kisah fonding father selayak Hatta, Soekarno, Gus Dur (ini bakal asik dan unik), Tan Malaka (seru sekali kayaknya). Nggak usahlah sama persis dengan kehidupan mereka.tapi mirip-mirip dan ditambah bumbu-bumbu yang imajinatif tak menutup kemungkinan membuahkan karya dan produksi makna yang cukup berlaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada kita berharap yang barangkali terlalu jauh, simak saja cerita mengenai bintang yang berada dipuncak ketenaran yang karena khas para selebetris (tak bisa melalui hari-hari yang tak “normal” sementara batinnya merindukan kehidupan sebagaimana manusia biasa yang tak dituntut harus sempurna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Kelly, mega bintang country pop yang sedang dilanda kepedihan karena kematian janin berusia lima bulan yang dikandungnya akibat jatuh dari panggung (Di duga kera alkohollah penyebab ketak seimbangan itu). Dan ya, Kelly pemabuk.&lt;br /&gt;Saat usia rehabilitasinya belum usai sang suami sekaligus menejer  dan pelaku industri musik yang tak sabar ingin “mengeksploitasi” si mega bintang yang sudah dirindukan penggemarnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata Kelly harus kembali ke panggung. Namun Kelly punya syarat; Beau, penyanyi café   yang dia kenal saat mas rehabilitas, harus menjadi penyanyi pembuka. Suaminnya yang telah memilihi ratu kecantikan kota Dallas sebagai penyanyi pembuka, menyetujinya asal Beau bisa tampil memukau. Dan memang Beau bukan anak baru dalam musik. Tetapi apakah ia tertarik ikut tur dan iming-iming rekaman dan bikin album?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering tergesa-gesa menjadikan hobi dan minat kita sebagai mata pencaharian, sebagai komoditas. Memangnya kenapa kalau seorang jenius musik memilih tetap menjadi petani yang tiap istirahat siang menggubah lirik dan malamnya meracik musik. kemudian memainkannya untuk tetangga dan menghibur warga desanya? &lt;br /&gt;Kenapa harsu dianggap bodoh jika pemusik sejati tak mengandalkan musikalitasnya atau kemampuan bernyanyinya untuk hidup sehari-hari, tak harus jadi pengusaha atau pemegang saham, barangkali hanya sekedar bertenak dan bertani juga tak apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Beau memang lain.  Bagi dia melakukan kesenangannya (menyanyi) dengan ada yang mendengarkan dan menikmati musiknya, sudah cukup. Tak harus ada berjubel penonton dan gemuruh tepuk tangan. Sedang ia tetap bisa membantu temannya mengurus ternak dan bertani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya kenapa kalau kita memilih menolak definisi kesuksesan yang selalu berarti uang banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beau mengerti Kelly, dan Kelly kagum akan “kelembutan” rasa Beau yang pernah berkata bahwa ketenaran dan cinta tak bisa saling berdampingan. Untuk Kelly semua rasanya terlambat, suaminya tak sudi hidup miskin sekalipun berlimpah cinta, tetapi itu berarti Kelly kehilangan moment mencintai yang nyatanya lebih berharga dari kegemilangan karier dan enam Grammy yang ia raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun Kelly memohon dengan sedikit berulah, suaminya tetap juga tak (mau) mengerti. Maka Kelly mengalah untuk mengerti serta terbebas dari semuanya. Melngikuti keinginan suami, penggemar dan industri (pasar): menyajikan performa yang gemilang sebelum ia "menghilang" untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku berhak untuk menghilang, tetapi jangan khawatir, aku tidak tergesa-gesa,” pesan Kelly untuk Beau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicintai orang banyak, dikagumi jutaan penggemar, dikenal alias tenar di seantero dunia tak menjamin seseorang mampu menjalani hidup lebih lama, justeru sebaliknya. Tak heran tak sedikit pesohor yang di puncak karier dan tak bisa menghadapi dengan kenormalan (apalagi membaliknya ke masa lalu) &lt;br /&gt;memilih hidup immortal dalam kejayaan : bunuh diri!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5247786129411072732?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5247786129411072732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5247786129411072732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/country-strong.html' title='Country Strong'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4542938522514373686</id><published>2011-07-18T09:02:00.003+07:00</published><updated>2011-07-18T09:35:18.773+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>[Seorang teman yang selalu mengumandangkan bahwa akulah sahabat baiknya, menyatakan aku selalu ada saat dia butuhkan bertanya padaku : “Apakah kamu tak butuh aku?”&lt;br /&gt;Aku hanya bisa membatin, dari pertama kamu sudah menolak untuk dibutuhkan. Maka untuk apa aku menggantung dan tergantung kepamu?”]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang suka perang selalu ingin menang. Tetapi mereka yang sering menang tidak selalu karena perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena selalu merasa memiliki pesona, seseorang berbuat semena-mena. Padahal lagak seperti itu sudah telanjang bulat bisa dibaca mereka yang baru belajar satu aksara laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apolitis itu wajah yang cuek pada kesewenangan atau muka yang bersinar galak dalam pembangkangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egois itu sah selama egoisitas kita nggak dibawa-bawa ke ruang publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gengsi itu tidak cuma-cuma. Apalagi sampai memeliharanya, butuh biaya ekstra!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4542938522514373686?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4542938522514373686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4542938522514373686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/seseorang-teman-yang-mengatakan-bahwa.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7830130429378835253</id><published>2011-07-18T09:00:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T09:22:33.744+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kepada Seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau bukan siapa-siapa &lt;br /&gt;Tentu akan lebih mudah&lt;br /&gt;Menjalin keinginan dengan slogan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kau bukan seseorang &lt;br /&gt;Kau akan lebih merasa dianiaya&lt;br /&gt;Sebab saban hari orang menghadiahi&lt;br /&gt;Innalillahi dan caci maki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saat kau memilih jadi yang terdepan&lt;br /&gt;Dan menjadikan seseorang menghujani ciuman&lt;br /&gt;Tiap kali bersalaman&lt;br /&gt;Dan kau menobatkan diri jadi tauladan&lt;br /&gt;Kepada warga yang berharap sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika bara rasakan panasnya&lt;br /&gt;jika lilin nikmati nyalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintamu dengan maaf yang dalam bukan tanda kekalahan&lt;br /&gt;Simpatimu yang awam tak mengurangi harga diri&lt;br /&gt;Kepada warga yang santun berharap sahaja&lt;br /&gt;Tetapi kenapa enggan kau lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau juga akan abadi jika tak menghasilkan &lt;br /&gt;sekeranjang ubi atau sekardus mie&lt;br /&gt;sebab si sederhana akan mengerti tentang harapan yang lebih wangi&lt;br /&gt;dengan sebuah kesetiaan antar diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa saat satu lapar&lt;br /&gt;yang lainya sibuk membangun istana dengan kaca-kaca&lt;br /&gt;tempat bayangan meraja dan mengerling fana&lt;br /&gt;adalah masalah yang tak bisa dipandang dengan senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andai kau bukan apa-apa&lt;br /&gt;aku tak akan peduli apa yang kau beli&lt;br /&gt;apa yang kau teriaki&lt;br /&gt;apa yang pedulii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan pura-pura tak peduli&lt;br /&gt;karena aku tahu nurani kita sebagai aku yang di sini&lt;br /&gt;dan kau yang di sana sibuk beresonansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detak jantung antara&lt;br /&gt;ksatria dan rakyat jelata&lt;br /&gt;terpompa dari daya yang sama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7830130429378835253?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7830130429378835253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7830130429378835253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/kepada-seseorang-andai-kau-bukan-siapa.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4803942999400343190</id><published>2011-07-18T08:54:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T08:58:44.191+07:00</updated><title type='text'>Intim Dalam Diam</title><content type='html'>Intim Dalam Diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang terlalu banyak bicara. Maka sebaiknya kita berpisah dalam arti metafora. Kerana antara kita justeru mampu saling sayang dalam diam. Aku sudah meyakini itu. Urusan kau mengucilkan aku, aku tak pernah merasa terkucil dalam arti yang sebenarnya. Karean aku setidaknya memiliki kiat-kiat hidup terkucil sejak dini. Sejak kecil, sejak bocah, sejak belum tamat taman kanak-kanak. Kau tentu akan lebih senang jika aku tak banyak bicara, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku ingat kamu ketika dalam sepi maupun kerumunan. Ketika dalam kegembiraan puncak maupun kesedihan. Tetapi dengan segala hormat aku tak mau melibatkan semua emosi yang menjijikan, atau membuat kau jijik. &lt;br /&gt;Ya. Aku ingat waktu kau memancingku agar aku merasa sebal dan kamu gagal. Dengar, aku tak tahu benar kau makhluk macam apa luar dalam, jadi aku tak menemukan negativitas dalam dirimu, sekalipun aku sengaja bertindak menyebalkan atau pura-pura tak peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkas bukan? Maka jangn diperrumit-panjangkan. Tak usahlah kau sengaja membuat aku cemburu atau membangkitkan keirianku. Tak perlu. Aku sudah kenyang dan kasihan pada diri yang itu berarti aku juga kasihan padamu. Kau tertatih hanya menyulut kemarahanku. Kau, apa kamu tak menyadarinya? Apa kau tak ingin mencoba membuat aku sedikit nyaman saja? Atau kenyamananku membuat kau tak nyaman? Baiklah kalau begitu aku harus pura-pura tidak nyaman agar kau merasa nyaman, begitu lebih baik? Atau kau makin merasa dilecehkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar, sebetulnya dari awal aku tak mau bersitegang apalagi berdebat denganmu, tetapi tetap saja kau merasa rugi bila tak mengusikku. Katakan, aku benar?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, mereka sedang membuatku merasa sedikit gatal tentunya. Ha ha ha. Aku sama sekali tak akan perduli. Percayalah itu akan membuat aku semakin kuat Bukan kebencian. Tetapi perasaan bahwa aku tak disuakai banyak orang hanya karena memiliki selera yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku nyatakan hal sepele ini tentu saja mereka tak mau mengakui. Lagi pula kemasannya buruk dan menyudutkan jadi tak mungkin mereka suka. Mereka itu menyukai sedikit keindahan yang melekat pada diri mereka, jadi kalau hal buruk, sebaiknya jangan diungkapkan dalam kata atau ucapan yang paling telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa? Aku seperti penjual serabi? Ha ha ha. itu komentar terlucu yang pernah aku dengar. Kamu memang lucu dan tak ada yang bisa mengapresiasi kelucuanmu kalau tidak dalam suasana geli. Tetapi aku cukup adaptif. &lt;br /&gt;Ya. Memuji diri sendiri kan boleh. Daripada terlalu lama aku menunggu ada pujian yang keluar dari mulut orang lain padahal aku sudah lama mengagumi kata-kataku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang saja. Aku bukan penikmat narsisi yang bisa berlam-lama. paling-paling dari relungku juga datang suara tak perima kalau aku sudah kebangeten jatuh dalam jurang atau terbuai dengan pujian dari diri maupun orang. &lt;br /&gt;Satndarlah kebanggaan yang aku rasakan. Manusia juga tak sudak lekas berpuas-puaas toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau tak meninggalkan jejak bahwa kau pernah menungguku, maka aku  juga tak tahu, karena aku bukan si mahatahu. Tetapi ternyata kau cukup pemurah terhadapku sehingga aku tak perlu mengendap-endap mencari-cari jejak tak jelasamu. Tapak yang lekas-lekas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau menginginkan aku meneruskan kata-kata sialan ini? aha, kau meminta dengan pura-pura berhenti atau pergi. Baiklah ini bukan kisah buruk seandainya kita pernah bersengketa dengan kata-kata. Kerapuhan masing-masing telah kita ukur. Tinggal kuda-kuda terbaik untuk pacuan ini. atau kau memilih mengikatkan sabuk pengaman? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku beri saran kau pakai gigi tiga, karena medan kita berundak-undak, bahkan kadang banyak tanjakan yang curam. Bersiaplah ini tak ada sangkut pautnya dengan hadiah dan pesta, ini adalah reli termahal. Pacuan dengan taruah besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong apa kau, wahai diri, siap, kembali diam dalam pacuan mengeram? Bersunyi kembali dengan wajah diri yang paling perkusi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4803942999400343190?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4803942999400343190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4803942999400343190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/07/intim-dalam-diam.html' title='Intim Dalam Diam'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7723019459308938953</id><published>2011-05-08T16:34:00.001+07:00</published><updated>2011-05-09T17:05:04.258+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sebuah nama pernah tertangkap kamera sejarah dan membentuk kata verbal : Marsinah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7723019459308938953?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7723019459308938953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7723019459308938953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/05/sebuah-nama-pernah-tertangkap-kamera.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2295389594834014047</id><published>2011-05-01T08:20:00.004+07:00</published><updated>2011-05-09T16:47:36.692+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>#1&lt;br /&gt;Pemandangan ini: lelaki yang memiliki tinggi badan hanya 1,5 meter, memikul dua almari kayu yang ia tawarkan ke penduduk dengan cara berteriak, hendak menyeberang jalan raya yang padat. Tak bisa menyeberang. Lalu tukang parkir yang baik membantunya menyeberangi jalan yang sepi zebra-cross. Saya tak tahu apakah itu pekerjaan tiap harinya atau hanya pekerjaan musiman. Tetapi dua-duanya cukup membuat kita getir membayangkan berada di posisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan infrastrukturpun sering kali bukan dilandasi kepentingan publik utamanya, melainkan kepentingan privat (pengusaha) dan jarang memberi ruang untuk mereka yang tidak menjangkaunya. Menyodok mereka menjadi warga kelas bawah yang sama sekali tak pernah diperhitungkan ketika kekuasaan menyepakati sebuah kebijakan (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 2&lt;br /&gt;K, sebut saja demikian. Perempuan, 36 tahun, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perawan pabrik&lt;/span&gt; sebuah pabrik makanan dengan gaji Rp. 500/jam. Suami kerja musiman. Kadang jadi tukang kebun yang paruh waktu, yang gajinnya hanya7-10rb. Kadang seharian tak memiliki kerjaan. Tidak hanya getir, kita juga ikut geram. Betapa tak beradabnya si pemodal menggaji karyawannya dengan upah setengah dari uang jajan anak es em pe. Untung saja saya belum dikarunai anak, ujar K datar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi sesalu menyajikan lebih banyak residu untuk diratapi jika kita tak memiliki kekuatan untuk menggugatnya (apalagi melawan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2295389594834014047?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2295389594834014047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2295389594834014047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/05/1-pemdandangan-ini-lelaki-yang-memiliki.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4983683667533474674</id><published>2011-04-24T07:50:00.003+07:00</published><updated>2011-04-24T08:00:32.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'></title><content type='html'>1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spion. Namanya juga mata-mata atau pengintai, “berita” yang disampaiakannya tidak semuanya benar, atau keakuratan akan “berita” yang “tertera” nggak gampang dipercaya. Nggak percaya? Kalau di persimpangan atau hendak menyebrang jalan pengendara( mobil atau motor) lebih suka belok atau menelikung dengan mengandalkan pandangan mata secara langsung dibanding harus mengintip di kaca spion. Nah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tampak begitu penuh keyakinan atau dia tampak sangat ragu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa itu perlu. Maka kalau tidak ada cinta minimal ada benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa fungsi rindu?&lt;br /&gt;Menghilangkan  kantuk. Memusuhi kebosanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang tulis saja apa yang kau tahu. Tetapi ada juga yang bilang tulisanmu bukan “tulisan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suatu ketika aku ingin percaya bahwa ingatanku itu salah atau tak dapat dipercaya. Tetapi aku bimbang dengan pegangan dan keyakinan. Apa lagi yang harus menjadi patokan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukibuli kawan dan famili bahwa : seni itu setengah wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali aku memiliki keinginan. Tiap itu pula engkau tak menyetujuinya. Tiap kali aku ingin cacian keakraban, kau selalu menyerang dengan sungguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemukan saja alasanmu. Aku tak bisa berdebat dengan gagasan yang dipaksakan menjadi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang memutuskan “tubuh” sebagai komoditi, wajah dan raga menjadi tak begitu diperhitungkan, dibanding isi hati yang tertuang dalam laku dan kebiasaan.( kesimpulan setelah menonton Jonah Hex)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan maksudku lancang atau bahkan membenarkan sikap antisosial, tetapi aku tak setuju jika bertemu itu berarti selalu bercerita dan ngerumpi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4983683667533474674?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4983683667533474674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4983683667533474674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/1-spion.