Senin, 15 Juni 2009

Jika eksistensi kita terintimidasi oleh ekspansi eksistensi orang lain karena keadaan sosial yang dikonstruksi atas nama kebersamaan yang ternyata hanya dikuasai oleh beberapa individu, maka tak ada salahnya kita mengeluarkan jurus self esteem. Karena, sebagai eksisten, kita tak ingin ditiadakan dalam rangka eksistensi yang imperialis.
Aku tak mau "bukan siapa-siapa"ku adalah eksistensimu!

Kamis, 11 Juni 2009

Antara Purwokerto dan Kediri dalam sebuah kereta, sebuah lagu "D Minor" mengalun dari seorang pengamen yang suaranya tak kalah merdu dari suara Ariel Peterpan.
Kemudian datang pengamen yang tak kalah atraktif. seorang.........."bencong". mataku yang tadinya ngantuk dan tubuhku yang tadinya terserang penatpun tiba2 ikut merasakan sensasi kehadiran sang "minor" tadi.
Hampir semua penumpang tergelak, ia menyanyi dan menggunakan kostum yang memang disengaja norak. Aku yakin dia cukup senang dengan respon penumapang. Terhibur sekaligus mengakui aktualisasi minornya.


Bagaimanapun disaat semua hal terdistingsi dalam oposisi binner, ia memilh beraktualisasi secara minor sesuai dengan "kodrat"nya. Dan

Kadangkala pengakuan lebih berharga dari sekedar pujian, sekalipun ia mengandung unsur hinaan, cacian, celaan.

aku jadi teringan Annelis-nya Pramudya Ananta Toer. Ia dengan segala kualitas yang mampu membikin berdecak kagum orang yang melihatnya, tak diakui "kewargaannya" di Bumu Manusia.

Kamis, 04 Juni 2009

Aku lihat wajah di cermin yang di dalamnya bersemayam usia yang tak anak-anak apalagi remaja. Aku lihat ada wajah ayah bunda yang kuwarisi dengan beberapa "interior" yang masih menyala. Apa mereka pasrah? Hingga harus menyambungkan degup hidup yang tak terengkuh 'penuh'?

Begitulah, Sang Waktu menunjukkan kehidupanNya.....

Arsip Blog

Cari Blog Ini