Suara-suara merdeka di kepala
Kau boleh berkata jika tuduhan itu tak berdasar. Kau boleh memulainya dari mana saja. Lihat, kau suka dengan peraturan permainanku bukan?
Peraturannya sendiri adalah tanpa peraturan. Sementara aku tahu benar bahwa wilayahmu makin protektoler.
Hmmm, dengar ya, salah satu film terakhir yang aku tonton adalah Inception. Ide penyusupan ide dan pemikiran itu sendiri berasal dari lawannya, pencurian. Asumsi tergampang adalah, jika kita bisa mencuri ide, gagasan atau pemikiran seseorang (dalam film inception pencurian dan penyususpan ide dilakukan lewat mimipi), maka kitapun bisa menyusupkan ide, gagasan, pemikiran kepada seseorang sehingga orang tersebut merasa bahwa ide yang disususpkan itu adalah hasil pemikirannya sendiri. tentu saja cara penyususpan ide itu tak mudah, selain subjek akan selalu menandai dan mencari (menemukan?) dari mana ide itu bermula atau berasal (mungkin pengecualian bagi mereka yang begitu mencintai ide itu sampai tak rela untu menyadari bahwa ide itu bukan murni miliknya) Untuk itulah kita harus menyiapaka serangkaian kemungkinan dari lapisan bawah sadar, proyeksi, kesadaran. Dan tak lupa di lapisan bawah sadar kadang menyembul ke alam kesadaran. Di bagian proyeksi kadang timbul proyeksi subjek lain yang kadang dengan disengaja atau tidak, disadari atau tidak muncul. Kita sering tergoda di sana. Masuk dalam sebuah labirin, dan untuk keluar dari dalamnya, untuk menguraikan jlan keluarnya tidak mudah, karena ada banyak kemungkinan terus jalan dan kemungkinan untuk salah jalan. karena antara godaan dan keinginan untuk kembali kepada realitas itu ada jalan lain yang disebut paradoks.
Apakah paradoks mengajari kita untuk kembali kepada realitas atau semakin memesrakan kita dengan mimpi kita?
Untuk menyelamatakan kita, keberadaan kita dalam dunia sadar, sementara mimpi kita teruskan, maka ada ruang pembuangan mimipi yang di sebut Limbo, di mana pemimpi terjerumus dalam kantung limbic dan tak bisa keluar dari dalamnya.
Kadang hidup teramat sulit untuk dipilah, apakah ini nyata atau tak. Dan kadng hidup juga tampak begitu sederhana dan mudah.
Ketika banyak hal tragis terjadi kita ingin bahwa kita salah mengenali realitas, tetapi saat semuanya begitu indah kita tak percaya bahwa itu nyata. Dan kalaupun itu hanya sebuah mimpi kita ingin itu nyata.
Maka…totem!
Tampilkan postingan dengan label racauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label racauan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Maret 2011
Lihat! Seseorang dengan mudah menghadapkan seluruh lorong-lorong rancangannya dan memaksa aku untuk melawatinya. Lihat, betapa aku membenci kesopanan yang memuakkan ini. Lihat, bagaimana aku tak bisa merindukan satu dusta saja. Karena kejujuranmu yang amat menjijikan itu mengelilingiku. Kau ingin melucutiku dengan moralitas busuk itu? Lakukan saja! Sekali jantung kehidupan menggelepar, aku berdaulat.
Lakukan permainan sopan santun yang terasa janggal dan kamu agungkan itu, ayo! Temukan aku dengan cara-cara palsu dan lemah lembut kebaanggaanmu itu! Tapi jangan potong jalanku hanya karena kau ingin tontonan tragis yang bisa menyangga dan menjulangkan kemegahan rasa saling pengertian yang dibuat-buat. Di sana kepentinganmu seolah lebur, dan kau mengutuk motifku hanya karena ia tak mampir dalam kesadara kolektif. Kemuliaan apa yang begitu bangga setelah membekap rasa yang sederhana atas pilihannya.
Sedangkan kau yang memiliki kunci sorga atas nama moralitas, menjadi pahlawan citra hanya karena kau berhasil menampilkan alasanku sebagai kebusukan dan perayaanmu terhadap ini semua demi kestabilan bersama.