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2139947186298688433</id><published>2011-04-24T05:58:00.001+07:00</published><updated>2011-04-24T06:07:45.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='postlude'/><title type='text'></title><content type='html'>“Jarak dekat aja pakai helm”, “Cuma ke rumah teman yang jaraknya hanya 2 km aja bawa mantel hujan”, “Cuma sebentar  saja pakai sabuk pengaman”. Kadang celetukan nyinyir senada sepele itu sering mengganggu kita untuk mengabaikan persyaratan keamanan seseorang berkendara. Atu jarak dekat aja bawa payung atau pakai mantel hujan . &lt;br /&gt;Hujan2 itu asik, kalau emang yang didapatkan hujan2 yang asik sih nggak masalah. Nah kalau yang didapat kena flu atau masuk angin trus berlanjut demam? Atau karena hujan terpaksa kamu pakai (dengan meminjam) mantel atau payung teman atau kenalan? Merepotkan bukan? &lt;br /&gt;Kalau tiba2 di tikungan kamu mendapatkan benturan, saking optimisnya dalam jarak dekat orang jarang kebut2an sehingga kamu sedikit abai dan alpa keawasannya lalu kamu bertumbukan dengan kendaraan yang menikung dan pengendara sama optimisnya dengan kamu? &lt;br /&gt;Atau barang kali ada makhluk seksi melintas sehingga hilanglah awas itu? dan rusaklah keseimbanganmu dan jatuh kepala membentur aspal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepele sih, tetapi kita sering mengabaikan hal ini. &lt;br /&gt;Sedia payung sebelum hujan. mungkin peribahasa sepele ini sering kita abaikan. Halah, kan hanya hujan. hujan air lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat kita kurang lazim orang menghindari hujan tanpa memakai kendaraan itu memakai jas hujan ( pengalamanku: aku pernah diketawain gara2 pakai mantel hujan tapi tak pakai kendaraan. Reaksiku: hanya membatin, ini orang kampungan amat, para penderes aja pakai jas hujan, orang luar negri juga pakai jas hujan sekalipun mereka tak memakai sepeda atau sepeda motor aliasnya Cuma jalan kaki)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mampu dan tak mau tahu lagi perhitungan benturan orang berkendara yang bertabrakan, males dah ngitung perlambatan ditambah daya tumbuk plus masa si pengendara, lalu dikurangi gaya yang tertahan oleh sabuk pengaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anda yang pernah mengikuti kuliah filsafat ilmu tentu pernah mendapatkan karikatur kira2 seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun kemungkinan hujan asam yang bakal merusak kulit itu hanya 0,2 persen, kamu pasti tetap akan tetap memakai payung. Lah kan kemungkinannya Cuma 0,2 persen? Yang aku takutkan efeknya gitu loh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi….sedia payung sebelum harga payung mahal. Atau anda yang memorinya pernah dimasuki dendang lagu dangdutan..”memori daun pisang..” juga bisalah pakai daun pisang (kalau memang daun pisang itu mudah didapatkan dan tidak kena semburan yang punya pekarangan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2139947186298688433?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2139947186298688433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2139947186298688433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/jarak-dekat-aja-pakai-helm-cuma-ke.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1347463857893594565</id><published>2011-04-24T05:47:00.004+07:00</published><updated>2011-04-24T08:31:50.511+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='racauan'/><title type='text'></title><content type='html'>Suara-suara merdeka di kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau boleh berkata jika tuduhan itu tak berdasar. Kau boleh memulainya dari mana saja. Lihat, kau suka dengan peraturan permainanku bukan? &lt;br /&gt;Peraturannya sendiri adalah tanpa peraturan. Sementara aku tahu benar bahwa wilayahmu makin protektoler.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hmmm, dengar ya, salah satu film terakhir yang aku tonton adalah Inception. Ide penyusupan ide dan pemikiran itu sendiri berasal dari lawannya, pencurian. Asumsi tergampang adalah, jika kita bisa mencuri ide, gagasan atau pemikiran seseorang (dalam film inception pencurian dan penyususpan ide dilakukan lewat mimipi), maka kitapun bisa menyusupkan ide, gagasan, pemikiran kepada seseorang sehingga orang tersebut merasa bahwa ide yang disususpkan itu adalah hasil pemikirannya sendiri. tentu saja cara penyususpan ide itu tak mudah, selain subjek akan selalu menandai dan mencari (menemukan?) dari mana ide itu bermula atau berasal (mungkin pengecualian bagi mereka yang begitu mencintai ide itu sampai tak rela untu menyadari bahwa ide itu bukan murni miliknya) Untuk itulah kita harus menyiapaka serangkaian kemungkinan dari lapisan bawah sadar, proyeksi, kesadaran. Dan tak lupa di lapisan bawah sadar kadang menyembul ke alam kesadaran. Di bagian proyeksi kadang timbul proyeksi subjek lain yang kadang dengan disengaja atau tidak, disadari atau tidak muncul. Kita sering tergoda di sana. Masuk dalam sebuah labirin, dan untuk keluar dari dalamnya, untuk menguraikan jlan keluarnya tidak mudah, karena ada banyak kemungkinan terus jalan dan kemungkinan untuk salah jalan. karena antara godaan dan keinginan untuk kembali kepada realitas itu ada jalan lain yang disebut paradoks. &lt;br /&gt;Apakah paradoks mengajari kita untuk kembali kepada realitas atau semakin memesrakan kita dengan mimpi kita?&lt;br /&gt;Untuk menyelamatakan kita, keberadaan kita dalam dunia sadar, sementara mimpi kita teruskan, maka ada ruang pembuangan mimipi yang di sebut Limbo, di mana pemimpi terjerumus dalam kantung limbic dan tak bisa keluar dari dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang hidup teramat sulit untuk dipilah, apakah ini nyata atau tak. Dan kadng hidup juga tampak begitu sederhana dan mudah. &lt;br /&gt;Ketika banyak hal tragis terjadi kita ingin bahwa kita salah mengenali realitas, tetapi saat semuanya begitu indah kita tak percaya bahwa itu nyata. Dan kalaupun itu hanya sebuah mimpi kita ingin itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;totem!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1347463857893594565?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1347463857893594565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1347463857893594565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/suara-suara-merdeka-di-kepala-kau-boleh.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2912793920849160702</id><published>2011-04-24T05:36:00.004+07:00</published><updated>2011-04-24T05:49:38.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selembar ingatan'/><title type='text'></title><content type='html'>Reuni itu…tidak harus berarti engkau bertemu atau berkumpul kembali dengan teman masa lalu yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, reuni juga berarti( juga terjadi) saat engkau mengunjungi seseorang yang pernah mengasuhmu waktu kamu masih balita, bercakap dengannya dan mengumandangkan dalam benak sebuah kalimat yang tercekat “ masihkah kau ingat ketika mengacak dan menata rambutku dahulu?”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2912793920849160702?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2912793920849160702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2912793920849160702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/reuni-itutidak-harus-berarti-engkau.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6846443473424814838</id><published>2011-04-11T09:40:00.001+07:00</published><updated>2011-04-24T06:28:09.190+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kepada Teman Seperjalanan I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada sosok yang menakjubkan dalam hidup ini. Mungkin aku tak seberuntung Marx dan Engels yang memiliki persahabatan dalam hampir segala hal. Tetapi terkadang aku merasa kamu teramat baik hadir dalam hidupku dan memberi sebuah warna tersendiri. Dan di bagian ini kau tak perlu tahu dan tak akan kuberi tahu. Bukankah pengalaman batin itu pribadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan aku akan merasa lacur kata jika harus menuangkan kata-kata ini kepadamu. Ya, aku memang manusia yang pelit terima kasih, namun bukan lantaran ketakutan inferioritas atas yang mengucapkan terima kasih dengan yang dikasih terima kasih, tetapi Karena berterima kasih kadang menjadi pelepasan dari energi yang seharusnya aku salurkan untu memanifestasikan terima kasih itu : bukan melulu kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menuliskan kata ini, jantungku berdegup. Bukan lantara ovedosis kopi apalagi dikejar deadline, tetapi lebih dari itu juga bukan bermakna cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau memang benar bermakna cinta dalam arti universal dan cinta dengan C capital. Aku memang belajar mencintai hidup ini, karena tak ada yang salah dengan dicintainya kehidupan lebih daripada kematian. Seperti engkau ajari aku dalam tawa yang sesungguhnya maupun yang paling palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup selalu berarti perjuangan. Bukan berpangku tangan dan menunggu. Tetapi saat kita penat ada kalanya penantian dan menunggu bukan sesuatu yang buruk. Menunggu adalah sebuah ketegangan yang tak ritmis, karena tiap sebuah penantian berarti kebermengertian. Semacam sensasi ketika kita memiliki energi potensial maksimum untuk marah tetapi kita mencegahnya dengan mengatur nafas dan tertatih tatih mengendurkan mimik dan mengerjapkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun logika sering menjadi tiran, sesekali manfaatkanlah dia dengan keuntungan yang tak curang dan juga aku kira teramat dihalalkan. Menunggu, yang bukan dalam kesengajaan, adalah mengendurkan urat ketergesaan, tetapi bukan berarti hampa ketegangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dalam kerja menunggu itu, ada pribadi-pribadi menakjubkan yang sayang jika harus dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau, kawan, barangkali salah satunya, sekalipun aku hanyalah titik kekosongan. Sementara  setiap manusia, berhak mengusir kekosongan hidupnya, [tidak] termasuk dengan cara melipatgandakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6846443473424814838?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6846443473424814838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6846443473424814838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/kepada-teman-seperjalanan-i-selalu-ada.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1512828277377314490</id><published>2011-04-02T05:40:00.002+07:00</published><updated>2011-04-02T06:01:32.489+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Seringkali aku ingin menjadi kita, maka izinkan saja. Biar itu hanya sebuah racau atas nama. Terwakili atau tidak. Memuakkan, itu jelas! Mohon maaf, kadung. Bablas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran adalah jerit kerinduan setiap manusia namun  permainan bagi segelintir orang, kata si empiris Berkeley. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ragu bahwa kesedihan saya dalah karena saya gagal merindukan kebenaran. Dan saya sangsi jika saya ‘tercabik’ dalam kebimbangan adalah karena saya dalam pencarian dan menjerit merindukan kebanaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah perjalanan mengada dan sekaligus menempuh diri.&lt;br /&gt;Salah satu “alasan” Tuhan menciptakan manusia adalah Ia ingin dikenal. Sabda dalam hadis kudsinya,” Aku adalah Khazanah Yang Tersembunyi, Aku ciptakan manusia agar Aku dikenal”. &lt;br /&gt;Sifat Tuhan yang ingin dikenal ini menurun pada manusia. Mengapa manusia ingin dikenal? Dan oleh siapa manusia ingin dikenal. &lt;br /&gt;Ingin dikenal oleh diri. Ini biasa kita sebut ‘mencari jati diri”. Kita mengandaikan bahwa ada sesuatau yang sejati dari diri kita. Diri yang sebenarnya. Apa dan siapa itu diri sejati? Jati diri itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah pertanyaan itu terus berkumandang tanpa harus memiliki jawaban yang pasti.&lt;br /&gt;Mungkin pada akhirnya akan bersatu dan sampai dalam tujuan (sadar atau tidak) dengan sabda “barangsiapa mengenali dirinya maka ia kan mengenali Tuhannya”.&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal oleh orang lain?&lt;br /&gt;Itulah bermulanya aktualisasi. Tahukah engkau, kini hierarki kebutuhan manusia a la Abraham Maslow sudah tak relevan lagi?&lt;br /&gt;Karena dia memasukkan aktualisasi sebagi kebutuhan elitis. Sedang sekarang, melalui alat komunikasi yang cangggih, aplikasi yang super mudah dan adiktive, orang rela tak makan dan ngutang demi di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;recognize&lt;/span&gt; keberadaannya, atau orang rela ngutang untuk makan yang memiliki gaya, di restaurant misalnya atau makan makanan yang sesunggugnya tak terjangkau dompet dan pendapatan. Kebutuhan sekunder dikudeta oleh kebutuhan tersier.&lt;br /&gt;Maka setengah abad yang lalu Kundera mengumandangkan imagologi yang suatu ketika akan mendepak ideology sebagai komoditi cultural (material juga deh kayaknya) dari singgasana “suci”.&lt;br /&gt;Manusia pun ingin dikenal melalu produksi makna, symbol, kultur, seni, arsitektur dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, manusia yang harus mengencangkan ikat pinggang. Kita, manusia yang entah karena gairah liar menepi ke garis yang cenderung kiri ( psikoanalisalah diri! mungkin kita cuma ingin disebut keren saja, atau memang hal itu sudah menjadi jeritan kolektive atas teror kapitalisme dan konsumerisme yang mengerikan. Eh, atau jangan-jangan cuma karena kita belum berkesempatan jadi penguasa (pasar maupun kekuasaan politik) saja, lalu iri dan rajin mengumpati mereka (yang kapitalis dan borjuis) sebagaimana asal mula borjuasi itu), setidaknya merapatkan barisan dan jangan sampai putus hubungan dengan “diri”/kemanusiaan. &lt;br /&gt;Kekenduran dengan diri ( =kemanusiawian) sering membikin kita begitu lama terdampar di pantai kenihilan atau memilih menyambut godaan kenikmatan sorga yang tiketnya kita dapat melalui pemerkosaan terhadap sesama atat kita dapat dengan cuma-cuma (dengan suka rela kita melemparkan diri ke "neraka" cinta diri, mengejar kesenangan bertubi dan berpesta api manipulasi).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1512828277377314490?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1512828277377314490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1512828277377314490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/seringkali-aku-ingin-menjadi-kita-maka.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2598073863642770838</id><published>2011-04-02T05:18:00.002+07:00</published><updated>2011-04-02T06:10:39.294+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tidak, aku tak sedang memintamu untuk terkesan&lt;br /&gt;Tetapi jika kau ingin tahu aku&lt;br /&gt;Sekalipun tak perlu&lt;br /&gt;Untuk berterima kasih pun aku harus dituntun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(rumput tebing)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2598073863642770838?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2598073863642770838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2598073863642770838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/tidak-aku-tak-sedang-memintamu-untuk.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2926933442497178116</id><published>2011-04-02T04:02:00.000+07:00</published><updated>2011-04-02T04:46:37.614+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>The telephone, which interrupts the most serious conversations and cuts short the most weighty observations, has a romance of its own. (Virginia Wolf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan romansa itu adalah  teriakan ibu di sebuah petang berhujan lebat yang  menyuruhku pergi mengantar tetangga yang sakit parah ke dokter ketika aku sedang asik beronani pikiran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2926933442497178116?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2926933442497178116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2926933442497178116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/04/telephone-which-interrupts-most-serious.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2643782626293388143</id><published>2011-03-26T04:37:00.009+07:00</published><updated>2011-03-26T05:10:01.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='racauan'/><title type='text'></title><content type='html'>Lihat! Seseorang dengan mudah menghadapkan seluruh lorong-lorong rancangannya dan memaksa aku untuk melawatinya. Lihat, betapa aku membenci kesopanan yang memuakkan ini. Lihat, bagaimana aku tak bisa merindukan satu dusta saja. Karena kejujuranmu yang amat menjijikan itu mengelilingiku. Kau ingin melucutiku dengan moralitas busuk itu? Lakukan saja! Sekali jantung kehidupan menggelepar, aku berdaulat. &lt;br /&gt;Lakukan permainan sopan santun yang terasa janggal dan kamu agungkan itu, ayo! Temukan aku dengan cara-cara palsu dan lemah lembut kebaanggaanmu  itu! Tapi jangan potong jalanku hanya karena kau ingin tontonan tragis yang bisa menyangga dan menjulangkan kemegahan rasa saling pengertian yang dibuat-buat. Di sana kepentinganmu seolah lebur, dan kau mengutuk motifku hanya karena ia tak mampir dalam kesadara kolektif. Kemuliaan apa yang begitu bangga setelah membekap rasa yang sederhana atas pilihannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kau yang memiliki kunci sorga atas nama moralitas, menjadi pahlawan citra hanya karena kau berhasil menampilkan alasanku sebagai kebusukan dan perayaanmu terhadap ini semua demi kestabilan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku katakana padamu, kebersamaan yang tamak adalah kau mengumpulkan dan mendamaikan banyak orang dengan menghabiskan darah kehidupan satu makhluk lainnya dengan paksa.&lt;br /&gt;Rayakan, kau mengangkat cawan dalam pesta moralis itu dan kau tundukkan kedirianku dalam sebuah asas palsu altruisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah, bahwa kau menjadi pemenang hanya karena berenang di tepian di mana banyak manusia menyematkan kesan dan kerendahdirian yang telah disengat ketakutan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2643782626293388143?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2643782626293388143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2643782626293388143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/03/lihat-seseorang-dengan-mudah.