Pada awalnya adalah kata, kata Al-kitab. Tetapi kaum materialis kemudian meralat: pada awalnya adalah tindakan, laku.
Lalu saya juga boleh dong main2 dengan klausa pada awalnya adalah…..
Guyon!
Suntuk juga. Saya online dan kebetulan teman yang kenal cukup baik sedang nangkring dan menyala juga yahoo id-nya.
T : Eh, gunung slamet katanya sekarang statusnya waspada ya?
Gue nyengir, ternyata neh, yang punya status tidak hany warga suatu Negara dan warga Negara dunia maya Negara facebook, tetapi juga gunung.
A : Ah, kata siapa ente jangan nakut-nakuti gue dong!
T : Gue gak nakutin, berita bilang begitu
Saya ketinggalan berita? Ya.
A : Tetapi kok tempat gue orangnya pada adem-adem aja. Kemaren malam hujan abu juga kami rasa itu bersal dari gunungnya mbah marijan itu. ( wah mbah marijan punya gunung), Cuma w takut kalau itu berasal dari gunung terdekat gue, dan gara-gara perhatian mereka terserap dengan letusan gunung tempo kemarin jadi gak peduli sama gunung yang deket.”
T : [ketawa]
A : Wah... jangan2 karena kita sedang pesta tarian alam bisa jadi ada politisi kelas cilok yang bilang jangan tingggal di dekat gunung kalau gak mau kena letusan atau semburan awan panas.
T : [ketawa]
A : Mungkin politisi atau menteri kelas kecoa akan bilang jangan hidup sekalian kalau pingin nggak mati.
T : [ketawa]
A : Sssttt! Itu mirip ajaran Zen. Menteri atau politisi atau anggota dewan itu pasti studi banding ke Jepang sekalian jenguk Miyabi dan berhasil.
T : [ketawa]
A : Weleh2, dari tadi ente nyengir doang!
B : [ketawa]
A : Gue lep aja, mau ketemu Mbah Mar….(pura2nya suaraku fading on)
Si temanku lagi-lagi masih mengirim balasan emoticon ketawa. Gila!
Tampilkan postingan dengan label aku dan kawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku dan kawan. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 November 2010
Sabtu, 09 Oktober 2010
Romansa angkot dan bis kota adalah wajah dan suara sebagian bangsa kita. Agaknya tuan-tuan yang duduk di kursi dewan sudah layak meneliti dan mematai-matai suara dan wajah rakyat di situ, di bus kota dan angkutan umum. Agar kebijakan dan langkah yang diambil memang kebijakan yang emansipasif serta tidak menjadi bahan tertawaan dari anak es em a sampai rakyat jelata tak berpendidikan pun paham komedi dan hal-hal komikal berlangsung di sana.
(Daripada meneliti terlalu serius dengan objek dan sample yang telah dikondisikan dengan konklusi dan hasil yang sudah jadi lebih awal sebelum penelitian itu dilakukan)
Cerita ini saya peroleh dari dua teman saya saat asik nguping di angkutan kota. Seorang bapak, menurut dua temanku, yang menurut pengakuan beliau sendiri tak memakai sepeda motor atau mobil jika bepergian karena memang tidak memiliki keduanya. Tetapi dia merasa bersyukur karena untuk makan sehari-hari dan membiayai anak-anak beliau bersekolah juga lebih dari cukup, memilih menolak beras miskin (raskin) dan mengajukannya untuk tetangga lain yang kondisinya siapapun akan sepakat kalau tetangga itu layak untuk menerima jatah raskin lebih banyak dibanding yang lain. Yang sering membuat dia geram adalah tetangga yang lain yang bisa dibilang sudah menjadi saudagar dan memiliki mobil untuk kulak dan ngangkut dagangan. Masih mau dan menuntut juga kalau tidak dijatah raskin.
Kegundahan bapak itu adalah kegundahan khas rakyat kebanyakan. Tetapi kegundahan bapak itu juga dibarengi dengan sebuah aksi. Memberikan jatah raskinnya untuk tetangga yang lebih memerlukan.
