Setelah petir menggelegar tanpa ada gerimis, tiba-tiba hujan menghujam bumi. seperti biasa, pengembaraan malamku tersendat. Bayang-bayang akan lampu malam yang mengunduh hasrat jaga sirna. Dan akupun kembali masuk pada labirin sunyiku, tempat aku bercakap-cakap dengan diriku. mengurai tanya, tercengang entah karena apa. Hujan menggiringku pada senandung kanak-kanakku yang tak pernah mati. Sekaligus jelas ia mempertegas aku berada pada masa kini. aku teringat pertanyaan kawanku; "Apa yang kau pikirkan jika kau berada pada suatu malam yang gulita di tengah-tengah samudera dan gunung-gunung yang menjulang tinggi dan kau sendirian, merasa kecilkah?"
Sebelum aku menjawabnya aku mencium aroma jebakan disana. "....merasa kecilkah?". oke, kawanku telah menggiringku pada sudut pandang "merasa kecil". dan aku memang mengamininya karena akupun menjawab " jiwa-jiwa yang mampu terdampar pada keheningan adalah jiwa yang ingin bercermin, berakrab ria dengan dirinya, menenali diri, bertemu dengan sang "liyan". sepi, terasing, dan meresa kecil." karena aku tak mau terjebak oleh ranjau question tag si kawan maka aku melanjutkan "tetapi bukan pada jawaban itu jiwaku tercermin"{sumpah! Ini cuma caraku menghindari ranjau yang ia pasang, karena aku tak tahu mau kemana arah aku dibawa debat kusir}.
Dan benar ia menjawab " Mengapa manusia selalu merasa kecil di tengah-tengah semesta, sedangka manusia di bekali dengan akal?"
Apa gue bilang, untung gue njawab " tapi bukan pada jawaban itu jiwaku tercermian". Lolos gue dari jebakannya. Tapi berikutnya aku gak mau kalah dong, mendebat dia dengan dalih " merasa kecil bukan dalam rangka menafikan anugerah berupa akal itu, kawan!". Merasa kecil diantara hamparan ciptaanNya adalah etika "merasa" itu sendiri. dan "etika merasa" itu bagian dari syukur akan keberadaan akal, bukan dijadikan karakter kerja akal!
Wah, sampai disini dulu ah!
Selasa, 26 Mei 2009
Jumat, 22 Mei 2009
21 Mei 2009
selamat menemukan kembali darah mudamu.....semoga rasa itu tak lekang waktu...y, hidup hanya sementara. apa yang kita cari selain jawaban mengapa yang bertubi? romantisme kadang membutuhkan rasa sakit yang bermuara pada pesona mesra akan kenangan. sang pengembara nasib tak pernah mengenal final sebelum ajal...
Rabu, 20 Mei 2009
sejenak bercuap
Ada banyak hal yang ingin saya samopaikan.Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana. Dengan siapa saya ingin bicara, entahlah saya tidak yakin ada yang mau memperhatikan. Tetapi lagi-lagi saya ingin tak peduli.mustahil memang! faktanya, kita hidup adalah dalam rangka mengada, walau entah siapa yang akan menandai keberadaan kita . L'homme incognito, masih omong kosong bagi saya.
sejenak bercuap
Narasi menghasilkan imaji, imaji menghasilkan ilusi, ilusi menghasilkan mimpi, mimpi mendamparkan kita pada tepi paling sunyi. Para nabi saja merasa kesepian, mengapa kita takut meresapi keterasingan? Aliansi bukanlah penyakit. Ia tak bijak untuk dihindari, tapi ia butuh untuk dikelola. Bukankah Tuhan Maha Sendiri?
Apakah yang kita cari?
Apakah yang kita cari?
Sabtu, 16 Mei 2009
Suwung
Apa yang bisa kau pikirkan tentang takdirmu saat kau sedang memikirkan dirimu sendiri, saat ini?!
Apa yang kau pikirkan ketika kau berfikir bahwa orang lain memikirkanmu dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara pikirmu akan dirimu?
Kita, memikirkan diri.
Kita merasa sepi
Apa yang kau pikirkan ketika kau berfikir bahwa orang lain memikirkanmu dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara pikirmu akan dirimu?
Kita, memikirkan diri.