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4869071177078771532</id><published>2011-03-21T11:01:00.004+07:00</published><updated>2011-03-21T14:30:04.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'></title><content type='html'>1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau pernah memendam perasaan?" tanya temanku suatu waktu. &lt;br /&gt;"Sering."&lt;br /&gt;"Bagaimana kau melewati dan mengatasinya?"&lt;br /&gt;"Setiap aku mengalaminya, penyelesaiannya berbeda-beda."&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan  menangis?"&lt;br /&gt;"Jika nangis membuatmu lebih ringan, menangislah. Tetapi jika tangis membuat kubangan yang makin memenjarakan, sebaiknya jangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau pernah tergoda untuk bunuh diri?" tanyaku pada seorang teman.&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;"Pernah terlintas melakukan bunuh diri, tidak?"&lt;br /&gt;"Ah, jangan sampai. Ngeri. Kamu jangan ikut-ikutan dong! Gila sedikit gak papa, tetapi jangan berharap setiap orang terbuka terhadap kegilaanmu." &lt;br /&gt;"Tetapi yakinkan aku bahwa kamu baru saja tidak memikirkannya?!"&lt;br /&gt;Temanku hanya menjawab dengan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku tersenyum bangga ketika seorang teman menganggap aku adalah orang tersinting yang pernah  dia kenal. Dan tersenyum meremehkan pada temanku yang cemas kalau aku bisa gila beneran.&lt;br /&gt;Tetapi akhir-akhir  ini aku khawatir tiap kepalaku berceletuk pada diri “kamu gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kebencian yang sudah kita banggakan kadangkala tidak berarti apa-apa. Termasuk kebencian terhadap mereka yang ‘tidak mau tahu’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terburuk itu bukan ketika kau merasa bahwa tak ada orang yang mengerti dan mau mengerti tentang dirimu, tetapi ketika engkau tak mengerti apa maumu dan memaksa oranglain untuk memahami dan mengerti kamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisi manusiawi paling asasi bagi saya adalah "ingin dimengerti", tetapi Ada Band mereduksinya dengan menambahkan awalan "karena wanita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau suka kopi pahit?"&lt;br /&gt;"Agar aku bisa lebih menghargai yang manis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang butuh ruang untuk menghempaskan "sesak" kita lewat ekspresi, sekalipun itu hanya jeritan pendek, ketukan jari di meja atau sekedar menulis satu huruf. Atau mungkin juga segaris cakrawala asimtotik. Atau malahan hanya sebuah titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu setiap orang lebih memilih menghantui dibanding menjadi yang dihantui, tetapi mereka tak sadar ketika menjadi "hantu" ia siap ‘tak ada’ apalagi "hadir", tak mampu menjadi siapa-siapa dalam kerumunan dan hanya bisa membayangi orang perorang dan sekaligus memiliki wajah yang tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang meneguk air putih di depan trotoar, seorang ibu lengkap dengan anak dan suaminya cekikikan dan berguman “sirup, hi hi hi”&lt;br /&gt;Saya tak bisa menahan senyum saya sembari membatin: “ Ayolah, kalian memiliki potongan segerombol bebek yang tiap keluar rumah pada hari Minggu dalam kepala membawa tabel gastronomi sebagai kitab suci.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya memang sinis terhadap mereka yang tiap kali keluar rumah dengan dalih jalan-jalan atau refreshing sesungguhnya hanya menuntaskan kerinduan lidah pada makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seseorang bisa beralasan "hanya makan di warteg kok", "cuma makan di warung tenda" atau sejenisnya. Aku rasa masih banyak mereka yang tiap kali mengantar seorang nyonya tambun menikmati empat kali lipat upahnnya(seorang tukang becak) dalam sekejap hanya bisa menjadi saksi dengan mengecap nasi kucing atau makan rames angkringan untuk makan malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret para pahlawan kemerdekaan dan pahlawan pergerakan memang sudah terlalu buram untuk dikenang generasi sekarang, satu album yang masih cukup segar dipampang ialah potret pahlawan devisa itu. Mari bersulang Lola Amaria, untuk kesehatan kemanusaian! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang mati, aku berharap bisa memikirkannya lebih damai dari pada kegilaan yang membenak tiap detak ini. Bukankah kadang tulang belulang dan tubuh yang mendebu lebih rilis daripada kegelisahan yang tak bisa kita genggam tanduknya. Ketika apa yang disebut sebagai bersama adalah sebuah kebiasaan untuk mendesak dan merugikan orang banyak. Mungkin di sini aku tak melihat wajah membusuk dan kaku tubuh yang meregangkan nyawa, tetapi lihat, sama seperti diriku, jiwa-jiwa yang saling berkirim sinyal kematian dini dan berbagi liur hidup yang sudah kadalwarsa begitu kuat merangsak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4869071177078771532?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4869071177078771532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4869071177078771532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/03/1-apa-kau-pernah-memendam-perasaan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2196184780474598503</id><published>2011-03-12T05:02:00.002+07:00</published><updated>2011-03-12T05:06:57.460+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tuhan...sepagi ini Kau kirimkan 'kafka' ke dalam kertasku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2196184780474598503?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2196184780474598503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2196184780474598503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/03/tuhan.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6065588342778768568</id><published>2011-03-06T20:02:00.014+07:00</published><updated>2011-03-06T22:00:08.855+07:00</updated><title type='text'>Don't Look Back : Ketika Orgasme Persahabatan di-Interupsi Maut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ofalQpXaPNY/TXOgaHC0NuI/AAAAAAAAAQ4/8BwOwudMyis/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ofalQpXaPNY/TXOgaHC0NuI/AAAAAAAAAQ4/8BwOwudMyis/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580980733670078178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;gambar diambil dari recycledreadsaustin.wordpress.com&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan orang asing yang sebaya, yang mampu membuai dan mencumbu hati, meriangkan hidup, menambah warna, walau hanya sebentar, adalah kenikmatan dan kebahagiaan hidup yang menjadi impian kolektif kita sebagai manusia sosial. Tetapi apa jadinya saat orgasme persahabatan itu direnggut maut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t Look Back!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup harus tetap berjalan. Sekalipun dalam hidup Jeanne, seorang penulis biografi sukses namun diujung kegagalan ketika ia menulis sebuah autobiografi, terasa berubah dengan ditolaknya tulisan “kenangan” masa kecilnya. Terlalu detil dan dingin, kilah sang editor, apalagi pada bagian masa kanaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Jeanne (mungkin berasal dari ketidakterimaan terhadap fakta bahwa tulisannya tidak diterbitkan) dihantui kenangan singkat sebelum kecelakaan yang pernah menimpanya. Jeanne melihat "wajah" lain dari dirinya.&lt;br /&gt;Suami dan dua anaknya seperti tak ia kenal. Bahkan wajahnya sendiri sering berubah dan asing. Jeanne bahkan mengalami amnesia terputus-putus dan singkat. Tak tahu jalan dan letak perabotan rumah. Kacau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan yang menyerang membuat ia lari ke ibunya. Tetapi ia mendapati bahwa ibunya selama ini tak mencintainya. Ibunya, wanita Prancis yang gemar berjudi pun seperti tidak memperlakukan dia sebagaimana perlakuan ibu terhadap anak, setidaknya dalam urusan ketulusan curahan kasih sayang. Jeanne pun "protes". Sebuah foto dirinya di masa kecil, ibunya dan seorang wanita asing, orang Itali,&lt;br /&gt;memberikan petunjuk untuk melacak asal kekacauan ingatannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan kenapa wanita Itali itu lebih mirip dengan dirinya?&lt;br /&gt;Jeanne terus mencari. Sampai ke Roma. Bertemu dengan wanita dalam foto masa lalu itu dan…Jeanne seperti mengenal semuanya…Sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ia bisa mengenali semua kekacauan dan mendapati kenyataan bahwa ia sejatinya adalah Maria Rosa yang bertukar posisi dengan Jeanne sejak kecelakaan mobil yang mereka tumpangi bersama serta mencelakakan sahabat Perancisnya itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria Rosa, yang telah direlakan “kematiannya”, “hidup” lagi. Tetapi ia kini tak sendirian. Sekalipun kesadarannya mengerti benar bahwa ia adalah Maria Rosa, tetapi ia juga dengan suka rela “ditumpangi” sosok Jeanne yang selama ini dihidupkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditandai dengan adegan pamungkas yang manis: Dua wanita saling bahu membahu menulis sebuah naskah (autobiografi?) saling memandang dan tersenyum dan terus mengetik. “Jeanne” dan Maria Rosa menulis bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6065588342778768568?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6065588342778768568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6065588342778768568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/03/dont-look-back-ketika-orgasme.html' title='Don&apos;t Look Back : Ketika Orgasme Persahabatan di-Interupsi Maut'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ofalQpXaPNY/TXOgaHC0NuI/AAAAAAAAAQ4/8BwOwudMyis/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-170753030059379297</id><published>2011-03-01T19:32:00.006+07:00</published><updated>2011-03-01T19:56:28.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selembar ingatan'/><title type='text'></title><content type='html'>Kau pikir ia Yusuf, Jul?&lt;br /&gt;Yang mengajari kita mabuk cinta dan mengadakan jamuan apel dan darah merah dari jari-jari wanita-wanita penggosip yang teiris tanpa sakit karena raut wajah seorang yang apakah dia bocah yang baru mimpi basah atau memang akalnya sudah terasah. Dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf dewasa, itulah mengapa sang nyonya dari tuan si bocah memintanya bercumbu dan bercinta.&lt;br /&gt;Kenapa setan di dadaku tak kunjung berlalu, aku gerah menahan keresahan yang jahanam ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kambinghitamkan setan! Bukankah dia tak bisa kita tuntut pertanggungjawabannya karena kita yang akan menanggung pikiran dan tindakkan kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukankah dia sudah meminta restu Tuhan untuk menggoda manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan restu yang diminta, hanya pernyataan.&lt;br /&gt;Dalam konsepsi Tuhan-manusia sebagai relasi bapak-anak, maka setan adalah anak nakal, dan manusia adalah anak yang "diharapkan" patuh pada Bapaknya. Makanya biarpun ia membolehkan setan menggoda manusia, toh ia bekali kita dengan bermacam2 jurus dan mantera. Nah, kamu tak rajin berlatih jurus2 itu. Salah loe!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-170753030059379297?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/170753030059379297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/170753030059379297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/03/kau-pikir-ia-yusuf-jul-julaikha-yang.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-8093340994139625857</id><published>2011-02-28T20:16:00.003+07:00</published><updated>2011-02-28T20:40:28.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='racauan'/><title type='text'></title><content type='html'>Aku senang karena matahari tak muncul juga. Tetapi sang hati tiba2 bertanya tentang engkau yang entah di mana, dalam kesendirian tentunya. Karena dalam kesendirian itulah aku mencinta. &lt;br /&gt;Apakah aku harus merasa bahwa engkau adalah bagian dari hidupku yang terjeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tanya itu lebih mendebarkan daripada jawaban. Di situlah antara harapan dan ketakutan bersirobok dan saling bergandengtangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika musik di kumandangkan, aku rasa aku harus berterimakasih atas gugusan nada yang meruahkan emosi..entah. Dan segala penat hidup yang terus memagut, enyah dalam pesta rahsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusiku berhutang pada bilangan fibbinocci&lt;br /&gt;Tarian kosmik dan mungkin saja simponi angka&lt;br /&gt;Tetapi dari datum yang terdinding dalam&lt;br /&gt;Ruang pengesahan jiwa &lt;br /&gt;Kecil dan bersahaja&lt;br /&gt;Namun bertebaran dalam kerlip nakal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata kutata dengan irama tubula&lt;br /&gt;Ia merengsak dan bersenyawa dengan materi semesta&lt;br /&gt;Tanda dan pabrik baja (hay!)&lt;br /&gt;Melepuh menyublimkan makna&lt;br /&gt;Bergemuruh mendengkurkan gempita&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Galau yang mengakar&lt;br /&gt;Risau membelukar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah pesona yang lebih melangit&lt;br /&gt;Dibanding bergandeng tangan dalam&lt;br /&gt;Pencarian kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar cercah indah&lt;br /&gt;Mempesonakan kita&lt;br /&gt;Yang rela ditukar ajal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009-2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ketika belajar dengan laron yang mabuk cahaya lampu neon, dan ketika mendung pagi tak kunjung pergi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-8093340994139625857?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8093340994139625857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8093340994139625857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/02/aku-senang-karena-matahari-tak-muncul.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3111425246630378744</id><published>2011-02-28T19:56:00.002+07:00</published><updated>2011-02-28T20:15:47.941+07:00</updated><title type='text'>Sekedar Pemberitahuan</title><content type='html'>Ehm...sok penting dikit ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dua kali dalam sebulan ini saya login ke Ym (ye-em), tetapi teman Ym saya banyak yang memergoki kalau Ym saya nyala (online), tak terkecuali ketika saya posting ke blog ini. Ikon ym saya pun nyala padahal saya tidak login. &lt;br /&gt;Pertama kali saya tahu dari teman saya, yang langsung es em es, katanya saya tak pernah membalas post-chat dia. Dan saya jawab saya tak pernah online selama ini. Karena penasran saya masuk dan memang saya tak melihat post-chat mereka. Artinya, sudah diterima oranglain. Dan teman ym saya yang lain yang kebetulan saya sapa mendapati kejadian serupa. Saya Cuma berharap itu kesalahan dari "sono" dan bukannya akun saya digunakan atau diretas orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemarin (hampir dua minggu setelah saya login ke Ym), teman ye-em saya pun menegur hal yang sama, saya dikira online hampir tiap hari dan nggak pernah membalas posting dia. Saya bilang ym saya sedang begitu. Dia kira saya lupa log-out. Setahu saya, ym nyala terus karena lupa logout hanya terjadi jika saya login ke ym lewat hp, dan saya sudah lama tak login ym lewat hp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud apa2 saya posting( konfirmasikan) hal ini di sini, tetapi lantaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saya sudah tak memakai facebook. Jadi di mana lagi oar-oarnya kalau nggak di sini&lt;br /&gt;2. Nggak semua teman ym saya ada di kontak (hp)&lt;br /&gt;3. Sebagai orang yang berusaha menghargai persahabatan saya cukup risih juga kalau   hanya sekedar dikira2(nggak mau nyapa dan membalas sapaan) lalu diyakini sebagai fakta.&lt;br /&gt;Untuk yang ini sih, saya terpolusi dengan prinsip Dews (yang punya kredo persahabatan : mencari sahabat lebih mudah daripada memelihara)&lt;br /&gt;4. Beberapa teman ym saya peroleh lewat blog &lt;br /&gt;5. Ada beberapa teman ym yang "ngambek' tanpa alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, dan salam perkawanan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3111425246630378744?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3111425246630378744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3111425246630378744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/02/sekedar-pemberitahuan.html' title='Sekedar Pemberitahuan'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1323545133604311531</id><published>2011-02-23T06:22:00.003+07:00</published><updated>2011-02-23T06:44:55.569+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya RA sudah begitu mapan. FD sudah berdamai dengan kenyataan. UR juga tampaknnya sudah begitu puas dengan pencapaian hidupnnya. Dan HSG masih sinis padaku. TS juga memperlihatkan perubahan sikap padaku dan aku malas menanyakan. Toh, aku masih bisa menyapa “orang-orang terbuang” dengan cukup mesra. Mereka hidup tak mencari citra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ge-er juga tiap kali ada yang menanyakan soal lama saya tak posting. 11 Desember saya mencoba bikin blog  baru untuk program 20 hari “menyelidiki” diriku di akhir tahun, tetapi malas membendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perbedaan itu menyehatkan, sering aku bertanya dalam benak. Kenapa mereka yang mengaku sebagai penganut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;personal order&lt;/span&gt; sering mengintimidasi manusia yang sama susahnya di jalanan hanya karena memang ada 'tampang' dan kesempatan untuk melakukannya?&lt;br /&gt;Mengapa mereka yang berpakaian “Islam jangkis” sering melecehkan dengan kata2 atau muka sinis  mereka yang memilih pakai baju “kedodoran”? Juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi sekali engkau bisa menikmati gita semangat jiwamu sambil menatap dunia di balik luar jendela. Setelah itu mungkin saking asik dan berbunganya kita, sampai joget a la Monica Balucci (adegan dalam film Do Not Look Back). Maut euy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian saya merasa asing dan kosong! Tibatiba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1323545133604311531?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1323545133604311531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1323545133604311531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/02/1-kelihatannya-ra-sudah-begitu-mapan_23.