Bagaimana dengan kita?
Satu kalimat yang sesungguhnya keluar lebih mirip seperti igauan daripada pertanyaan. Tanya yang hanya membikin kita tersipu dan membuang pandang antar kita.
(Daripada meneliti terlalu serius dengan objek dan sample yang telah dikondisikan dengan konklusi dan hasil yang sudah jadi lebih awal sebelum penelitian itu dilakukan)
Cerita ini saya peroleh dari dua teman saya saat asik nguping di angkutan kota. Seorang bapak, menurut dua temanku, yang menurut pengakuan beliau sendiri tak memakai sepeda motor atau mobil jika bepergian karena memang tidak memiliki keduanya. Tetapi dia merasa bersyukur karena untuk makan sehari-hari dan membiayai anak-anak beliau bersekolah juga lebih dari cukup, memilih menolak beras miskin (raskin) dan mengajukannya untuk tetangga lain yang kondisinya siapapun akan sepakat kalau tetangga itu layak untuk menerima jatah raskin lebih banyak dibanding yang lain. Yang sering membuat dia geram adalah tetangga yang lain yang bisa dibilang sudah menjadi saudagar dan memiliki mobil untuk kulak dan ngangkut dagangan. Masih mau dan menuntut juga kalau tidak dijatah raskin.
Kegundahan bapak itu adalah kegundahan khas rakyat kebanyakan. Tetapi kegundahan bapak itu juga dibarengi dengan sebuah aksi. Memberikan jatah raskinnya untuk tetangga yang lebih memerlukan.
Bagaimana dengan kita?
Satu kalimat yang sesungguhnya keluar lebih mirip seperti igauan daripada pertanyaan. Tanya yang hanya membikin kita tersipu dan membuang pandang antar kita.
Sabtu, 17 Juli 2010
Nggak Ada Loe, Tetep Rame
Tidak tahu kenapa tiap orang yang merasa kenal dengan saya suka “menuduh” kalau saya ini makhluk tak pernah susah. Bawaannya gembira mulu. Sementara mereka yang belum kenal dan belum pernah bertegur sapa mendapatkan kesan kalau saya serius dan garang. Saya maklum, karena saya jarang duluan menyapa teman yang belum saya kenal. Sementara sesudah kenal saya malah seperti malah bisa ngoceh sana-sini tanpa berhenti.
Terkadang seorang kawan baru yang tidak tahan dengan saya akan sesegera mungkin meninggalkan saya. Sejujurnya sih kehilangan teman itu ya, sayang. Tetapi toh saya tak mau rebut-ribut mengundang mereka masuk dalam hidup saya buat apa saya cegah jika memang mereka tak mau berkawan lagi. Saya sering menghindari mengetuk pintu persahabatan lebih dulu. Tetapi saya punya hukum yang berlaku untuk saya sendiri, yakni haram hukumnya menampik ajakan persahabatan. Urusan mereka mau menyudahinya lebih awal alias tak mau bersahabat lagi, sama sekali tak saya masukkan dalam hitungan.
“Maaf, selama ini saya sudah mengganggumu, terima kasih atas waktunya.”
Kalimat putus asa seperti di atas, sering saya dapatkan. Biasanya karena kurang segera tanggap terhadap es em es, telepon atau mungkin yang lainnya yang kadang luput dari perhatian saya.
Saya tak pernah merengek atau mempertanyakan. Mau marah dan pergi dari hidup saya?
Oh, silahkan.
Tetapi tak jarang beberapa hari kemudian mereka “balik” dengan basa-basi yang diperbaharui. Tidak laki-laki tidak perempuan.
Pernah berpikir bahwa saya dimanfaatkan dan diperlukan kalau mereka perlu saja?
Pernah dong!
Bahkan ada teman yang terang-terangan bilang, “terima kasih, kamu selalu ada di saat aku membutuhkan.”
Sejujurnya saya tak tahu harus bangga, bersedih atau berterima kasih karena saya ada gunanya juga bagi mereka, walau cuma penghibur atau penggenap saja barangkali.