Kita merasa sepi
Kamis, 07 Mei 2009
Puisi-puisi Lamaku
Mencari Rumah di Negeri Orang
setelah berlipat nasib diselimuti mimpi
aku cari wajah yang potretnya telah lama semayam di hati
sambil kubawa surat cinta yang mendekatkan jemari kita
menghitung satu demi satu bencana penuh tawa
sambil pula kutimang rasa yang kau tawarkan
silam
tentang negeri yang kau temui tiap pagi
sehabis bermimpi sorga yang di dalamnya mengalir sungai dari arak, wine, dan cocacola
aku tak hendak tolak
karena kumau mencari rumah di negeri orang
Maaf Dari Derita
aku cinta kau dengan wajah dosa dan luka
aku miliki kau dengan kemarahan
sebab kaidah yang kujerta
aku tak relakan kau teguk derita dari muka lancang yang mencuri rona kita
aku bertahan denganmu walau dalam derita maha
setelah berlipat nasib diselimuti mimpi
aku cari wajah yang potretnya telah lama semayam di hati
sambil kubawa surat cinta yang mendekatkan jemari kita
menghitung satu demi satu bencana penuh tawa
sambil pula kutimang rasa yang kau tawarkan
silam
tentang negeri yang kau temui tiap pagi
sehabis bermimpi sorga yang di dalamnya mengalir sungai dari arak, wine, dan cocacola
aku tak hendak tolak
karena kumau mencari rumah di negeri orang
Maaf Dari Derita
aku cinta kau dengan wajah dosa dan luka
aku miliki kau dengan kemarahan
sebab kaidah yang kujerta
aku tak relakan kau teguk derita dari muka lancang yang mencuri rona kita
aku bertahan denganmu walau dalam derita maha
Puisi-puisi Lamaku
Rindukan Sahabat
setelah nafas terengah-engah
kita saling tatap dengan kerinduan meluap
lalu mengalihkan pada gunung-gunung dan samudera berombak derap
satu-satu huruf-huruf yang menandai satu nama
menggoda kita dengan perasaan nikmat
aku takut cinta kita jatuh pada saling mendekap
padahal mencari cinta di semesta selalu hadirkan ridho sua dan pisah
seperti dalam mimpi kita
takjub pada satu nama yang diukir
dan menggantungkan hasrat lekat
hidup kita menggejala bianglala
ketika ucapan mesra saling menyapa
jiwa kita gersang saat tak satupun suara bergema
atau lukisan langit tak terindera dalam kebersamaan kita
setelah nafas terengah-engah
kita saling tatap dengan kerinduan meluap
lalu mengalihkan pada gunung-gunung dan samudera berombak derap
satu-satu huruf-huruf yang menandai satu nama
menggoda kita dengan perasaan nikmat
aku takut cinta kita jatuh pada saling mendekap
padahal mencari cinta di semesta selalu hadirkan ridho sua dan pisah
seperti dalam mimpi kita
takjub pada satu nama yang diukir
dan menggantungkan hasrat lekat
hidup kita menggejala bianglala
ketika ucapan mesra saling menyapa
jiwa kita gersang saat tak satupun suara bergema
atau lukisan langit tak terindera dalam kebersamaan kita
Gelak
Jiwa yang bangkrut selalu ingin dipuji dan diperhatikan
Jiwa yang kaya mampu berlapang dada menerima siapa dirinya dan mampu menempatkan diri saat orang lain menganggap dia tak ada ataupu bukan siapa-siapa
Jiwa yang kaya mampu berlapang dada menerima siapa dirinya dan mampu menempatkan diri saat orang lain menganggap dia tak ada ataupu bukan siapa-siapa
Sudah kukatakan, kekuatan untuk menangkis diri dari kedengkian adalah menerima keberadaan kita apa adanya.
Tetapi sepertinya konsep ini terlalu jauh dengan fakta.
akun kadang terhanyut dalam perasaan yang nyaman terhadap seseorang, sampai lupa bahwa tak ada yang stabil dalam kondisi mental. dan lupa bahwa seseorang yang kita rasai nyaman telah tak nyaman dengan keberadaan dan perasaan kita. ada start, ada puncak dan ada anti klimaks,,,,
tak ada yang pantas kita lebihkan , karena kita memang tak punya sesuatu untuk dilebihkan selain kekurangan kita.
Tetapi sepertinya konsep ini terlalu jauh dengan fakta.
akun kadang terhanyut dalam perasaan yang nyaman terhadap seseorang, sampai lupa bahwa tak ada yang stabil dalam kondisi mental. dan lupa bahwa seseorang yang kita rasai nyaman telah tak nyaman dengan keberadaan dan perasaan kita. ada start, ada puncak dan ada anti klimaks,,,,
tak ada yang pantas kita lebihkan , karena kita memang tak punya sesuatu untuk dilebihkan selain kekurangan kita.