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-430775949062840683</id><published>2011-02-06T18:54:00.003+07:00</published><updated>2011-02-06T19:11:40.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='racauan'/><title type='text'>Coretan</title><content type='html'>Tiap saya membaca kembali coretan yang lalu atau yang belum selesai, saya sering kesal dan tak berselera untuk meneruskan ataupun menyelesaikannya. Perasaan yang sama terjadi juga ketika membaca kembali postingan-postingan di blog ini. Sewaktu saya menulis, bertaburlah rasa disetiap rayapan pena. Namun saat membaca kembali sering yang terjadi adalah saya merasa hambar terhadap apa yang sudah saya tuliskan. Kok jelek begini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sendiri tentu bisa mengira-kira. Mana dari sekian postingan saya yang pretensius dan mana dari posting saya yang berlatar tulus ( kalau memang ada). &lt;br /&gt;Entah tulus atau bulus, seperti itulah adanya. Walau saat saya sadari bahwa lebih banyak coretan bernuansa pertama daripada yang kedua. Celakanya menyadarinya selalu belakangan. Tetapi memang sebaiknya saya "bunuh" uneg-uneg itu.. .Setelah menulis? Plong! Saya tak terbebani perasaan harus dibagaimanakan lagi itu kata-kata yang berserak dalam komputer atau tulisan tangan di kertas-kertas. Pilah memilah penempatan yang kadang bikin saya malas!&lt;br /&gt;Jika saya sedang sadar sesadar sadarnya (kalaupun ternyata bukan kesadaran anggap saja kesadaran, kalau memang "itu" kesadaran, kesadaran dalam kesadaran dan kesadaran penuh?), saya sering jatuh ke comberan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;self-confirming&lt;/span&gt; yang ujung-ujungnya narsis dan ekshibis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hapus saja! Ah, jangan! Dua suara saling berlawan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja ada semacam , hehe pinjam judul novelnya Kuntowijoyo,  suatu mantera penjinak obesitas (baca: kemuakan) diri , bahwa antagonisme dan negatifitas yang ada dalam diri kita tak bisa kita pungkiri adanya. Kita nggak mungkin selalu menerima sisi baik( sekali lagi kalau memang ada) diri kita (baca: saya) saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam coretan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-430775949062840683?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/430775949062840683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/430775949062840683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/02/coretan.html' title='Coretan'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2114144339372690178</id><published>2011-01-24T19:02:00.003+07:00</published><updated>2011-01-24T19:18:59.501+07:00</updated><title type='text'>The Bucket List</title><content type='html'>Siapa bilang kisah dua orang kakek tua menjelang ajalnya itu tidak menarik. Tak percaya? Tontonlah Bucket List (2007)! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyedap kisahnya adalah dua orang sudah tua yang berasal dari latar kehidupan yang  berbeda mengidap penyakit kronis dan dipertemukan  dalam satu ruang perawatan. Dan tentu saja  mereka berdua sedang menunggu datangnya ajal. Walau sebenarnya penatian terhadap ajal adalah penantian segala usia. Tetapi apa yang akan kamu lakukan jika kamu diberi tahu bahwa kemungkinan hidupmu tak sampai satu tahun lagi lamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan daftar-daftar  keinginan (konyol?) yang belum terwujud?&lt;br /&gt;Sementara kita memiliki kesempatan untuk bertualang dan masih ada waktu untuk mewujudkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, biar tak konyol tonton dan nikmati saja film ini! Singkat cerita, walau kedua tokoh itu pada akhirnya mati lebih cepat dari perkiraan dokter, tetapi ada sesuatu yang bisa saya catat: bahwa, persahabatan yang hanya sepenggal dan hubungan sebentar di ujung ajal kadang begitu berarti. Atau sepenggal persahabatan kadang mampu membuat kita mengubah dan berubah pada sebuah (menuju) sesuatu yang tadinya kita anggap mustahil. Pada akhirnya harus ada orang lain yang menyuarakan keinginan bawah sadar kita dan membangunkan kita dari mimpi yang berlumuran egoisme dan menjembabkan kita pada kegetiran yang sesungguhnya bisa kita atasi (lalui) !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2114144339372690178?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2114144339372690178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2114144339372690178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/01/bucket-list.html' title='The Bucket List'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2705423770630157254</id><published>2011-01-14T03:22:00.001+07:00</published><updated>2011-01-14T03:33:19.508+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dalam bayangan saya, betapa buramnya ini air muka . Saya pun berdoa kepada Tuhan supaya dijauhkan dari absurditas. Setelah itu saya tercenung agak lama. Seorang teman tiba2 ingin menukar sapa, tentang pagi yang segar dan wangi. Saya balas dengan kerinduan akan  gemintang diantara aroma embun lalu bercakap atau saling terdiam. Dia pun merespon dengan kata : kecil kemungkinan. Mungkiin hanya indah dalam bayangan. Tetapi aku tetep yakin akan indah dilalui. Sepotong pagi dalam balutan sarung, menikmati aroma kopi menelusup hidung. Tengok kanan dan kiri, kembali merasa bahwa kita hidup berdampingan dan menjadi mitera semesta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2705423770630157254?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2705423770630157254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2705423770630157254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/01/dalam-bayangan-saya-betapa-buramnya-ini.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6362654518887758756</id><published>2011-01-01T07:21:00.002+07:00</published><updated>2011-01-01T11:06:28.962+07:00</updated><title type='text'>Malam Pergantian Tahun</title><content type='html'>Ahai! Malam tahun baru! Memang ucapan selamat tahun baru yang beredar di ruang seluler tak semeriah dengung selamat hari ibu, atau bahkan selamat tahun baru Hijriyyaah (ini mungkin gejala  lelahnya mengikuti  dengan arus dominant serta  tak bisa lepas dari jerat keriuhan). Tetapi selebrasinya tentu saja lebih mewabah dan latah ( Oho! Sebetulnya saya pun berkali-kali bertanya pada diri apa kata ini pantas untuk menggambarkan gejala terompet dan penuhnya alun-alun kota oleh manusia dari balita hingga lansia. Bahkan berkali-kali saya mencoba menuduh diri saya oranng yang cukup iri dengan kebahagiaan mereka dan seenak udel menceletukkan kata “latah”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan demi sekeping dvd film, mungkin sebaiknya saya meringkuk di kamar dan takdim pada catatan usang ( rencananya memang demikian, tetapi dasar setan histeria itu menggoda saya juga untuk keluar rumah). Tentu saja aku sudah mewanti diri. Tidak ada makanan, terlalu kerdil kalau keluar rumah hanya menuntaskan selera lidah atau panggilan perut ( atau lebih tepatnya nggak ada anggaran alias duit cekak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muter-muter. Pasar malam dadakan pun terbentuk dengan manisnya. Tentu saja makanan tetep komoditi utama. Kerumunan manusia  mulai berdatangan dari yang pakai mobil mewah samapai yang jalan kaki, dari yang datang bergerombol seperti kesebelasan sampai yang datang sendirian, berkumpul untuk merayakan dan menikmati apa yang namannya malam pergantian tahun yang diwakili trio ini : kembang api, mercon dan terompet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus di tempat keramain seperti alun-alun dan stadion? &lt;br /&gt;Apa yang harus dirayakan dan untuk apa semuanya? Karena ini tahun baru, batinku menjawab sendiri. hari baru, agenda baru, resolusi baru dan sederet kebaruan lain yang mungkin sesungguhnya lebih nikmat untuk dikonsumsi dalam bayangan positif masa depan. Benak nakal (atau iri?) bertanya-tanya. Kenapa harus ke luar rumah, kenapa harus makan di luar plus jajan. Dan kenapa orang untuk merayakan kedatangan tahun baru itu dengan (menurut ukuran saya saja sih) harga mahal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan itu tidak gratis. Cuci mata itu seharusnya ( tidak) cuma-cuma . Dibutuhkan suplai kalori yang cukup untuk jalan-jalan dan melihat keramaian. Belum mata yang lapar dan ajakan untuk berperilaku sama dengan banyak orang: membeli terompet.  Dan kenapa harus terompet ? Saya sendiri naksir sama balon helium. Tetapi dengan janji untuk tidak membeli apapun pada diri, saya tidak mau melanggarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anak yang saya terka usianya kira-kira tujuh tahun sedang asik mengantre makanan dan bertelpon ria. Aku curi dengar dia sedang bercakap dengan seseorang dan memamerkan kegiatannya, bahwa ia mau makan dan mau menyaksikan kembang api dan mercon. Ada sepasang muda-mudi sedang menenteng dua cup besar es krim. Ada ibu-ibu yang kepedasan selagi makan. Entah makan apa, saya tak melirik isi mangkuk apalagi tulisan di spanduk warungtenda itu. Ada juga anak kecil yang sedang  berteriak “ciat-ciat”, “hyaaaaaaaat!”, sambil memainkan pedang-pedangannya. Barangkali kehadiran mereka memang benar-benar ingin menikmtai suasananya, bukan sekedar menjalani gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mau menuduh dengan gegabah bahwa mereka itu orang yang tergila-gila dengan gemerlap lampu dan hiruk keramaian seperti saat saya menanyakan kepada  seorang kawan  “kenapa nonton tivi terus?” dan jawabanya benar-benar menggodam : “hiburan rakyat, gratis dan praktis. Di mana lagi kalua bukan tv?”&lt;br /&gt;Mungkin demikian juga dengan alasan mereka : “Kalau bukan lewat moment ini kapan lagi kita bisa bersenang-senang menghabiskan sejumlah uang  tanpa rasa salah dan berasa bermewah-mewah?”. Atau juga “ Kamu tahu kan bahwa pedagang makanan yang berjajar itu, kapan mereka dapat omset lebih kalau bukna moment malam pergantian tahun  yang ingin dinikmati seluruh lapisan ini?”. Dan tentu saja kita bisa tersenyum senang dengan “ Puji Allah, karena telah melimpahkan rezeki tahun baru lewat penjualan terompet”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya membenci keusilan saya yang tidak mudah menerima perbedaan cara pandang.  Bukankah mereka juga berhak untuk bersenang-senang dan merayakan dengan caranya sendiri. urusan apakah itu latah dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;juah&lt;/span&gt; ( baca: boros) itu urusan meraka, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk apa pula saya risau dengan pedagang yang tampak sepi pembeli dan dagangannya tak mendapatkan atensi. Untuk apa pula saya mengkhawatirkan wajah bapak (dan beberapa orang yang habis pulang dari kerja proyek ) yang nampak  di antara keramaian itu . Bapak itu melintas di sekitar gugusan penjual terompet dan gerombolan manusia berwajah ceria. Sementara ketika matanya jatuh pada kerlip lampu dan keramaian ia seperti tak bisa menikmatinya karena kelelahan dan malah tampak terluka(?).&lt;br /&gt;Jangan sok tahu, batin saya. Jangan sok mengerti, ulang saya. &lt;br /&gt;Betul cerah dan gebyarnya lampu-lampu itu. wajah merekah juga memantul di sana- sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Baiklah, salam hormatku untuk kalian selalu.&lt;br /&gt;Aku tak bermaksud sok tahu dan menebar kesan bahwa aku mengerti apa yang kau rasakan. &lt;br /&gt;Tidak. Aku sama sekali tak memahami apalagi saling mengerti. &lt;br /&gt;Riak. Risau! Lalu gemuruh dari dalam.&lt;br /&gt;Dan rumput-rumput yang terinjakpun paham.&lt;br /&gt;Bahwa sensarium akan cepat beranjak. Berlalu seperi dulu-dulu.&lt;br /&gt;Hembus angin yang menelusup batin, bercakap,&lt;br /&gt;Sejenak berteriak..&lt;br /&gt;Itu juga terjadi seperti dulu-dulu sebelum ini.&lt;br /&gt;Apa yang bisa kau perbuat?&lt;br /&gt;Aku terima tuduhmu padaku ibarat penonton yang Cuma bisa berteriak sejenak. Lalu kembali duduk rapi atau karena tak puas, berlalu pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Belum juga usia duduk saya menatap dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thowaf&lt;/span&gt; di sana berumur tiga puluh menit. Saya beranjak dan pulang. Kemudian menonton Karate Kid. Menyaksikan aksi Jacky Chan dan Jade Smith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat film ini, menyelip gugat  pada diri,  mana kerisauanmu?  Sementara puncak acara pergantian tahun sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rupanya saya malah tak tahu bagaimana cara menikmati malam pergantian tahun baru. &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan yah…Selamat tahun baru!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6362654518887758756?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6362654518887758756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6362654518887758756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2011/01/malam-pergantian-tahun_01.html' title='Malam Pergantian Tahun'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2920453950362639748</id><published>2010-12-26T05:57:00.004+07:00</published><updated>2010-12-26T06:40:44.560+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kadang, dalam tarikan nafas dan langkah kaki, terbersit berjuta rasa, serasa mengacak mood dan kepala. Tidak hanya bimbang dan gamang tetapi sering menggenang, becek, kumal tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dari jutaan wajah entah ataupun yang cerah, tak bersambut pandang mata kita yang tak terarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dari seruan dan ajakan menari, manusia saling memunggungi, bergegas, lekas dan menghilang tak jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dari semua tulisan dan kata yang telah kita torehkan, membekas luka malu untuk menatap dan bercakap dengan diri yang cacat dan tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dari sekian banyak sampah kepala yang kita coba reka ulang, berharap menjadi berguna tanpa membuangnya, manariknya dalam peredaran dan aktivitas kita kembali.Tetapi tak satupun yang benar-benar terbaharui. Kecuali…sebuah wajah sedih karena tertindih dan tersiksa dengan pertentangan nilai tukar dan guna sang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, ketika kita amat lantang mewartakan keresahan, tak peduli lagi dengan gemanya. Apakah benar-benar mengudara, atau sekedar busuk dan bergemuruh di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut kepada selain diri, adalah kata yang haram. Membekap kita pada sangkar kemandirian. Menilai adalah nabi dalam pendidikan. Mengalami adalah ekstasi bagi penggila empirikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli setan! Adalah kata yang sesungguhnya menunjukkan kemuakan dan pengekangan yang sama sekali tak absah, merayu kita untuk melangkah lebih jauh  Merengkuh godaan dan hal terlarang telah mengerdip genit di ambang pintu, dengan gagasan yang super seksi dan wangi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutukan itu, kutukan kebebasan itu*), apakah kita siap untuk bergabung dengan mahaguru eksistensialisme itu…si Soren Kierkegaard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;¬¬¬*) maksudnya adalah pernyataan Sartre yang menyatakan bahwasannya manusia dikutuk untuk bebas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2920453950362639748?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2920453950362639748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2920453950362639748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/12/kadang-dalam-tarikan-nafas-dan-langkah.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5688590550978652846</id><published>2010-12-20T04:54:00.004+07:00</published><updated>2010-12-20T08:56:25.811+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Setiap hubungan itu unik. Sekalipun engkau punya seribu sahabat, kamu akan merasakan hal yang beda dari masing-masing jalinan. &lt;br /&gt;Barangkali pacarmu yang selusin atau  pasangan yang telah lama begitu setia, tak bisa menampung keresahannmu. Saudara yang tumbuh bersama sejak usia balita sampai engkau pantas menyandang sebutan laki-laki atau perempuan, tak bisa menampung barang sejenak kesedihanmu. Lalu tibalan seorang kakek renta dari belahan dunia lain, mampu memahami tiap inchi kata yang membentuk labirin itu. Setidaknya kamu merasa tidak sendiri lagi. Kalau mau sedikit agak gila, mungkin kamu bisa hidupkan tokoh dan karaktek imajiner dalam bawah sadar-mu. Ha-ha-ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( sebuah catatan ketika berunding dengan teh dan kacang )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5688590550978652846?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5688590550978652846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5688590550978652846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/12/setipa-hubungan-itu-unik.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6622805604661369387</id><published>2010-12-12T18:07:00.001+07:00</published><updated>2010-12-13T04:56:52.940+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Prasangka makin menganga. Senyum dan racun terangkum di dalamnya. Adalah jarak yang menebar hawa jumawa melambankan gerak. Lembam. Tak hendak melacak bongkot patologis dari jaga yang sia-sia. Gentar. Saat menepis sang alteris, diri makin terkikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku kangen kontradiksi itu. Manis yang bercampur pahit atau pahit yang terdeteksi karena ada manis. Bukan murni kepahitan yang terbiasa ku teguk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6622805604661369387?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6622805604661369387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6622805604661369387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/12/prasangka-makin-menganga.