Dianggap jadi sahabat ketika memang diperlukan?
Bukankan saya juga mungkin bersikap sama, buat apa saya protes. Dan toh saya memiliki teman terbaik yang tidak memperlakukan saya dalam garis fungsionalisme saja.
Selalu ada yang bertanya.
“Lama banget tak kirim kabar, Bos. Sudah lama kita tak ber-es em es panjang lebar.”
Atau “Kenapa ente menghilang neh, udah tiga hari gak ada kabar?”
Atau, “Jangan kelamaan, dong semedinya, aku mau ngobrol banyak neh”.
Dan untuk kawan-kawan yang begitu baik dan mau bertahan bersahabat dengan saya, saya kirimkan terima kasih tak terkira.
Karena sudah tahu sifaf ndableg saya, kadang akhirnya cuma saling bertukar kabar.
“Selamat sore, dan selamat apa aja!’
Es esm es macam ginian pun sering saya tiru gayanya. Sebuah sapaan yang tidak menuntut sapaan balik.
Seorang kawan pernah main todong “Siapa sahabat baik kamu?”
Saya langsung saja main tunjuk juga ke nama seorang kawan. Dan teman saya, ketika tahu jawaban teman yang saya anggap terbaik mendapatkan jawaban bahwa saya bukan yang terbaik bagi dia. Dia bilang, kasihan!
Otak kamu kali yang harus dikasihani, pikir saya. Lha, wong saya nggak pernah mentargetkan kalau sahabat terbaik saya itu manganggap saya sebagai sahabat terbaik dia pula.
Kamu belum tentu jadi sahabat (baik) bagi seseorang yang kamu anggap sebagai sahabat (baik) kamu. Tidak harus berlaku hubungan relasi satu-satu dalam persahabatan.
Kita, tentu saja sudah belajar sederet konsepsi sahabat sejati, jatuh bangun mencari dan menemukan falsafah persahabatan dan mengumpatlaknat pada pahitnya pengkhiantan dan ketakpedulian. Sejalan dengan itu, kita juga belajar menikmati indah dan nikmatnya bersahabat dan saling sapa.
Kenapa kita sering menafikan yang kedua?
Jika anda meminum kopi yang pahit sekalipun, anda tak bisa mengingkari bahwa kopi itu nikmat karena anda adalah pecandu dan penikmat kopi.
Selamat Pagi!
Tidak tahu kenapa tiap orang yang merasa kenal dengan saya suka “menuduh” kalau saya ini makhluk tak pernah susah. Bawaannya gembira mulu. Sementara mereka yang belum kenal dan belum pernah bertegur sapa mendapatkan kesan kalau saya serius dan garang. Saya maklum, karena saya jarang duluan menyapa teman yang belum saya kenal. Sementara sesudah kenal saya malah seperti malah bisa ngoceh sana-sini tanpa berhenti.
Terkadang seorang kawan baru yang tidak tahan dengan saya akan sesegera mungkin meninggalkan saya. Sejujurnya sih kehilangan teman itu ya, sayang. Tetapi toh saya tak mau rebut-ribut mengundang mereka masuk dalam hidup saya buat apa saya cegah jika memang mereka tak mau berkawan lagi. Saya sering menghindari mengetuk pintu persahabatan lebih dulu. Tetapi saya punya hukum yang berlaku untuk saya sendiri, yakni haram hukumnya menampik ajakan persahabatan. Urusan mereka mau menyudahinya lebih awal alias tak mau bersahabat lagi, sama sekali tak saya masukkan dalam hitungan.
“Maaf, selama ini saya sudah mengganggumu, terima kasih atas waktunya.”
Kalimat putus asa seperti di atas, sering saya dapatkan. Biasanya karena kurang segera tanggap terhadap es em es, telepon atau mungkin yang lainnya yang kadang luput dari perhatian saya.
Saya tak pernah merengek atau mempertanyakan. Mau marah dan pergi dari hidup saya?
Oh, silahkan.