Donna Donna
Donna Donna
oleh: Joan Baez
On a wagon bound for market
There's a calf with a mournful eye
High above him there's a swallow
Winging swiftly through the sky
How the winds are laughing
They laugh with all the their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
'Stop complaining', said the farmer
Who told you a calf to be
Why don't you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day trough
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Calves are easily bound and sloughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Lirik lagu Joan Baez yang pernah dinyanyikan Julian Moore dan Sita ex RSD,
pernah juga jadi 'oase' malam waktu aku dan teman2 menjalankan Kuliah Kerja Nyata 2 tahun silam. Di sebuah desa berpenghuni perawan 'bisu' yang tak pernah mengenal takdirnya. Dan kami b'baur dengan wanita2 setengah baya yang harus kami 'kejar' tiap waktu luang mereka untuk sudi mengenal aksara sehingga aksara2 itu bisa 'berbunyi'.
Jika kegiatan kami dalam menjalankan KKN diibaratkan sebuah film (bayangkan tiap hari kami harus b'kemas kasih pelatihan privat door to door ke ibu2 rumah tangga cum buruh tani, kalau ada yang sedang masak kami tinggal dulu dan memburu yang lain yang sedang senggang waktunya. Atau bagi ibu2 yang repot dengan anak2 kecilnya, t'paksa harus kami 'emong' anaknya untuk mendapatkan 'waktu' ibunya. Sementara maghrib baru kami kembali ke POSKO dengan lapar tak terelakkan, walau kadang2 kami juga ditawari makan oleh ibu2 Warga Belajar.)
lagu ini adalah soundtracknya. Hehehe, histeria di blog sendiri, bolehkan?
oleh: Joan Baez
On a wagon bound for market
There's a calf with a mournful eye
High above him there's a swallow
Winging swiftly through the sky
How the winds are laughing
They laugh with all the their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
'Stop complaining', said the farmer
Who told you a calf to be
Why don't you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day trough
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Calves are easily bound and sloughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Lirik lagu Joan Baez yang pernah dinyanyikan Julian Moore dan Sita ex RSD,
pernah juga jadi 'oase' malam waktu aku dan teman2 menjalankan Kuliah Kerja Nyata 2 tahun silam. Di sebuah desa berpenghuni perawan 'bisu' yang tak pernah mengenal takdirnya. Dan kami b'baur dengan wanita2 setengah baya yang harus kami 'kejar' tiap waktu luang mereka untuk sudi mengenal aksara sehingga aksara2 itu bisa 'berbunyi'.
Jika kegiatan kami dalam menjalankan KKN diibaratkan sebuah film (bayangkan tiap hari kami harus b'kemas kasih pelatihan privat door to door ke ibu2 rumah tangga cum buruh tani, kalau ada yang sedang masak kami tinggal dulu dan memburu yang lain yang sedang senggang waktunya. Atau bagi ibu2 yang repot dengan anak2 kecilnya, t'paksa harus kami 'emong' anaknya untuk mendapatkan 'waktu' ibunya. Sementara maghrib baru kami kembali ke POSKO dengan lapar tak terelakkan, walau kadang2 kami juga ditawari makan oleh ibu2 Warga Belajar.)
lagu ini adalah soundtracknya. Hehehe, histeria di blog sendiri, bolehkan?
Rabu, 06 Mei 2009
Tak Lagi Pagi
Aku terbangun pukul 03.00. Kalau tidak malas, aku mengerjakan beberapa raka'at sholat sunnat. Tapi kali ini yang langsung kukerjakan meraih hp, mengecek sms atau email. Lalu membalasnya. Dengan sikap malas aku melirik buku catatan dan nampaknya aku tak hendak menuliskan apa-apa. Aku termenung memikirkan apa yang akan kukerjakan hari ini, aku mencari-cari. Siapa tahu ada ide menyembul dari pikiran yang bisa membangkitkan hasrat mengerjakan sesuatu, apa saja.
Aku Tak Menemukannya
Aku merasa kesal, karena ketika kamu kehilangan pegangan untuk mengisi harimu dan kamu tak mampu menemukannya, menyakitkan bukan?
Aku tak tahu harus mengerjakan apa hari ini. Di luar rutinitas tentu saja!
Aku memilih membuka buku, mencoba membacanya dengan malas.
Adzan Berkumandang
Saat aku mulai masyghul menekuri kata demi kata, adzan berkumandang. Rutinitas menunggu. Waktu untuk diri semakin pendek saja. Aku merasa terjaga pukul 03.00 tak bisa disebut dini lagi.
Aku Tak Menemukannya
Aku merasa kesal, karena ketika kamu kehilangan pegangan untuk mengisi harimu dan kamu tak mampu menemukannya, menyakitkan bukan?
Aku tak tahu harus mengerjakan apa hari ini. Di luar rutinitas tentu saja!