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3038574613703557484</id><published>2010-12-12T06:23:00.002+07:00</published><updated>2010-12-12T06:33:08.672+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kepak sayapku serasa menyempit. Atau sesungguhnya kakiku yang melangkah telah tergigit. Separuh dari diri yang kuat memadu semangat, untuk tetap tak goyah dalam simbah gelora untuk tidak menyerah, menguap. &lt;br /&gt;Tentang waktu yang menyihirku sehingga pasi wajahku makin abu-abu. Dan berapa ruang kosong yang mencakar-cakar keteguhan, berdiri dengan sebuah senyum dan ucapkan salam pada tiap sisi yang saling melatari. &lt;br /&gt;Aneh. Aku tak bisa tergelak dalam pesta kecil-kecil dan perayaan atas beberapa kedamaian dan puisi yang menyajikan ranjang kematian ( meminjam istilah Hector dalam The History Boy). &lt;br /&gt;Lidahku makin kelu. Kelu yang tiba-tiba. Seperti jeda yang menyelip. Walau berkali-kali aku coba bangkitkan kenangan tentram, seperti saat berjalan dan tergopoh agar tak sampai kehilangan pagi dalam sebuah perjalanan pagi. Agar tak tertinggal kabut yang menyelimut lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seolah jiwa-ku berdiri, meninggalkan raga yang terduduk lalu menari. Tak ada, tak ada yang tahu lalu lalangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa kataku?&lt;/span&gt;, begitu suara seolah dari yang lain menemani tarian-ku. Semua dugaanmu terbukti sudah. Lalu sebuah kata menamparku: “Jika kamu belum cukup dewasa untuk berjabat erat dan merasakan hangat genggaaman jemari kemanusiaan, kamu tidak bisa merasakan kerut penderitaan di tiap wajah yang kamu sapu sambil lalu dengan pandangan matamu yang telah terkepung  iklan di televisi dan kibulisasi borjuisi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah mereka yang memiliki sekutu untuk sekedar mendengar bisikan angin pada ilalang…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3038574613703557484?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3038574613703557484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3038574613703557484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/12/kepak-sayapku-serasa-menyempit.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-628486824795843260</id><published>2010-12-01T08:25:00.005+07:00</published><updated>2010-12-01T08:54:06.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'>Roar</title><content type='html'>Selalu begini kejadiannya : ketika aku hendak menulis atau sudah menulis di kolom posting. Selalu terjagal untuk mengklik opsi “publish”. Rasanya betapa malu nantinya….Hanya kenekadan yang mampu meloloskan sensor ragu-ragu dan timbang terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini saja ceritanya, aku akan datang padamu, lalu kita berpesta kafein, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, aku tahu racunmu kian berbisa. Aku sadari semua, dan aku takkan pernah bermaksud menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah bersalahnya aku padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan katakana kesalahan, aku tak tahu jika aku tak mengenalmu aku akan meminum sianida yang sekali teguk aku terkutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kebetulan, jabat erat tangan kita tak menyisakah kata sesal&lt;br /&gt;Dan tak ada yang melakukan agresi duluan, semua seperti berjalan dengan alur pelan&lt;br /&gt;Sampai tak terbaca bahwa kita saling mengait begitu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertukar komoditi, cemooh dan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, lagi. Langkah siapa engkau yang aku tilasi&lt;br /&gt;Sungguh bibir tak kuasa terus mengatup dalam balur takjub&lt;br /&gt;Selalu ingin ku sapa sosok yang tak mudah kubaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kamu tidak tidur tadi, sepagi ini kau sudah membalas sapaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengkur. Hanya saja mimpi selalu menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mau bilang apa kemarin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin berucap apapun, tetapi banyak hal ingin aku lontar.&lt;br /&gt;Bisakah aku menyandarkan sedikit kata yang menggunung di kepala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding kamarku sudah hampir roboh karena ulah serapahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirikan untukku satu dinding telinga untuk mendengar atau menghalangi pekik suaraku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakan kamu menadah semua, tolong! Setidaknya hanya luntahan perasaanku, selebihnya kau boleh cibir atau nyinyir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan menampungnya, tak akan kucibir apalagi nyinyir. Tidak melakukan keduanya saja aku sudah cukup satire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bilang kau akan datang ke tempatku, kawan? Apakah kau makin sibuk sehingga mengumbar harapan untuk sekedar bertemu muka dan bercakap ringan denganku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebaliknya, ketika kau ucapkan selamat beraktivitas saja, aku masih berada di kursi malas dan menggeliat seperti ulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pikir apa bedanya status facebook dengan postingan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang beda, hanya urusan tempat dan selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;E silencio!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat kamu &lt;br /&gt;Dalam diam saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;E silencio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen tawamu&lt;br /&gt;Dalam ruahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Escribiendo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku bukan siapa-siapa&lt;br /&gt;Maka aku torehkan kata&lt;br /&gt;Hanya hendak bilang padamu dan dunia&lt;br /&gt;Kalau aku….ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justeru aku membacanya sebelum aku benar-benar pantas merasa dewasa dan pantas harus merasa dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku selalu merasa menjadi pemula yang gagal terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha salido!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa keluar dari gelenggang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin tahu diri, tahu orang lain, dan tahu diri ketika orang lain tahu diri dan tahu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau berpikir bahwa jelek-jelek atau saking rendah hatinya kamu, kamu sebetulnya dibutuhkan oleh banyak orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengandaian aku memang maunya begitu, tetapi aku pengecut untuk berterus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa yang kau sebut kata itu, siapa sih dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bukan siapa-siapa kenal denganku saja tidak. Tetapi aku bersukur pernah mendengar sebuah kata:&lt;br /&gt;enjoy! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita pernah berperang, aku ketagihan bersitegang denganmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika peperangan itu berlalu, sopan santun dan rasa nyamanpun mulai menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang salah denganku, ketika aku makin jauh dari standar-standarmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang salah adalah aku tak tahu harus bagaimana mempertahankan dan memeliharanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau kini menjauh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa selama ini aku mendekat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah masalah menjauh dan mendekat itu urusanmu? Karena aku tak pernah dihargai secara penuh dan kau menghargai diri terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu ungkit kesalahanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu menunjukkan semua di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta sebuah cerita, satu cerita saja, maukah kau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu bertutur dan bercerita dan kau tak pernah sempat mendengarkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja melakukan semuanya, tidak lagi menyapamu, tidak lagi bertanya kepadamu. Ternyata kau tak pernah memulai, selalu memposisikan menjadi diri yang seolah tak butuh dan tak tersentuh, tak mau jadi si rendah hati yang menyapa duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah melakukan semua itu lebih daripada demi kesopanan. Tetapi balasanmu adalah penolakan. Jadi rayakan saja cara-mu yang memang kini menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka suka terbahak begitu tinggi, aku sering terintimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kamu pikir mereka negasimu atau bersikap negative terhadapmu. Padahal semua bermula dari kepalamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali bukan itu, aku dengar dalam tidurku bahwa mereka kberatan dengan caraku dan memprotesnya di balik punggung saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu penyakit mereka, kenapa kau ikut bersusah payah merasakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu penyakit, mungkin adalah kulit yang bernanah dan penuh luka.&lt;br /&gt;Yang amis dan membusuk, sedang hidupku di sampig mereka. Nah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-628486824795843260?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/628486824795843260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/628486824795843260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/12/roar.html' title='Roar'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2632500524762439193</id><published>2010-11-25T18:16:00.001+07:00</published><updated>2010-11-25T18:16:55.613+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Eat Pray Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah trias aktivitas  dari keresahan generasi manja. Penuh pretense. Problem khas manusia modern yang makmur. Apa yang kurang dari suami yang kaya, tampan dan setia menemani setelah sekian lama. Ekonomi kecukupan, malah bisa dibilang mewah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya demi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan (lagi), berdoa dan (ber)cinta (lagi?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2632500524762439193?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2632500524762439193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2632500524762439193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/eat-pray-love-sebuah-trias-aktivitas.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-5306786969591655070</id><published>2010-11-25T17:33:00.004+07:00</published><updated>2010-11-25T17:54:53.010+07:00</updated><title type='text'>Deviasi</title><content type='html'>Berbahagilaha mereka yang bisa marah, memiliki ruang untuk menampung dan memiliki keberanian untuk meluntahkannya. Sekedar mengekpresikkan kemarahan. Jika aku ingin meluntahkan , rasany aku berdosa mlibatkan pihak di luar diriku. Jika aku ingin hanya membanting pintu aku tak mau aku melukai perasaan orang sekitar yang kebetulan mendenngarnya (walau terpaksan kadang hal ini yang sering aku lakukan). Jika aku ingin mengadu kepada seorang kawan, aku tak tega menggantungkan ekspektasi terlalu banyak pada mereka. Berharap mereka memiliki waktu luang untuk sekedar menghibur dan…. nihil! &lt;br /&gt;Dan kawan yang  baik tiba2 datang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku ingin sekali saja kamu curhat kepadaku, bagiku suatu kehormatan kamu bersedia curhat kepadaku…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin tak mengerti, bahwa kata-kata semacam ini saja sudah membuatku terharu, dunia berbalik, layar berganti. Pantaskah aku merasakah gerah neraka sedang seorang teman meneteskan ketentraman di saat aku kebingungan harus membuang kemarahan di mana tempatnya. Kata-kata itu sendiri telah menjadi penawar. Kemarahanku hilang, dan aku merasa tidak adil. Bagaimana mungkin kemarahan yang puncak endingnya hanya begini? Ini fatamorgana, kata batinku yang penuh prasangka, ini hanya obat “penenang” yang tidak menyembuhkan tetapi sekedar menunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat “berkonflik”-ku ternyata tak rela melapas rasa marah yang tiba-tiba hilang “pesona” dan “daya”nya. Aku tahu, kawanku yang satu ini tak pernah bisa diajak bicara dari hati ke hati (setidaknya begitu hematku menilai akan komoditi dan jenis kemarahan macam yang barusan aku tanggung dan akan seperti apa kalau aku meluntahkan di depan dia). Tetapi aku sadar, perubahan dari marah yang tak menemukan lokus untuk melampiaskan serta kemarahan karena manyadari bahwa untuk ‘mengeluarkan” saja susahnya minta ampun dengan sederet kata yang cukup terapis itu, tidak akan menghasilkan banyak hal. Hanya tentram lalu…..apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa apanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin bingung, sebetulnya aku baiknya marah, kesal atau bahagia? Rasa yang bercampur ini lebih tak mudah diurai darai sekedar wajah dalam satu topeng warna. Sebetulnya seandainya aku jadi marah itu..untuk apa? Apa yang aku hasilkan, dan seandainya aku tak marah bukankan aku akan jadi hantu tanpa pesona juga, tak terbaca emosi dan reaksi atas kebiadaban atau kekurangajaran serta komplain yang tak memiliki mekanisme dan memang tak perlu mekanisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai “keraguan” dan “ekspresi” karena tak bisa bertindak ekspressif atas kemarahan itu justru autodestruksif/ selfdestruksif, yang menimbulkan luka (fisik) yang kadang harus disembunyikan karena tak cukup punya keberanian memamerkannya (sekedar mata sembab, misalnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkadang iri terhadap mereka yang berani blak-blakan marah, saya iri terhadap mereka yang bisa melampiaskan sejumlah fiksasi dan tindakan afeksi tertentu. Saya tetap manusia yang tak bisa telanjang penuh, bukan lantaran saya menekuni pretense-pretensi atau demi kesopanan tertentu, semua seolah, ketika ingin saya luntahkan, tertahan dan berbelok arah dihajar habis-habisan oleh keraguan dan prasangka-prasangka yang berasal dari dalam diri saya sendiri, sekali lagi…hantu dan terror dari pertanyaan “untuk apa?” dan “buat apa?”, “lalu bagaimana?” terus merapat dalam “keluaran” itu. Semacam sembelit yang kadang ujungnya membawa perasaan bahwa bukan sembelit, hanya …entah apa atau ilusi semata dari mimpi-mimpi heroic atas hasrat marah itu. sebuah perubahan yang drastis, hasrat yang berasal dari hasrat eksplorasi ekspresi dan kekesalan yang tertahan dan menyimpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ekspektasi profitual moralis, sedang saya angankan, termasuk laba dari kehancuran dan luka dari perasaan yang lama, untuk diambil keuntungan dinamika atau sukur-sukur loncatan tindakan atas pemanfaatan daya marah itu menuju pemenuhan hasrat yang dalam pengandaian saya, mind-set saya, serta konsep dan prinsip yang diartikulasi sedemikian rupa bisa lebih elegen, lebih prestisius, lebih…dan lebih…&lt;br /&gt;Anehnya semua dalam aproksimasi…sukur-sukur!&lt;br /&gt;Hmmm..sukur-sukur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Kutebar maaf atas penggunaan istilah secara tak karuan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-5306786969591655070?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5306786969591655070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/5306786969591655070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/deviasi.html' title='Deviasi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-543053885636094591</id><published>2010-11-21T08:57:00.004+07:00</published><updated>2010-11-21T09:07:54.699+07:00</updated><title type='text'>Vie 4 Vendeta</title><content type='html'>Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah  gubuk berkunci idiotisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya pembebasan tetapi penuh perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajari menulis walau hanya sebuah garis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kemenangan tetapi menjadi menang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam dalam pembebasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterjagaan dan rengkuhan permusuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terdengar  dentingan piano tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pentasbihan nada yang terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah syahwat keabadian*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie 4 Vendeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari penebusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vendeta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eja kaku kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________________________________________________________________________&lt;br /&gt;*)kumpulan puisi F. Nietzsche&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-543053885636094591?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/543053885636094591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/543053885636094591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/vie-4-vendeta.html' title='Vie 4 Vendeta'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7848991879133810344</id><published>2010-11-16T14:26:00.003+07:00</published><updated>2010-11-16T14:44:29.808+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Adha</title><content type='html'>Saya bukan termasuk orang yang merayakan hari raya Idul Adha hari ini, tetapi ada beberapa teman dan tetangga jauh yang merayakan sekarang. Selamat hari raya. Resminya (karena tercantum di kalender nasional) di daerah kami hari libur itu jatuh pada tanggal 17 November besok. Bagi mereka merayakan pada hari ini, di tempat saya, harus rela hanya “merayakan” seperempat hari (karena ada yang memberlakukan jam kerja atau masuk sekolah pada jam sembilan). Dan tentu saja lebih banyak yang tak mendapatkan libur barang sejam saja karena tidak ada kebijakan dari tempat mereka bekerja/bersekolah untuk libur. Konsekuensinya  tak sempat menunaikan sholat ‘Id dan tetep merayakan hari raya dalam rutinitas, layaknya hari-hari biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah berkelekar ke teman, saya berujar ; "Kok mereka yang merayakan Idul Adha hari ini seperti minoritas yang belum dapat pengakuan dari pemerintah, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Adha...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7848991879133810344?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7848991879133810344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7848991879133810344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/selamat-hari-raya-idul-adha.html' title='Selamat Hari Raya Idul Adha'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7824707486029570878</id><published>2010-11-13T05:18:00.003+07:00</published><updated>2010-11-13T05:26:14.680+07:00</updated><title type='text'>Matilah!