Pura-pura pun berlapis. Topeng-topeng pun ada yang tebal dan tipis. Make up kadang juga berarti ia ingin tampak dalam kepura-puraan yang kontras. Pura-pura tidak pura-pura dan pura-pura pura pura.
Mungkin di bangku itu, ya di bangku itu, pernah tergeletak dua sajak. Sajak yang hadir tiap ruang di kepala, ruang di batin, atau ruang yang meraja di setiap hidupnya. Ruang yang kadang benderang kadang pengap. Ruang di mana kesadarannya ia lucuti. ia tanggalkan. Sementara setengah mimpi silih berganti menemukan dan kehilangan diri-nya. Demikian.
Tampilkan postingan dengan label Ziarah Batin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ziarah Batin. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 November 2010
Sabtu, 24 Januari 2009
Jiwa Yang Merindu
Freud pun ketawa dalam kuburnya. Manusia makin suka menyanggah keberadaan naluri konstan yang cenderung menghasilkan laku ataupun sikap kurang ajar kita. Alih-alih mengakui adanya naluri itu untuk rujukan melangkah menuju ego kreatif kita membarui diri. Kebanyakan dari kita justeru mengendapkannya dalam pikiran yang kemudian dimunculkan dalam perilaku bawah sadar yang tak sehat.
Sehingga kau tak pernah merindukan jiwamu yang berlalu...
Sehingga kau tak pernah merindukan jiwamu yang berlalu...
Langganan:
Postingan (Atom)