Tetapi tak jarang beberapa hari kemudian mereka “balik” dengan basa-basi yang diperbaharui. Tidak laki-laki tidak perempuan.
Pernah berpikir bahwa saya dimanfaatkan dan diperlukan kalau mereka perlu saja?
Pernah dong!
Bahkan ada teman yang terang-terangan bilang, “terima kasih, kamu selalu ada di saat aku membutuhkan.”
Sejujurnya saya tak tahu harus bangga, bersedih atau berterima kasih karena saya ada gunanya juga bagi mereka, walau cuma penghibur atau penggenap saja barangkali.
Dianggap jadi sahabat ketika memang diperlukan?
Bukankan saya juga mungkin bersikap sama, buat apa saya protes. Dan toh saya memiliki teman terbaik yang tidak memperlakukan saya dalam garis fungsionalisme saja.
Selalu ada yang bertanya.
“Lama banget tak kirim kabar, Bos. Sudah lama kita tak ber-es em es panjang lebar.”
Atau “Kenapa ente menghilang neh, udah tiga hari gak ada kabar?”
Atau, “Jangan kelamaan, dong semedinya, aku mau ngobrol banyak neh”.
Dan untuk kawan-kawan yang begitu baik dan mau bertahan bersahabat dengan saya, saya kirimkan terima kasih tak terkira.
Karena sudah tahu sifaf ndableg saya, kadang akhirnya cuma saling bertukar kabar.
“Selamat sore, dan selamat apa aja!’
Es esm es macam ginian pun sering saya tiru gayanya. Sebuah sapaan yang tidak menuntut sapaan balik.
Seorang kawan pernah main todong “Siapa sahabat baik kamu?”
Saya langsung saja main tunjuk juga ke nama seorang kawan. Dan teman saya, ketika tahu jawaban teman yang saya anggap terbaik mendapatkan jawaban bahwa saya bukan yang terbaik bagi dia. Dia bilang, kasihan!
Otak kamu kali yang harus dikasihani, pikir saya. Lha, wong saya nggak pernah mentargetkan kalau sahabat terbaik saya itu manganggap saya sebagai sahabat terbaik dia pula.
Kamu belum tentu jadi sahabat (baik) bagi seseorang yang kamu anggap sebagai sahabat (baik) kamu. Tidak harus berlaku hubungan relasi satu-satu dalam persahabatan.
Kita, tentu saja sudah belajar sederet konsepsi sahabat sejati, jatuh bangun mencari dan menemukan falsafah persahabatan dan mengumpatlaknat pada pahitnya pengkhiantan dan ketakpedulian. Sejalan dengan itu, kita juga belajar menikmati indah dan nikmatnya bersahabat dan saling sapa.
Kenapa kita sering menafikan yang kedua?
Jika anda meminum kopi yang pahit sekalipun, anda tak bisa mengingkari bahwa kopi itu nikmat karena anda adalah pecandu dan penikmat kopi.
Selamat Pagi!
Selasa, 08 Juni 2010
Kini aku tahu kenapa engkau dahulu tergila-gila dengan cerita Laila Majnun. Karena hatimu lebih dekat dengan cinta ketimbang prasangka. Juga mengapa kau begitu tersihir dengan kata-kata Gibran.
Tetapi kenapa kamu dengan mudah mempersilahkan, ambil saja bukuku itu. Padahal keping hidupmu ada di dalam situ?
Mungkin benakmu mengarak kata begini; ini bukan masaku untuk cinta-cintaan lagi.
Untuk temanku, R, yang menghibahkan buku Jiwa-Jiwa Pemberontak
Aku kini sudah baca Laila Majnun dengan lengkap.
Tetapi kenapa kamu dengan mudah mempersilahkan, ambil saja bukuku itu. Padahal keping hidupmu ada di dalam situ?
Mungkin benakmu mengarak kata begini; ini bukan masaku untuk cinta-cintaan lagi.
Untuk temanku, R, yang menghibahkan buku Jiwa-Jiwa Pemberontak
Aku kini sudah baca Laila Majnun dengan lengkap.
Langganan:
Postingan (Atom)