</title><content type='html'>Matilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tadah empu&lt;br /&gt;Asbak, cinta dan darah&lt;br /&gt;Empu, aku heran menyala di dada&lt;br /&gt;Empu, aku tergodam palu tepat di palungku&lt;br /&gt;Aku siksa batin&lt;br /&gt;Sekejap nista rutin&lt;br /&gt;Singgah dalam puntung rokok&lt;br /&gt;Entah&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Meraja &lt;br /&gt;Degup &lt;br /&gt;Oh, bulan&lt;br /&gt;Di gundukkan tanah&lt;br /&gt;Aku bunuh diriku&lt;br /&gt;Kelam keram&lt;br /&gt;Binasa tak bermakna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam membara dalam sekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitkan aku, waktu&lt;br /&gt;Derukan derap langkah pemburu&lt;br /&gt;Terabas jahanam menggilas manja-manja jendela&lt;br /&gt;Sapu gincu malu-malu&lt;br /&gt;Hajar bedak pura-pura menegak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan! Aku oleng&lt;br /&gt;Sayup bunyi setan merayu&lt;br /&gt;Dalam rentang lama aku tak ada di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana hantuku?&lt;br /&gt;Ah, merah masih menyala&lt;br /&gt;Tersisa di bagian keranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak!&lt;br /&gt;Jangan ucap aku&lt;br /&gt;Jangan sebut daku&lt;br /&gt;Tiarap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi hendak menembak&lt;br /&gt;Laknat! &lt;br /&gt;Aku bilang jangan khianat&lt;br /&gt;Ini negeri, ini berdaulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bukankah kau telah tiada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah tidak ada&lt;br /&gt;Kini kembali pada sewujud&lt;br /&gt;Apa pantas disebut-sebut hidup &lt;br /&gt;Dan …&lt;br /&gt;Manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau zombie merangkak &lt;br /&gt;Kembali berbiak&lt;br /&gt;Di ubun-ubun ketus kalimat&lt;br /&gt;Menanak dan masak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosong dimakan jam-jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, simak!&lt;br /&gt;Gelegat makhluk tak tahu diri ini&lt;br /&gt;Masih menggeliatkan pagi&lt;br /&gt;Dan memutar weker&lt;br /&gt;Membunyikan nyanyian cekam&lt;br /&gt;Dalam kamar sempit&lt;br /&gt;Saling berhimpit&lt;br /&gt;Hidup mati sengit membelit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                                Oktober dua kosong satu kosong&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7824707486029570878?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7824707486029570878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7824707486029570878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/matilah.html' title='Matilah!'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4651021627774276085</id><published>2010-11-11T05:41:00.004+07:00</published><updated>2010-12-13T07:55:11.057+07:00</updated><title type='text'>Dankeje Wel</title><content type='html'>"Danke wel, danke wel!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerutkan kening. Nenek tua yang nyasar jalan itu aku pandangi. Ia tersenyum, "dangke wel," ucapnya lagi. Senyumnya tambah lebar karena guratan kebingungan tercetak jelas di wajahku. "Landa! Belanda, aku mengucapkan terima kasih kepadamu, Nak!"&lt;br /&gt;Kini giliranku yang tersenyum. &lt;br /&gt;"Olala,Mbahhhh...Mbah pakai bahasa Belanda toh?"&lt;br /&gt;Mbah yang tadi itu mengangguk-angguk. Dengan semangat yang berlipat dia bercerita dan menyanyi dalam bahasa Belanda sepanjang perjalan ke alamat beliau. Aku kikuk, gimana ya?&lt;br /&gt;Berusaha membolak-balik lembaran ingatan di kepala tentang barang satu dua kata bahasa Belanda, aku tak berhasil. Si Mbah masih ngotot dengan nyanyian yang ia lantunkan dengan suara bergetar. "eike dangke wel juga dah, Mbah.."&lt;br /&gt;giliran si mbah yang heran. "Eke?"&lt;br /&gt;"iya, Mbah. eike! aku, saya!&lt;br /&gt;"IK!" suaranya cukup melengking, seolah meralat ejaanku yang salah.&lt;br /&gt;Aku tertegun. Masa ngucapnya ik saja sih, tanyaku dalam hati. Lalu aku bilang: Mbah kalau meneer, mavraou, signo, pasti mbah tahu artinya. (ya jelaslah itu kan penguasaan paling rendah bahasa Belanda, batinku menjawab sendiri). Tetapi muka mbah tadi tampak senang. "Iya, iya. Heheh," pelan suaranya.&lt;br /&gt;Aku tertawa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asik2 gue tahu Belanda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Nah, Mbah! Sekarang sudah nyampe," kataku ketika sampai di depan rumah tempat tinggal si mbah. Aku ucapkan salam. Mbah tadi yang nyelonong langsung masuk ke dalam, mundur. Dia berdiri menjajariku. Lalu mengucapkan salam. Aku menahan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan rumah keluar dan aku berbasa-basi dan "menyerahkan" si mbah tadi. Aku segera mohon diri. Sebelum  aku balikan badan..."danke wel, danke wel!" teriak si mbah sambil melambai. Aku memutar badan dan tersenyum, "danke wel".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tubuh, pada akhirnya akan melepuh, reot, renta. Muka, pada akhirnya juga akan peot, merosot dan bergelembir. Suara yang lantangpun menjadi bergetar dan oleng. Seperti suara si mbah yang masih sayup2 terngiang ditelinga saya: danke wel...danke wel. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dankeje wel!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4651021627774276085?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4651021627774276085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4651021627774276085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/danke-wel.html' title='Dankeje Wel'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-8058353725499920283</id><published>2010-11-11T05:37:00.002+07:00</published><updated>2010-11-11T07:07:13.811+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ralph Waldo Emerson said : “ One of most wonderful-thing in nature is a glance of the eye: its transcendens speech!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergoda untuk berterima kasih kepadamu, &lt;br /&gt;Karena kau satu-satunya orang yang bertoleransi terhadap kegilaanku.&lt;br /&gt;Walau kau mencoba bersikap sama dengan yang lain. Tetapi aku tahu, sejujurnya, matamu penuh restu akan sekeping mimpi yang menghampiriku. Dan kamu hampir menyembunyikannya dariku, Ayahanda...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-8058353725499920283?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8058353725499920283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8058353725499920283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/ralph-walda-emerson-said-one-of-most.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6352063687500062348</id><published>2010-11-09T23:16:00.006+07:00</published><updated>2010-11-25T18:40:29.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='postlude'/><title type='text'></title><content type='html'>Akhirnya ada yang menggugat saya juga, tentang puisi yang pakai kata serapan terlalu banyak (kemudian taman saya bilang njlimet). Padahal ini gara-gara saya sedang "mencintai" kata sub-konjungsi untuk menunjukkan sejarah, atau peristiwa kecil yang tidak dan sangat jarang diperhatikan ( cieeeee, jangn tuduh saya lagi terkena penyakit Foucaultis atau dekonteruksifis ya?) oleh arus utama zaman yang "kecil"  dalam sejarah. Sedang kata proposisi karena saya merasa terkadang kalimat yang "datang" terpisah dan tanpa diduga pun kadang "berkaitan". Mungkin pada suatu ketika saya malah ingin memperbanyak puisi dengan kata-kata "njlimet" yang bukan berarti tak ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, walau sebagian juga susah saya cari.yang memang susah saya cari padanan kata dalam bahasa Indonesia. id, ego, superego, ubermensch, scizofrenik, kronikal, komikal, singular, tremendum, subatomik, termal, dinamikal, sangar,banal, mezzobanal,subnormal de es te-de se te. Sebetulnya saya sudah mencoba mengganti kata-kata serapan yang kata teman saya jadi bikin njlimet. Tetapi kalau misal saya merujuk daya hidup dengan elan vital semata-mata karena saya saya ingin berbicara dengan bahasa dan frase yang sudah meng-kepala. Sebetulnya saya malah nggak ingin mengkatagorikannya sebagai puisi, melainkan kata ynag berserak sajalah.  Tetapi dijaman kategorisasi seperti sekarang kadang tak ada ruang bagi yang tak beridentitas (meminjam istilah GM dalam capingnya), jadi ya...semacam itu tadi, kata acak berserak. &lt;br /&gt;Orang boleh menuduh saya cuma sedang main-main dengan kata (dan memang iya), tetapi itu tidak "semata". Orang juga bebas menafsir saya hanya sedang mendompleng keagungan frase,idiom  dan konsep yang terkandung di dalam kata atau frase yang saya pakai. yang bisa saya perjelas dan pertegas hanya satu...bahwa saya sedang mencoba dan belajar menulis...apapun kategorinya..termasuk ketika tulisan saya tak masuk dan tak bisa dimasukkan dalam katagori manapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy aja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6352063687500062348?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6352063687500062348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6352063687500062348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/akhirnya-ada-yang-menggugat-saya-juga.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6903760422036389208</id><published>2010-11-09T04:30:00.003+07:00</published><updated>2010-11-10T07:33:36.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proMezzo'/><title type='text'>...........</title><content type='html'>Ijinkan aku mengagumimu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat telak yang dilancarkan seorang playboy. Jelas gombalnya tetapi sekaligus menggoda. &lt;br /&gt;Masa kagum harus minta ijin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagian mau kagum atas dasar apa?&lt;br /&gt;Karena punya hidung Julia Robert yang banyak upilnya?&lt;br /&gt;(eh, ngomong2 tentang upil kok poto ente di propil seperti sedang mengeruk upil, pura2nya ada seorang sahabat yang bertanya padaku. Lalu aku pura-pura menjawab; hust! Bukan lagi ngupil!  Tetapi lagi menyembunyukan senyumku yang mirip Keira Knightly)&lt;br /&gt;Halah, kawan! Aku punya segudang teman yang paling pilojinis dah!&lt;br /&gt;Kata mereka tuh ya, kalau merayu seorang wanita biar wanitanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;klepek-klepek&lt;/span&gt; doang! Jahat banget kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi coba dah kamu hadapi si playboy itu?&lt;br /&gt;Tahu rasa loe! Ngomong emang gampang, tetapi prakteknya kamu terjerat juga, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kagak! Masa kayak gitu aja terjerat. &lt;br /&gt;Tinggal jawab aja, mau kagum atau mau jijik, mau benci atau cinta setengah mati, ya, nggak haruslah tanya ke gue. Lagian apa hak aku mengontrol dan mengatur apa yang mesti ente rasain terhadap gue!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi gue, itu perlu. Bagi gue perasaan dan penilaian kamu terhadapku sangat berarti, jawabnya sambil menatapmu dengan matanya yang sengaja ia redupkan (maksudnya mungkin untuk menghasilkan kesan tatapan romantis dan melehkan hati) &lt;br /&gt;Wah ini mah serangan gombal dari philogynik romantik sekaligus tragik!&lt;br /&gt;Ya, sudah. Suka-suka kamu dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pura2nya ngacir)&lt;br /&gt;Eh, jangan ngacir! Tar elu dianggap semakin bikin dia penasaran. Dituduh oleh para kasmaranolog atau bahasa kerennya amorolog sebagai penjerat kelas tinggi, gimana coba?&lt;br /&gt;Apa reputasi kamu sebagai cewek baik-baik jatuh berserak di mata amorolog. Atau malah oleh para missoginis (baik pria maupun wanita) yang bisa-bisa menuduh seenak udel sebagai tukang tebar pesona dan penyiksa perasaan dengan cara bikin penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, gimana dong?!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengerin aja, ladenin (dalam arti gak usah pura-pura lari dan menghindar, tetapi juga hindari tindakan menjerat ya?!)&lt;br /&gt;Tar juga low lelah mereka menyudahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi ngomong mah gampang!!!!!&lt;br /&gt;Gimana kalau yang terjadi malah kita2 lama-lama terjerat si philoginik itu tadi?&lt;br /&gt;Karena seperti Om Hitler bilang, kenyataan/kebenaran adalah dusta yang diulang-ulang!&lt;br /&gt;Kita lama-lama jadi percaya sama omongan dia, luluh sama dia, cinta mati sama dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem wanita paling purba  adalah kecanduan akan rayuan..&lt;br /&gt;Katakana saja kalimat diatas pada si playboy tadi. Lalu.. Aku sampai nggak bisa membedakan apaka kamu sekedar merayuku atau karena yang kau ungkapkan adalah representasi sahih atas perasaanmu padaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahahahahaha! Dokter cintapun beroperasi, buka praktek 36 jam dalam seminggu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6903760422036389208?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6903760422036389208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6903760422036389208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/blog-post.html' title='...........'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4751854861932837062</id><published>2010-11-09T02:05:00.002+07:00</published><updated>2010-11-09T04:09:16.012+07:00</updated><title type='text'>( Bukan ) Pledoi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teruntuk Maestro-ku yang selalu meninggalkan tatapan penuh prasangka&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di matamu akau memang salah dan tak karuan, anggap saja demikian, aku tak pernah menuntut pembersihan nama&lt;br /&gt;Jika kau hakimi aku sebagai pengecut merangkap sok jagoan, aku tak pernah keberatan kalau saja itu mampu membuatmu berhenti sakit hati (atau mungkin kenyataannya demikian, hanya saja aku tak bisa mempercayainya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau begitu membenciku dengan segala tuduhan yang telah kau anggap sebagai kebenaran, sekedar untuk catatan, aku tak pernah memaksamu untuk menyukai apalagi memujiku dari dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keyakinanmu akan pengetahuan tentangku telah mengkristal sebagai kebenaran dan fakta, aku tak pernah bersusah payah untuk membantah, sanggahanku dan segenapa bukti yang aku ajukan, kalau aku mau, kau pun akan mengingkari dan tak meliriknya sama sekali. Bahkan kau akan melihatnya sebagai kepalsuan atau kesombongan intelektual seperti yang pernah kau tuduhkan ketika sekali saja aku hendak membela diri, itu sudah cukup aku mengerti bahwa kau yang berkata tak tahu, karena kau memang tak ingin tahu. Dan itu hampir saja kau akui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau tak suka aku berteman dengan siapa dan siapa, lalu kau merebut mereka dengan segala hasutan agar menjauhiku, aku tahu, teman sejati, sesungguhnya ada dalam diri, cermin jiwa, cermin hati. (sorry Attar aku pinjam istilahmu dengan sedikit improvisasi), dan aku rela. Karena sahabat ialah…blab la bla….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau yang tak pernah mengangapku benar, aku titip salam, kepada jiwa prasangka dan kekuatan menduga yang ingin kau paksakan kepadaku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau masih menganggap nasibmu merupaka akibat dari tindakanku, mohon maaf , dalam ajaran agamaku, aku tak berhak atas segala dosa dan pahalamu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4751854861932837062?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4751854861932837062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4751854861932837062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/pledoi.html' title='( Bukan ) Pledoi'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-409023300430147862</id><published>2010-11-08T06:19:00.001+07:00</published><updated>2010-11-08T06:23:40.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aku dan kawan'/><title type='text'>Guyon</title><content type='html'>Pada awalnya adalah kata, kata Al-kitab. Tetapi kaum materialis kemudian meralat:   pada awalnya adalah tindakan, laku.&lt;br /&gt;Lalu saya juga boleh dong main2 dengan klausa pada awalnya adalah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suntuk juga. Saya online dan kebetulan teman yang kenal cukup baik sedang nangkring dan menyala juga yahoo id-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : Eh, gunung slamet katanya sekarang statusnya waspada ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue nyengir, ternyata neh, yang punya status tidak hany warga suatu Negara  dan warga Negara dunia maya Negara facebook, tetapi juga gunung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Ah, kata siapa ente jangan nakut-nakuti gue dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : Gue gak nakutin, berita bilang begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ketinggalan berita? Ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Tetapi kok tempat gue orangnya pada adem-adem aja. Kemaren malam hujan abu juga kami rasa itu bersal dari gunungnya mbah marijan itu. ( wah mbah marijan punya gunung), Cuma w takut kalau itu berasal dari gunung terdekat gue, dan gara-gara perhatian mereka terserap dengan letusan gunung tempo kemarin jadi gak peduli sama gunung yang deket.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : [ketawa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Wah... jangan2 karena kita sedang pesta tarian alam bisa jadi ada politisi kelas cilok yang bilang jangan tingggal di dekat gunung kalau gak mau kena letusan atau semburan awan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : [ketawa]&lt;br /&gt;A : Mungkin politisi atau menteri kelas kecoa akan bilang jangan hidup sekalian kalau pingin nggak mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : [ketawa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Sssttt!  Itu mirip ajaran Zen. Menteri atau politisi atau anggota dewan itu pasti studi banding ke Jepang sekalian jenguk  Miyabi dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : [ketawa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Weleh2, dari tadi ente nyengir doang!&lt;br /&gt;B : [ketawa]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Gue lep aja, mau ketemu Mbah Mar….(pura2nya suaraku fading on)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si temanku lagi-lagi masih mengirim balasan emoticon ketawa. Gila!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-409023300430147862?