Ku katakana padamu, kebersamaan yang tamak adalah kau mengumpulkan dan mendamaikan banyak orang dengan menghabiskan darah kehidupan satu makhluk lainnya dengan paksa.
Rayakan, kau mengangkat cawan dalam pesta moralis itu dan kau tundukkan kedirianku dalam sebuah asas palsu altruisme.
Sadarlah, bahwa kau menjadi pemenang hanya karena berenang di tepian di mana banyak manusia menyematkan kesan dan kerendahdirian yang telah disengat ketakutan!
Lakukan permainan sopan santun yang terasa janggal dan kamu agungkan itu, ayo! Temukan aku dengan cara-cara palsu dan lemah lembut kebaanggaanmu itu! Tapi jangan potong jalanku hanya karena kau ingin tontonan tragis yang bisa menyangga dan menjulangkan kemegahan rasa saling pengertian yang dibuat-buat. Di sana kepentinganmu seolah lebur, dan kau mengutuk motifku hanya karena ia tak mampir dalam kesadara kolektif. Kemuliaan apa yang begitu bangga setelah membekap rasa yang sederhana atas pilihannya.
Sedangkan kau yang memiliki kunci sorga atas nama moralitas, menjadi pahlawan citra hanya karena kau berhasil menampilkan alasanku sebagai kebusukan dan perayaanmu terhadap ini semua demi kestabilan bersama.
Ku katakana padamu, kebersamaan yang tamak adalah kau mengumpulkan dan mendamaikan banyak orang dengan menghabiskan darah kehidupan satu makhluk lainnya dengan paksa.
Rayakan, kau mengangkat cawan dalam pesta moralis itu dan kau tundukkan kedirianku dalam sebuah asas palsu altruisme.
Sadarlah, bahwa kau menjadi pemenang hanya karena berenang di tepian di mana banyak manusia menyematkan kesan dan kerendahdirian yang telah disengat ketakutan!
Senin, 28 Februari 2011
Aku senang karena matahari tak muncul juga. Tetapi sang hati tiba2 bertanya tentang engkau yang entah di mana, dalam kesendirian tentunya. Karena dalam kesendirian itulah aku mencinta.
Apakah aku harus merasa bahwa engkau adalah bagian dari hidupku yang terjeda?
Rasanya tanya itu lebih mendebarkan daripada jawaban. Di situlah antara harapan dan ketakutan bersirobok dan saling bergandengtangan.
Ketika musik di kumandangkan, aku rasa aku harus berterimakasih atas gugusan nada yang meruahkan emosi..entah. Dan segala penat hidup yang terus memagut, enyah dalam pesta rahsa.
Pusiku berhutang pada bilangan fibbinocci
Tarian kosmik dan mungkin saja simponi angka
Tetapi dari datum yang terdinding dalam
Ruang pengesahan jiwa
Kecil dan bersahaja
Namun bertebaran dalam kerlip nakal
Kata-kata kutata dengan irama tubula
Ia merengsak dan bersenyawa dengan materi semesta
Tanda dan pabrik baja (hay!)
Melepuh menyublimkan makna
Bergemuruh mendengkurkan gempita
Galau yang mengakar
Risau membelukar
Adakah pesona yang lebih melangit
Dibanding bergandeng tangan dalam
Pencarian kebenaran
Sekedar cercah indah
Mempesonakan kita
Yang rela ditukar ajal
2009-2011
(ketika belajar dengan laron yang mabuk cahaya lampu neon, dan ketika mendung pagi tak kunjung pergi)
Apakah aku harus merasa bahwa engkau adalah bagian dari hidupku yang terjeda?
Rasanya tanya itu lebih mendebarkan daripada jawaban. Di situlah antara harapan dan ketakutan bersirobok dan saling bergandengtangan.
Ketika musik di kumandangkan, aku rasa aku harus berterimakasih atas gugusan nada yang meruahkan emosi..entah. Dan segala penat hidup yang terus memagut, enyah dalam pesta rahsa.
Pusiku berhutang pada bilangan fibbinocci
Tarian kosmik dan mungkin saja simponi angka
Tetapi dari datum yang terdinding dalam
Ruang pengesahan jiwa
Kecil dan bersahaja
Namun bertebaran dalam kerlip nakal
Kata-kata kutata dengan irama tubula
Ia merengsak dan bersenyawa dengan materi semesta
Tanda dan pabrik baja (hay!)
