Dibandingkan hutangmu terhadapku, hutangku terhadapmu lebih banyak, kawan. Dan sekalipun persahabatan itu sendiri bukanlah sebuah transaksi ekonomi, tetap saya aku lebih merasa beruntung mengenal dan menjalin persahabatan dengamu. Kau, tahu, karena selama ini kita, aku lebih banyaknya, tak hanya membagi tawa, kadang hanya suka, keluh, kesah, ratap, igau dan masih bahkan hanya arena berekspresi minimalis. Tetapi begitulah, kesepian dari perjalanan eksistensi manusia menuju dan mewujudkan diri, kau dalam jeda-jeda yang teramat menyengat. Sekalipun datar dan bosan tak bisa dinafikan hadir dalam jalinan antar kita.
Bisa saja aku memberimu ucapan selamat padamu, tetapi aku memilih untuk tak lagi memiliki.
Ketimbang mendengar, aku lebih banyak ngomong. Sementara, kau tak pernah muak dan bosan menampung sampah yang meruah dariku. Dan itu jarang kudapatkan dari hubungan social yang seringnya tak dapat aku hindari. Tetapi kau, dengan tegas dan kerendahhatian selalu berucap; aku tak paham dengan benar engkau, hanya itu yang aku pahami. Lebih berutang lagi, bahkan, aku tak pernah mencoba memahamimu. Galibnya, kau malah merasa aku telah paham semua tentangmu sementara.
Aku menyadari akan tiba suatu saat ketika masing-masing dari kita mulai mematok pagar rumah dan berharap halamannya tumbuh rumput dengan tawa generasi kemudian. Makhluk masa depan yang akan meneruskan dan menyertai kehidupan yang harus terus berjalan. Kau lebih dini menyadari itu, dan aku masih berharap suatau ketika di mana titik cakrawala akan kulintasi sebelumnya dan berlalu setelah itu.
Sementara ketika kita semakain melangkah, titik itu kembali menjauh. Perjalanan tetap terus harus ditempuh.
Dalam persimpangan, masing-masing dari kitapun bersua dengan makhluk-makhluk musiman yang berkedok persahabatan dan menertawakan keterperdayaan kita, di jeda-jedanya. Menuang anggur-anggur kenikmatan yang memperdaya kita dengan kemerasaberjalinan. Tetapi tentu saja itu hanya berumur sesaat, ketika taring dan tanduk kepentingan menyeruak tak tahan. Dan kuharap, aku bukan salah satu dari mereka. Tentunya, kau pengecualian juga.
Dengan sandungan itu, sedikitnya kita mengerti, bahwa kita tak pernah saling mengumpat dan berharap doa dan mendoakan. Di hening saat orang lain tak peduli, di ramai saat orang lain sibuk sendiri, kita masih saling bisa bertukar frasa yang paling datar sekalipun. masih punya muka berhadap-hadapan tanpa suara sekalipun. muatan itu hanya terisi oleh kedataran yang lama menggenang. bukan sirkuit yang menyakitkan dan hanya berumur sekelumit.
Dan seperti biasanya, aku memilih tak memberitahumu mengenai kata-kata ini, sebab aku tak mau perasaan yang sesungguhnya membahagiakan dirayakan dalam himpunan kata-kata yang malah mengubur rasa itu sendiri.
Tampilkan postingan dengan label selembar ingatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selembar ingatan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Oktober 2011
Itulah bedanya aku dan kamu, kawan. Ada berlembar-lembar kertas dan tulisan yang sengaja aku alamatkan padamu namun tak kunjung aku kirimkan, hanya hendak bertanya, karena terdorong penasaranku yang terlalu : apa yang kini mengisi hari-hari dan pikiranmu?
Aku bertanya bukan lantaran aku khawatir atau cemburu sebab kau selalu jatuh cinta dan rindu. Namun aku hanya takut bahwa kau beranjak dan memilih dewasa lalu mencampakkan sebuah kebenaran yang pernah kita baca. Sebab itu artinya sama saja kau telah berselingkuh dalam persahabatan kita. Kalaupun kebenaran itu telah menjadi kejahatan atau sesuatu beban, setidaknya aku melihat dengan penglihatan yang hampa dusta.
Atau...kau, mungkin bahkan tak memiliki satupun tanya karena ada sesuatu yang memenuhi pikiranmu entah itu kau sendiri yang gila kerja atau kesibukanmu mencatat alamat setiap kata yang berbenak atau kata asing yang tiba-tiba menyeruak. Tetapi sejujurnya yang paling aku khawatirkan adalah engkau begitu bersorak dalam kanak abadi atau dalam kegilaan yang selalu ku-iri-i.