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/409023300430147862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/409023300430147862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/guyon.html' title='Guyon'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-6329843004177024762</id><published>2010-11-04T22:08:00.002+07:00</published><updated>2010-11-05T02:51:28.693+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Semalam aku "berbincang" dengan seorang kawan tentang hidup yang begitu tampak singkat dan memang singkat adanya. &lt;br /&gt;Kita sering mengalami hal seperti ini, merasa terbangun dari mimpi panjang setelah sekian ratus jam yang kita habiskan untuk sesuatu yang kita tidak tahu. Bahkan jika kita ditanyai tentang 'misi' hidup kita, kita selalu gelagapan menjawabnya. Atau ketika kita terlena pada suatu hal. Ketika mengalaminya  kita selalu merasa mampu meyakinkan diri kita, aku sadar melakukan ini semua. Aku sadar bahwa aku bahagia dengan kekonyolan ini dan aku sadar bahwa ini pilihanku. Giliran cara pandang kita berubah, kita seperti baru mendarat ke bumi lalu bertanya pada diri, " Ke mana saja aku selama ini?"&lt;br /&gt;Pola demikian sering terulang lagi dan lagi, bahkan berlapis. Terasa seperti mimpi, lalu terasa seperti mimpi dalam mimpi, lalu terasa mimpi dalam mimpinya mimpi. Kabut dalam pikiran kita seperti menebal. Mimpi yang pertama kali sengaja kita buat dan pelihara dalam keadaan antara setengah tertidur dan setengah terjaga, jelas masih mampu kita kita kendalikan cerita dan alur mimpi itu, sampai benar-benar kita jatuh tertidur. Dan mendapati sesal ketika terbangun. menyadari terlalu lama dilumat lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengawali hari kita , dalam degup yang sama ketika kita rencanakan dalam jaga, memakan waktu yang tidak sesaat. Hanya satu cara yang aku punya. Menyeret langkah, keluar dari selimut dan buaian kantuk secara paksa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-6329843004177024762?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6329843004177024762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/6329843004177024762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/semalam-aku-berbincang-dengan-seorang.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7340887925190701409</id><published>2010-11-03T03:38:00.003+07:00</published><updated>2010-11-03T04:25:50.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ziarah Batin'/><title type='text'></title><content type='html'>Pura-pura pun berlapis. Topeng-topeng pun ada yang tebal dan tipis. Make up kadang juga berarti ia ingin tampak dalam kepura-puraan yang kontras. Pura-pura tidak pura-pura dan pura-pura pura pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di bangku itu, ya di bangku itu,  pernah tergeletak dua sajak. Sajak yang hadir tiap ruang di kepala, ruang di batin, atau ruang yang meraja di setiap hidupnya. Ruang yang kadang benderang kadang pengap. Ruang di mana kesadarannya ia lucuti. ia tanggalkan. Sementara setengah mimpi silih berganti menemukan dan kehilangan diri-nya. Demikian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7340887925190701409?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7340887925190701409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7340887925190701409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/pura-pura-pun-berlapis.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-8120039928187573837</id><published>2010-11-02T05:30:00.004+07:00</published><updated>2010-11-02T06:38:25.942+07:00</updated><title type='text'>Untuk Anak-anak Manja</title><content type='html'>_________sebuah catatan tiba-tiba menyembul di antara file-file usang_________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita hujani diri dengan  tendang-terjang dan tamparan paling perih.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa kau tak mengerti apa-apa tentang penderitaan. Jelaslah kau lebih pantas sibuk dengan dering hapemu yang tidak perlu. Jelaslah kau tak mau dan tak ingin mengerti tentang bau nafas dan makanana yang tak sedap karena bercampur bau keringat dan lumut-lumut dari tembok rumah yang pengap. Kau merasa terlibat hanya karena sesekali ikut mengumpat setelah melahap berita-berita di koran atau televisi. Ikut mengutuk kapitalisme dan imperialisme itu, ikut seminar ilmiah, budaya dan politik. Ikut  pergelaran dan pertunjukkan seni. Rajin sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan makanan dari kemasan kaleng dan plastik yang sedemikian rupa. Minum minuman soda  dan daging cepat saji yang dilumuri tepung yang sumsum tulangnya masih menyala merah. Saling berbonceng antara lawan jenis dengan memadu kasih. Menghamburkan jam dalam tawa.  Tak tahu arti bahagia bisa mengelus rambut lusuh yang dilumuri minyak bekas dipakai  masak/goereng, berdekatan dengan anak-anak yang jika sudah mandi tetap saja lengket kulit dan bau badannya. Atau menyediakan tawa bagi nenek tua yang begitu ceria menggembalakan kambing dan memeras sapi. Atau senyum sinis ibu pembersih kadang sapi ketika ditemui dan disenyumi.  Bau kotoroan sapi. Air yang memucrat layaknya kolam tlepong. Senyum sinis pejabat kampung yang merasa pengaruhnya digerogoti hanya karena ada orang yang  ingin bergaul dengan masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau berguling-guling menyusuri kebun dan gamping menemui orang yang haus untuk sekedar ingin mengenal huruf, lantaran hari-harinya  hampir ia habiskan untuk menggembala atau menyadap air gula lalu menenteng dua jerigen besar dan menggendhong satu jerigen dipundaknya. Bisa bayangkan betapa berbaunya jika kita berdekatan dengan “pejuang” tangguh itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau  juga tidak tahu bahwa ada anak-beranak yang sudah sama-sama menjanda dan tiap hujan deras atau pada malam dengan angin kencang harus mengungsi kepada tetangga. Atau sesekali petani kebun yang nakal melintasi rumah janda anak  beranak itu dan “mengerjai” mereka. Kamu mana tahu tentang itu. Kamu mana tahu tentang minuman putih yang asin. Tentang lelaki tua yang digerogoti penyakit kudis berkepanjangan dengan anaknya yang tak sekolah dan isterinya yang selalu lelah. Kamu mana tahu tentang celana kolor yang robek di sana sini. Bukan buatan, tanpa maksud artistik tertentu. Konstanta nasib orang-orang malang ini, derita orang yang tak muluk-muluk mengandaikan hidup. Asal makan cukup, lalu sedikit mengenal huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau, betapa terbebaninya seorang wanita cantik dari keluarga tak begitu kekurangan namun  ia harus menangngung bahwa dia adalah buta aksara. Dan untuk mengakui itu semua memerlukan waktu yang sangat lama.&lt;br /&gt;Untuk tanda tangan saja,  ia harus menanggung malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kamu juga tidak pernah atau jarang mendengar tangis wanita yang ditinggal suaminya pacaran lagi (kecuali di tivi mungkin) dan tak mau menafkahi lahir dan bathin. Setelah sakit hati dan lelah mengurus derita yang diciptakan suaminya serta mengurus anak-anaknya yang masih kecil ia tak kuasa menuntut  cerai suami. Tidak karena biaya cerai itu sendiri tetapi juga karena kasihan dan tak tega anaknya hidup tanpa sosok bapak. Pengacara dan pembela adalah kata asing ditelinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Untuk saat ini mungkin kau sedang sibuk mengelus-elus hapemu, bercengkraman dengan teman-teman gembiraria-mu melalui laptop mulusmu. Atau mencuci motor/mobilmu untuk menukikkan hasrat mudamu. Ingat! Dunia kita sangat berbeda.&lt;br /&gt;Mana mungkin saat maghrib aku bisa seleha dirimu dalam balutan selimut dan cekikikan dengan hape ditangan? Sambil nonton kartun dan terbahak dengan makan berhamburan dari mulut.&lt;br /&gt;Mana mungkin aku bisa mengumbar kata-kata elok nan merdu jika dibunyikan, atau musik-musik klasik yang bisa didengarkan dan dinikmati dalam suasana manja dan “gembira-girang”, sementara kepalaku mau pecah mendengarkan orkesta dan soneta kehidupan yang menghamapar dimana-mana  tetapi  kekurangan penonton apalagi pengapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunggguh kita punya kebudayaan yang berbeda. &lt;br /&gt;Engkau, anak manja, tentunya kau bisa menghabiskan waktu dengan tentram dan lesehan.. Kamu, bahkan merasa sah ketika menuduhku sebagi seorang yang tak memiliki niat untuk bersahabat hanya karena aku tak memilih dan memiliki hal yang sama dengan dirimu. Memilih keluar dari persamaan dan memilih berbeda dengan-mu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-8120039928187573837?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8120039928187573837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8120039928187573837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/untuk-anak-anak-manja.html' title='Untuk Anak-anak Manja'/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-577964761919951422</id><published>2010-11-01T20:28:00.003+07:00</published><updated>2010-11-01T20:48:04.390+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='riang-gembira'/><title type='text'></title><content type='html'>Suka baca buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi sayang, saya tak punya uang cukup membeli buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa harus beli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Rajinlah ke perpustakaan sekolah atau kampus, atau jadilah anggota perpustakaan daerah! Tinggal pinjam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi kurang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singgahlah ke toko buku yang menyediakan tempat untuk membaca. Kalaupun tidak ada bangku, duduk saja di lantai. Nggak mungkin di usir kok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi jitu ini biasa saya pakai karena kantong saku sering bokek. Mungkin sambil kita nyisihkan anggaran, kita juga bisa nyicil bacaan. Apalagi di toko buku seperti Gramedia atau Toga Mas atau pun  bookstore di mall2, biasanya AC menyala terus dan musik klasik mengalun halus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-577964761919951422?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/577964761919951422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/577964761919951422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/11/suka-baca-buku-ya-tapi-sayang-saya-tak.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2943398993510756521</id><published>2010-10-31T02:26:00.001+07:00</published><updated>2010-10-31T02:26:32.270+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Terkutuklah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 02.15 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merutuk. Laptop merajuk. Butut. Sejak reinstall entah untuk kesekian kalinya. Ada WinRAR coba2. File ekstrakan PC Suite mana mau di-run us.&lt;br /&gt;Modem dongel tak mau jalan dengan kecepatan kurang dari 360 kbps. Belagu banget!&lt;br /&gt;Pinjam tetangga kamar?&lt;br /&gt;Sama belagunya. Waktu aku tunggu orang rumah pada tertidur. &lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil punya saudara. Eh, dia terbangun. Langsung diminta. Mau dipakai, alasannya.&lt;br /&gt;Tu..kan kalau mau dipinjam pasti bawaannya mau dipakai terus. Masa saya harus blogging pakai hape ?&lt;br /&gt;Pegal jari saya.&lt;br /&gt;Mau nangis ?&lt;br /&gt;Nggak lucu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi jam segini bukannya saya terbiasa bahagia dan 'gembira-ria'.&lt;br /&gt;Biasanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang khusyu mengembara di dunia maya. Terkekeh atau tersengat 'tramendum' ketika membenturkan huruf demi huruf. Atau sakau dengan teriak2 menyanyikan Colorblind-nya Overtone seperti kemarin, sampai saya dimarahi Babeh. Dan saya jawab sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Saya kangen Mandela. Ini OST Invictus, film Mandela yang ciamik itu, Dad!'&lt;br /&gt;Dan demi kesopanan saya turunkan volume suara juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagus juga anakmu yang buta sejarah ini belajar meresapi 'harga' kisah hidup  jenius kehidupan Opa Mandela, sambung saya dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal neh, saya suka lagu ini karena menyadarkan saya bahwa suara saya cukup seksi ( minta ampun belagunya ne si narablog ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguin teman yang pada tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, lelap bgt tentunya mereka. Nggak tega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya mengetik di hape. Posting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya... Posting penuh emosi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2943398993510756521?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2943398993510756521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2943398993510756521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/terkutuklah.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7837676953772479686</id><published>2010-10-30T06:44:00.002+07:00</published><updated>2010-10-30T07:25:55.268+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Pagi ini mendung. Sudah aku coba mengetik barang sekalimat dua kalimat. Lalu ku hapus. Sepertinya kepala saya ini enggan sekali memproduksi kata. Hampir saja saya memilih absen posting. Jujur saja, untuk sekedar mengisi posting hari ini dengan tulisan lama saya agak malas. Saya lebih suka "hadir" langsung di depan monitor. Lalu tik tak tik tak! Walau payah dan tertatih. Tapi mending dicoba daripada tidak sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya "cerai" dengan facebook, saya kepingin lebih sering blogging. Kalau bisa posting tiap hari. Urusan ada yang baca atau nggak, saya kesampingkan sajalah. Hehehe. Blogging dan ngopi di pagi hari saya rasa akan menjadi komposisi yang menyegarkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertajam telinga, berharap ada suara-suara yang bisa saya tangkap. Suara apa saja yang bisa membetot pikiran dan bereaksi menjadi sesuatu yang bisa saya "sampaikan" dan saya ceritakan. Nihil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit-menit terus merangkak....dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"JAMU! Mu, jamu!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Teriakan Mbak penjual jamu aku dengar, tetapi tetap saja saya nggak bisa menangkap konsepsi ataupun gagasan yang terlontar dari teriakan "Mu, Jamu!" itu. Oke, saya teguk kopi dulu. Lalu saya menggerutu. Makin hari aku makin tak peka saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;Saya mulai terusik. Mengapa saya kurang peka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagad "kecil" saya selalu saya usik. Tetapi jagad di luar saya tak pernah saya sapa. Saya keluar kamar, mencari penjual jamu itu. Ya, dia sedang menuang jamu untuk ibu saya ( tutu Biyung memang langganan ini bakul). Satu gelas hanya seribu perak. Lalu dia kembali menggendong jualannya. Berjalan, keliling. Dan.."Mujamu! jamu, jamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencang. Lincah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya tertunduk(atau pura-pura menunduk). &lt;br /&gt;Anak manja yang selalu meracau ini, pura-pura gelisah. Pura-pura menggeliat dan teriak-teriak, komplain dan menggerutu tanpa tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini memerlukan "jamu".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7837676953772479686?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7837676953772479686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7837676953772479686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/pagi-ini-mendung.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7372520703548512993</id><published>2010-10-29T06:00:00.002+07:00</published><updated>2010-10-29T06:15:44.141+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Tautan Rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau pikir, apa yang mendekatka aku padamu&lt;br /&gt;selain rindu yang malu-malu&lt;br /&gt;selain gerutu yang itu-itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bawa sajalah mimpi kesturi&lt;br /&gt;bawa sajalah tarian sunyi&lt;br /&gt;bawa sajalah kuncup kata dari telaga jaga&lt;br /&gt;bawa sajalah nyanyian berduri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan minta salam&lt;br /&gt;jangan minta kidung malam&lt;br /&gt;jangan lihat rembulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan tanya masihkan kita saling bertautan&lt;br /&gt;jangan tanya masihkan aku menyimpan ingatan&lt;br /&gt;tentangmu, tentang bocah lugu, tentang nada sendu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari dulu tak ada tanya, hanya kabar yang menyebar&lt;br /&gt;dari dulu tak ada penekanan, hanya meniti dalam dugaan&lt;br /&gt;dari dulu tak ada mawar, hanya tumbuh terus rumput nakal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan ungkapkan yang indah&lt;br /&gt;semuanya hanya akan mempercepat rekah lalu pecah&lt;br /&gt;jangan suarakan yang merdu&lt;br /&gt;semua hanya akan menahan langkah lalu goyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan berteriak&lt;br /&gt;aku sudah cukup tahu bahwa diammu itu menyalak galak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7372520703548512993?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7372520703548512993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7372520703548512993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/tautan-rindu-kau-pikir-apa-yang.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-1136847983015124394</id><published>2010-10-28T11:55:00.002+07:00</published><updated>2010-10-28T12:00:07.771+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>“Tadi ane mampir ke Anser (nama blog ini sebelumnya). Wah, udah jadi Rumput&lt;br /&gt;Tebing, ya?,” komentar salah satu teman blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merdu mana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan merdu, tapi seram.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wah seram ya?, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frase runput tebing saya temukan ketika saya membebek orangtua bepergian dua bulan yang silam. Ketika melewati jembatan yang melintang di atas sungai dan melihat ada rumput-rumput yang tumbuh di tebing pinggir kali itu. Maka sejak saat itu kepala saya selalu berceletuk “ Rumput tebing, rumput tebing, rumput tebing!”