Aku memilih membuka buku, mencoba membacanya dengan malas.
Adzan Berkumandang
Saat aku mulai masyghul menekuri kata demi kata, adzan berkumandang. Rutinitas menunggu. Waktu untuk diri semakin pendek saja. Aku merasa terjaga pukul 03.00 tak bisa disebut dini lagi.
Selasa, 05 Mei 2009
Ammo Ergo Sum
Salah satu alasan mengapa manusia 'mengada' adalah karena ia ingin dikenal, dan bagaimana caraku 'mengada' adalah dengan mencintai......
Ammo Ergo Sum, aku mencintai maka aku ada!
Ammo Ergo Sum, aku mencintai maka aku ada!
Pujian adalah senyawa antara harapan dan tuntutan. Bagi mereka yang mampu mengikatkan keduanya mendapati bahwa sistem kerjanya sangat menakutkan dan begitu membebani. Tapi bagi yang tak mengerti reaksi keduanya akan terhempas dari puncak kesombongan namun tak bisa merasakan sakitnya.
Yang ia derita adalah kehilangan 'rahsa'.
Yang ia derita adalah kehilangan 'rahsa'.
Selamat Hari Buruh
Sejarah pabrik adalah sejarah perbudakan. Dimana sebagian hidup para karyawan harus digadaikan pada jam-jam yang tak bisa mereka elakkan. Jam-jam kerja yang hampir absolute. Jam-jam yang sama dan harus mereka lalui tiap hari.
Lemburpun sudah menjadi jambalan saat order melambung. Lemburan datang tanpa permisi. Dan imbalannya tak pernah setimpal dengan waktu yang mereka habiskan.
Pendapatan ekstra itu hanya menguntungkan para pemodal yang kerjanya duduk dan menunggu.
Karya mereka tenggelam. Karya itu, prestasi itu, adalah prestasi atasan. Yang memegang kendali atas strategi dan rancangan.
Dan mereka kembali bekerja, berkarya, tanpa sejarah dan bubuhan nama.
'Sepatu ini buatan siapa?'
'Pabrik/perusahaan Anu.'
Sejarah pabrik adalah sejarah perbudakan. Dimana sebagian hidup para karyawan harus digadaikan pada jam-jam yang tak bisa mereka elakkan. Jam-jam kerja yang hampir absolute. Jam-jam yang sama dan harus mereka lalui tiap hari.
Lemburpun sudah menjadi jambalan saat order melambung. Lemburan datang tanpa permisi. Dan imbalannya tak pernah setimpal dengan waktu yang mereka habiskan.
Pendapatan ekstra itu hanya menguntungkan para pemodal yang kerjanya duduk dan menunggu.
Karya mereka tenggelam. Karya itu, prestasi itu, adalah prestasi atasan. Yang memegang kendali atas strategi dan rancangan.
Dan mereka kembali bekerja, berkarya, tanpa sejarah dan bubuhan nama.
'Sepatu ini buatan siapa?'
'Pabrik/perusahaan Anu.'
Senin, 04 Mei 2009
Mencari Jiwaku
Malam adalah pesta jiwa-jiwa petualang berkeliaran.
Aku, duduk di lantai kamar.
Entah tafakur atau cuma menekur, lalu dikepalaku menyebrang sebuah narasi;
aku mau kembali
pada duniaku yang pasi
tetapi jiwanya bertabur kata yang menendang-tendang di kepala
maafkan aku
dunia di seberang sana memang menggoda
dunia yang tak ku tahu makna di dalamnya
menjeratku lebih gila
tetapi jiwaku sepi tiap kali mengecupkan bibir gelak di pesta tawa itu
dan setiap kali aku pulang
aku bimbang jalan mana yang harus kusebrang
pada papasan jiwa lalu dan kini .....kujeritkan batin yang maha asing
jiwaku dulu.....pulanglah
aku merindukanku!
Aku, duduk di lantai kamar.
Entah tafakur atau cuma menekur, lalu dikepalaku menyebrang sebuah narasi;
aku mau kembali
pada duniaku yang pasi
tetapi jiwanya bertabur kata yang menendang-tendang di kepala
maafkan aku
dunia di seberang sana memang menggoda
dunia yang tak ku tahu makna di dalamnya
menjeratku lebih gila
tetapi jiwaku sepi tiap kali mengecupkan bibir gelak di pesta tawa itu
dan setiap kali aku pulang
aku bimbang jalan mana yang harus kusebrang
pada papasan jiwa lalu dan kini .....kujeritkan batin yang maha asing
jiwaku dulu.....pulanglah
aku merindukanku!
Jumat, 01 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