Pada mereka yang menolak dewasa dan pada mereka yang berbesar hati mampu berputus dengan "kenapa", cemburu dan penasranku tak pernah terburu-buru.
Aku bertanya bukan lantaran aku khawatir atau cemburu sebab kau selalu jatuh cinta dan rindu. Namun aku hanya takut bahwa kau beranjak dan memilih dewasa lalu mencampakkan sebuah kebenaran yang pernah kita baca. Sebab itu artinya sama saja kau telah berselingkuh dalam persahabatan kita. Kalaupun kebenaran itu telah menjadi kejahatan atau sesuatu beban, setidaknya aku melihat dengan penglihatan yang hampa dusta.
Atau...kau, mungkin bahkan tak memiliki satupun tanya karena ada sesuatu yang memenuhi pikiranmu entah itu kau sendiri yang gila kerja atau kesibukanmu mencatat alamat setiap kata yang berbenak atau kata asing yang tiba-tiba menyeruak. Tetapi sejujurnya yang paling aku khawatirkan adalah engkau begitu bersorak dalam kanak abadi atau dalam kegilaan yang selalu ku-iri-i.
Pada mereka yang menolak dewasa dan pada mereka yang berbesar hati mampu berputus dengan "kenapa", cemburu dan penasranku tak pernah terburu-buru.
Minggu, 24 April 2011
Reuni itu…tidak harus berarti engkau bertemu atau berkumpul kembali dengan teman masa lalu yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, reuni juga berarti( juga terjadi) saat engkau mengunjungi seseorang yang pernah mengasuhmu waktu kamu masih balita, bercakap dengannya dan mengumandangkan dalam benak sebuah kalimat yang tercekat “ masihkah kau ingat ketika mengacak dan menata rambutku dahulu?”.
Selasa, 01 Maret 2011
Kau pikir ia Yusuf, Jul?
Yang mengajari kita mabuk cinta dan mengadakan jamuan apel dan darah merah dari jari-jari wanita-wanita penggosip yang teiris tanpa sakit karena raut wajah seorang yang apakah dia bocah yang baru mimpi basah atau memang akalnya sudah terasah. Dewasa.
Yusuf dewasa, itulah mengapa sang nyonya dari tuan si bocah memintanya bercumbu dan bercinta.
Kenapa setan di dadaku tak kunjung berlalu, aku gerah menahan keresahan yang jahanam ini?!
Jangan kambinghitamkan setan! Bukankah dia tak bisa kita tuntut pertanggungjawabannya karena kita yang akan menanggung pikiran dan tindakkan kita sendiri?
Tapi bukankah dia sudah meminta restu Tuhan untuk menggoda manusia?
Bukan restu yang diminta, hanya pernyataan.
Dalam konsepsi Tuhan-manusia sebagai relasi bapak-anak, maka setan adalah anak nakal, dan manusia adalah anak yang "diharapkan" patuh pada Bapaknya. Makanya biarpun ia membolehkan setan menggoda manusia, toh ia bekali kita dengan bermacam2 jurus dan mantera. Nah, kamu tak rajin berlatih jurus2 itu. Salah loe!
Yang mengajari kita mabuk cinta dan mengadakan jamuan apel dan darah merah dari jari-jari wanita-wanita penggosip yang teiris tanpa sakit karena raut wajah seorang yang apakah dia bocah yang baru mimpi basah atau memang akalnya sudah terasah. Dewasa.
Yusuf dewasa, itulah mengapa sang nyonya dari tuan si bocah memintanya bercumbu dan bercinta.
Kenapa setan di dadaku tak kunjung berlalu, aku gerah menahan keresahan yang jahanam ini?!
Jangan kambinghitamkan setan! Bukankah dia tak bisa kita tuntut pertanggungjawabannya karena kita yang akan menanggung pikiran dan tindakkan kita sendiri?
Tapi bukankah dia sudah meminta restu Tuhan untuk menggoda manusia?
Bukan restu yang diminta, hanya pernyataan.
Dalam konsepsi Tuhan-manusia sebagai relasi bapak-anak, maka setan adalah anak nakal, dan manusia adalah anak yang "diharapkan" patuh pada Bapaknya. Makanya biarpun ia membolehkan setan menggoda manusia, toh ia bekali kita dengan bermacam2 jurus dan mantera. Nah, kamu tak rajin berlatih jurus2 itu. Salah loe!
Langganan:
Postingan (Atom)