. Dari pada saya jadi rada gila menghadapi dua kata ini, mending saya jadikan frasa itu sebagai judul blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah tagline-nya pun saya ganti dari “memungut pijar di sudut bumi” menjadi seperti diatas itu. Karena nyatanya saya tidak memungut pijar. Yang sering saya pungut  malah sebuah remang-remang dan keluhan-keluhan nakal, kurang ajar, manja dan bukan hal yang luar biasa. Bagus saja nggak saya tempati levelnya. Kalau sepercik racau itu, kan bisa dipertanggungjawabkan. Hehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah nama Rumput Tebing yang ningkring!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari merumput…(kalau perlu) di tebing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-1136847983015124394?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1136847983015124394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/1136847983015124394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/tadi-ane-mampir-ke-anser-nama-blog-ini.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-8252294584126160670</id><published>2010-10-28T06:53:00.008+07:00</published><updated>2010-10-28T11:03:09.129+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tan, Aku Datang Kepada-mu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status terakhirku  di facebook, 24 oktober. Ketika aku merasa malu itu. Ketika aku merasa tak berdaya mengeja manifestasi peredaran suatu benda yang pada akhirnya kita kenal sebagai waktu itu. Ditambah seolah ada suara-suara dari sebrang sana. "Teriakkan" Ali Shariati yang termaktub dalam buku  Hajj halaman 23 alinea pertama  menelanjangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan zaman sekarang bukanlah kehidupan yang dijalani sebagaimana mestinya, tapi merupakan sebuah aksi siklis yang kosong, suatu gerakan tanpa tujuan. Aksi pendular yang tak bermakna ini dimulai dengan siang yang hanya untuk diakhiri dengan pagi. Zaman sekarang manusia terlena dengan permainan “tikus-tikus” hitam dan putih yang menggerogoti temali kehidupan sampai ajal tiba”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu kenapa nama Tan Malaka yang aku teriakkan? Tan adalah nama acak yang tiba-tiba muncul dari sekian  peribadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutawahid&lt;/span&gt; yang saya kagumi. Selain itu juga,  kenapa saya merasa hendak "mendatangi" dan ingin "menemui" Tan? Karena saya hendak mengkhatamkan Madilog yang sudah lama saya kantongi tetapi beluk selesai-selesai juga karena membacanya lewat komputer saja, tidak dalam bentuk print out (pelit banget ya, aku? hehe). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya menolak membeli di toko buku yang membandrol buku tersebut kurang dari duaratus ribu perak, juga menolak harga tujuh puluh ribu rupiah yang ditawarkan ketika ada bazar buku. Eh, malah dapet download gratis tapi sudah lupa tempat download itu di mana( sudah dapat gratis tapi tak tahu terima kasih neh orang!). Lagi pula Tan tentunya akan sangat bersukarela tulisannya dibaca banyak orang tanpa pernah dapat royalti. Tan sediri menulis buku (Madilog) tidak dalam rangka jualan. Tetapi hendak menyebarkan pemikiran serta menyadarkan semangat juang dan bangkit dari jiwa sakit dan penjajahan ( Dasar pledoi gratisanholik!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan adalah sosok yang “menolak” keberadaannya sendiri demi kelangsungan keberadaan itu sendiri. Hidup dalam penyamaran, pelarian, keterasingan dan sendirian. ( Nah, sampai di sini, kalau saya tidak salah, Shariati juga pernah menggumankan sebuah kalimat epik-romantik yang bunyinya kira-kira " manusia dilahirkan sendirian, (menjalani) hidup juga sendiri, dan mati pun sendirian.")  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku bukan orang sekaliber Tan (atau Shari'ati). Mendekati dan berada di posisi yang hampir sama pun tidak. Malahan aku merasa lancang karena meneriakkan nama dia tanpa banyak tahu pemikiran dan karya dia. Mungkin kalau aku mengaku bahwa aku mengidolakannya juga aku harus malu. Tidak tahu banyak tentang dia kok berani ngaku kalau dia aku idolakan. Mungkin Tan sendiri akan mesem-mesem kalau tahu aku kagum tetapi tak tahu apapun tentang dia. Kekaguman tanpa apresiasi bukankah akan jatuh pada pengidolaan yang berlebihan dan menghasilkan histeria kosong.  Tetapi aku tak pungkiri dan berani bilang kalau aku mengaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya dengan facebook?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali saya ingin berselancar dan bermain-main di dunia antah berantah ini, saya malah sering nyasar ke aplikasi bikinan Mark Zuckerberg ini. Tak sadar tercenung di sana berjam-jam. Walau saya tak upload gambar, kasih tautan, rajin berkomentar, dan betapa jarang menulis status. Tetap saja saya asik melihat status-status, catatan-catatan, foto-foto milik teman-teman facebook saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah dua hari silam saya putuskan menutup akun facebook saya. &lt;br /&gt;Dan sebagain dari teman-teman saya pun bertanya, kenapa harus tutup akun? Itu sama saja memutus komunikasi dengan teman-teman. Saya tak bermaksud begitu, jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui berat juga, apalagi bagi yang kadang mengira hilangnya satu nama dari daftar list adalah bentuk penghapusan daftar teman atau pemblokiran pengguna.&lt;br /&gt;Maafkan, karena aku bukan orang bijak yang bisa memanfaatkan sesuatu secara seimbang dan bukan pula penonton yang jeli. Aku hanya manusia yang belum bisa mengendalikan diri. &lt;br /&gt;Sekali lagi aku ucapkan selamat tinggal pada jejaring sosial itu.&lt;br /&gt;Entah untuk berapa lama lagi.&lt;br /&gt;Pada kalian yang pandai dan pintar membagi waktu dan memanfaatkankan facebook dengan baik, saya ucapkan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum bisa. Belum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-8252294584126160670?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8252294584126160670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/8252294584126160670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/tan-aku-datang-kepada-mu-status.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4849730563441479469</id><published>2010-10-27T03:30:00.003+07:00</published><updated>2010-10-29T06:44:35.666+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jalanan sudah lengang. Sorot lampu jalan masih nyalang. Kabut abu menyebar tebal. Status facebook teman-teman pun berseliweran membincangkan seputar letusan sebuah gunung. Aku dalam perjalanan pulang sehabis menjenguk famili yang terbaring di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika malam telah merayap ke pagi. Aku hendak nongkrongin desktop, urung. Kantuk membawaku pada pada alam mimpi. Hanya berselang dua jam tidurku, alarm sudah meraung-raung di sana- sini. Berat mata ku buka. Dingin melumur sekujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut kehilangan pagi seperti sebelumnya, maka aku paksa untuk merayap. Menghempaskan rasa kentuk dan meilih diam terjaga. Lalu menyalakan komputer dan menengok hape ( weleh! Kebiasaan jelek kok diumbar), membalas atau mengirim sandek ke kawan ( kami sengaja menamainya  sandek plasma, mengajak bangun atau begadang antar teman ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi suara tadarus di musholla terdekat tiba-tiba berhenti dan mengabarkan berita kematian.  &lt;br /&gt;Mati. Satu kata itu lagi, mati. Saru kata yang sudah tak membuat kita khidmat mendengarnya, kecuali jika itu terjadi secara massal atau pada orang tercinta kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis subuh, ketika hendak aku tuntaskan tongkronganku. Aku dicegat ibuku agar ikut melayat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagi itu, para pelayat dari sanak atau tetangga dekat sudah berkerumun dan berseliweran. Mereka tentu memilih waktu pagi dengan harapan aktifitas sehari-hari tetap berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sembab mata dan tangis sanak saudara yang ditinggal pergi, jabatan bela sungkawa serta pelukan simpati datang pada mereka. Dan pada saat keluar dari pintu rumah berduka itu, wajah yang tadi sayu dan begitu terharu kembali cengengesan dan bergosip ria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang salah dengan pemandangan itu. Tak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan kematian pun semakin akrab&lt;/span&gt;, kata sajak Subagio Sastrowardoyo.&lt;br /&gt;Memang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4849730563441479469?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4849730563441479469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4849730563441479469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/jalanan-sudah-lengang.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7029041844338910675</id><published>2010-10-26T08:46:00.000+07:00</published><updated>2010-10-26T08:49:14.664+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jika kita jadi pengganti satu sama lain, bersiap-siaplah untuk tereliminasi kapan saja ketika variable yang tepat kembali pada kita. Apakah kau siapa dengan melepas sesuatu yang telah lama kita tempa bersama. Dan mendapati bahwa substitusi itu ,  nilai pengganti itu lebih kita rasakan dibanding pengubah yang hampir eksak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau…sebetulnya kita lebih mirip pengubah dibandingkan dengan menjadi konstanta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cinta, mungkinkah kita juga layak bermain matematika dasar?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7029041844338910675?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7029041844338910675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7029041844338910675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/jika-kita-jadi-pengganti-satu-sama-lain.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4849464682276577082</id><published>2010-10-18T14:25:00.003+07:00</published><updated>2010-10-18T15:02:29.307+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kini, begitu terang aku malu. Malu sekali untuk membandingkan. Malu sekali untuk menanyakan siapa diriku. Malu sekali untuk mencoba mendongakan hati untuk sekedar tegak menapak waktu. Malu sekali untuk bersuara sekedar satu kata. Malu sekali untuk menatap mereka. Malu sekali untuk menulis sebuah kenangan. Malu sekali untuk sekedar menjawab es em es teman yang sekedar bertanya sedang apa. Malu sekali menatap facebook yang menantang pertanyaan "Apa yang sedang anda pikirkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malu sekali dengan segunung omong besarku. Malu sekali dengan kepongahanku. Malu sekali dengan kesoktahuan-ku. &lt;br /&gt;Mungkin hanya satu hal yang tak aku malukan, aku tak malu menulis malu-ku. Dan itu tidak bisa mengurangi derajat rasa malu yang sedang kuidap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah obat mujarab untuk mengurangi rasa malu yang menggodam hingga ulu, kini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4849464682276577082?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4849464682276577082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4849464682276577082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/kini-begitu-terang-aku-malu.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-3583553084314831860</id><published>2010-10-17T04:49:00.002+07:00</published><updated>2010-10-17T04:56:18.337+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bila aku rindu padamu, itu wajar. Tetapi bila aku datang ke tempatmu lalu yang aku dapatkan hanyalah serangkaian acara seremonial tentang pakaian, perhiasan dan makanan, sementara aku ingin tersangkut dalam ceruk kata dan terangkut dalam makna ziarah kota tua. Alangkah hampa! Betapapun aku mencoba untuk tidak menjadi bagaian rantaian itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-3583553084314831860?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3583553084314831860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/3583553084314831860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/bila-aku-rindu-padamu-itu-wajar.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-2878205676500140193</id><published>2010-10-16T05:47:00.001+07:00</published><updated>2010-10-25T08:40:09.193+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='racauan'/><title type='text'></title><content type='html'>Jika pasar itu irasional. Sementara cinta telah menemukan logika dan nalarnya sendiri. Bagaimana dengan bursa percintaan yang sudah menggejala bahkan sudah muncul cinta layaknya IM( instant message) dan  MI (mie instant)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saatnya cinta juga berlaku sama seperti pasar itu sendiri?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-2878205676500140193?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2878205676500140193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/2878205676500140193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/jika-pasar-itu-irasional.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-4967105478667008632</id><published>2010-10-11T05:20:00.001+07:00</published><updated>2010-10-28T07:59:09.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan ringan'/><title type='text'></title><content type='html'>Kematian Yang Keren!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbunuh dan mati muda. Itulah cara mati khas para pejuang yang selalu dikenang oleh para pemuja kepejuangan pada generasi berikut. Seolah, tanpa darah perlawanan kurang sah.&lt;br /&gt;Che Guevara lebih tenar disbanding Fidel Castro karena ia dieksekusi mati oleh rezim yang ditentangnya pada usia yang relative muda. JFK  tenar dan dipuja oleh generasi mudan karena selain (mungkin tampan) muda karena ia mati secara heroik. Ditembak.&lt;br /&gt;Dan tontonlah film Marcopolo, maka akan ada adegan Khubilai Khan ngotot ingin pergi ke medan laga  padahal ia sudah sangat renta. Namun ia merasa “ akan sangat malu jika mati bukan dalam pertempuran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Che pun memiliki celetuk romantik-heroik, “alangkah senangnya mati di pantai asing demi sebuah ide yang mulia”. Bagi pribadi2 penuh perjuangan, kematian dalam kesendirian atau mungkin terasing seperti yang  dipilih Soe Hok Gie, lebih baik dibanding menyerah kepada kemunafikan. &lt;br /&gt;Dan kita pun akan  tahu dan berdecak ketika menyaksikan  film Agora. Adalah Hypetia, wanita yang berprofesi sebagai guru dan menjadi korban persekongkolan antara agama pendatang, yakni pada masa agama nasrani berkembang di Mesir sana,  dan pemerintahan. Ia, guru sekaligus pecandu ilmu, rela mati dalam rajam. Tetapi mantan budaknya yang  muda dan jatuh hati, yang a memilih memeluk agama baru itu, membekap dan membunuhnya lebih dulu. Sebelum para perajam, yang merasa benar dengan keyakinan dan agamanya, melempari ia dengan batu. Adegan ini tak jauh beda dengan kematian Sokrates yang memilih meminum racun daripada berhenti menyebarkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja deret nama dari martir  ilmu pengetahuan, pembela hak asasi manusia, pejuang hak kaum marjinal yang rela mati dan menyerahkan nyawa demi perjuangan dan keyakinan mereka, masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin tak mampu meniru, tetapi apa salahnya kita mencoba meneladani setitik dari kolam keberanian mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-4967105478667008632?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4967105478667008632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/4967105478667008632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/kematian-yang-keren-terbunuh-dan-mati.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5140302742607254957.post-7839799542345932979</id><published>2010-10-09T04:17:00.004+07:00</published><updated>2010-10-29T09:33:39.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aku dan kawan'/><title type='text'></title><content type='html'>Romansa angkot dan bis kota adalah wajah dan suara sebagian bangsa kita. Agaknya tuan-tuan yang duduk di kursi dewan sudah layak meneliti dan mematai-matai suara dan wajah rakyat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;situ&lt;/span&gt;, di bus kota dan angkutan umum. Agar kebijakan dan langkah yang diambil memang kebijakan yang emansipasif  serta tidak menjadi bahan tertawaan dari anak es em a sampai rakyat jelata tak berpendidikan pun paham komedi dan hal-hal komikal berlangsung di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sana&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Daripada meneliti terlalu serius dengan objek dan sample yang telah dikondisikan dengan konklusi dan hasil yang sudah jadi lebih awal sebelum penelitian itu dilakukan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini saya peroleh dari dua teman saya saat  asik nguping di angkutan kota. Seorang bapak, menurut dua temanku, yang menurut pengakuan beliau sendiri tak memakai sepeda motor atau mobil jika bepergian karena memang tidak memiliki keduanya. Tetapi dia merasa bersyukur karena untuk makan sehari-hari dan membiayai anak-anak beliau bersekolah juga lebih dari cukup,  memilih menolak beras miskin (raskin) dan mengajukannya untuk tetangga lain yang kondisinya siapapun akan sepakat kalau tetangga itu layak untuk menerima jatah raskin lebih banyak dibanding yang lain. Yang sering membuat dia geram adalah tetangga yang lain yang bisa dibilang sudah menjadi saudagar dan memiliki mobil untuk kulak dan ngangkut dagangan. Masih mau dan menuntut juga kalau tidak dijatah raskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan bapak itu adalah kegundahan khas rakyat kebanyakan. Tetapi kegundahan bapak itu juga dibarengi dengan sebuah aksi. Memberikan  jatah raskinnya untuk tetangga yang lebih memerlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat  yang sesungguhnya keluar lebih mirip seperti igauan daripada pertanyaan. Tanya yang hanya membikin kita tersipu dan membuang pandang antar kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5140302742607254957-7839799542345932979?l=anisah-anser.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7839799542345932979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5140302742607254957/posts/default/7839799542345932979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anisah-anser.blogspot.com/2010/10/romansa-angkot-dan-bis-kota-adalah.html' title=''/><author><name>Ronay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13043655519219038842</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-7P_h0a_iFi0/TysmOUcyoxI/AAAAAAAAAS4/86aLdFnZMJE/s220/New%2BImageyyy.BMP'/></author></entry></feed>