Melepuh menyublimkan makna
Bergemuruh mendengkurkan gempita
Galau yang mengakar
Risau membelukar
Adakah pesona yang lebih melangit
Dibanding bergandeng tangan dalam
Pencarian kebenaran
Sekedar cercah indah
Mempesonakan kita
Yang rela ditukar ajal
2009-2011
(ketika belajar dengan laron yang mabuk cahaya lampu neon, dan ketika mendung pagi tak kunjung pergi)
Minggu, 06 Februari 2011
Coretan
Tiap saya membaca kembali coretan yang lalu atau yang belum selesai, saya sering kesal dan tak berselera untuk meneruskan ataupun menyelesaikannya. Perasaan yang sama terjadi juga ketika membaca kembali postingan-postingan di blog ini. Sewaktu saya menulis, bertaburlah rasa disetiap rayapan pena. Namun saat membaca kembali sering yang terjadi adalah saya merasa hambar terhadap apa yang sudah saya tuliskan. Kok jelek begini…
Anda sendiri tentu bisa mengira-kira. Mana dari sekian postingan saya yang pretensius dan mana dari posting saya yang berlatar tulus ( kalau memang ada).
Entah tulus atau bulus, seperti itulah adanya. Walau saat saya sadari bahwa lebih banyak coretan bernuansa pertama daripada yang kedua. Celakanya menyadarinya selalu belakangan. Tetapi memang sebaiknya saya "bunuh" uneg-uneg itu.. .Setelah menulis? Plong! Saya tak terbebani perasaan harus dibagaimanakan lagi itu kata-kata yang berserak dalam komputer atau tulisan tangan di kertas-kertas. Pilah memilah penempatan yang kadang bikin saya malas!
Jika saya sedang sadar sesadar sadarnya (kalaupun ternyata bukan kesadaran anggap saja kesadaran, kalau memang "itu" kesadaran, kesadaran dalam kesadaran dan kesadaran penuh?), saya sering jatuh ke comberan self-confirming yang ujung-ujungnya narsis dan ekshibis!
Hapus saja! Ah, jangan! Dua suara saling berlawan.
Untung saja ada semacam , hehe pinjam judul novelnya Kuntowijoyo, suatu mantera penjinak obesitas (baca: kemuakan) diri , bahwa antagonisme dan negatifitas yang ada dalam diri kita tak bisa kita pungkiri adanya. Kita nggak mungkin selalu menerima sisi baik( sekali lagi kalau memang ada) diri kita (baca: saya) saja.
Salam coretan!
Anda sendiri tentu bisa mengira-kira. Mana dari sekian postingan saya yang pretensius dan mana dari posting saya yang berlatar tulus ( kalau memang ada).
Entah tulus atau bulus, seperti itulah adanya. Walau saat saya sadari bahwa lebih banyak coretan bernuansa pertama daripada yang kedua. Celakanya menyadarinya selalu belakangan. Tetapi memang sebaiknya saya "bunuh" uneg-uneg itu.. .Setelah menulis? Plong! Saya tak terbebani perasaan harus dibagaimanakan lagi itu kata-kata yang berserak dalam komputer atau tulisan tangan di kertas-kertas. Pilah memilah penempatan yang kadang bikin saya malas!
Jika saya sedang sadar sesadar sadarnya (kalaupun ternyata bukan kesadaran anggap saja kesadaran, kalau memang "itu" kesadaran, kesadaran dalam kesadaran dan kesadaran penuh?), saya sering jatuh ke comberan self-confirming yang ujung-ujungnya narsis dan ekshibis!
Hapus saja! Ah, jangan! Dua suara saling berlawan.
Untung saja ada semacam , hehe pinjam judul novelnya Kuntowijoyo, suatu mantera penjinak obesitas (baca: kemuakan) diri , bahwa antagonisme dan negatifitas yang ada dalam diri kita tak bisa kita pungkiri adanya. Kita nggak mungkin selalu menerima sisi baik( sekali lagi kalau memang ada) diri kita (baca: saya) saja.
Salam coretan!
Sabtu, 16 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)