Rabu, 28 Januari 2009

Gelak Pagi

Selamat Pagi!
"Syukuri hari barumu dengan penuh cahaya harapan", tulis Gibran.
(Para pujangga selalu menularkan harapan mereka dari zaman ke zaman)
Tak ada hari yang membuat kita hidup selain karena kita memiliki harapan. Aku terbangun seperti biasa. Ada sms dari teman yang bertanya 'berangkat tidak?'. Aku menjawab 'tidak'. Lalu kami saling mengirim 'laught'. Kami menertawakan kemalasan kami untuk bergerak. Tapi kami berencåna menukarnya dengan kegairahan yang lain. Maka setelah saling melempar semangat satu sama lain lewat sms, kuraih 'Tagore'ku. Mencari oase2 jiwa sebelum siang menerjang menyebarkan gersang suasana jiwa. Bangun tidur pagi, adalah anugrah. Kita memiliki waktu berkemas menyongsong hari kita. Dan pagi sering membisikkan harapan-harapan impulsive yang membuat kita menyongsong hari dengan 'kegenitan' spontan.
Aku, seperti biasa, melihat masa kanak-kanakku. Kali ini menembang 'Dhandanggula' 'jago kluruk....'
aku makin menekur...

Selasa, 27 Januari 2009

Gelak

Ada yang hilang tiap kali kita menemui perjumpaan yang mendebar. Heran, Tuhan punya bahasa yang begitu mesra? Padahal Ia adalah Yang Maha Kuasa.
Aku tak mengerti mengapa nama-nama begitu berarti. Aku berdebar seperti orang kasmaran hanya karena kata Mexico, Muhammad, Iqbal, Tao, Sungai, Langit, Malam, Pagi, Senja, Ikan, Rumah, Pulang. Bahkan mendengar nama Hitler, Jengis Khan, Karadzic, dsb dst subjektifku.
Tuhan punya banyak cara untuk menggoda kita. Tuhan punya banyak cara mengasihi kita. Tuhan punya segala. Tuhan punya seluruh. Tuhan punya. Tuhan.
Ada yang datang untuk menggantikan yang hilang. Amin!

Senin, 26 Januari 2009

Ashar yang mendebar

Aku dengar adzan lagi
Aku dengar debur mimpi yg tragedi
Aku bertemu hujan yang selalu begitu
Tapi aku tak pernah jumpa kau sejak saat itu
Telingaku mau jaga bagi nafas hidupmu
Batinku mau awas pada nasib yang kau tuju
Jagadku pernah kau singgahi beberapa waktu Saat kita begitu birahi pada impian
Saat kita begitu memuja kerja
Saat kita berpora pada jalinan kesepian
Saat kita merantai padupadankan ide
Sekarang, ashar berdendang menusuk ingatanku dengan rasa yang berderai kian

Minggu, 25 Januari 2009

Pagi!

Pagi. Inilah jam biologi ilham menganga, kita sering merasa intens dengan diri di saat ini. Kita merasa ada sesuatu yg bening. Aku berfikir tentang 'pure duration'nya Bergson. Aku merasa hìdup, merdeka, melonåt-loncat, utuh. Semuanya seolah bersirobok satu sama lain. Intens t'hadap segala menjadi sekarang yg menarik. Hasrat hidupku seolah berbaur menjadi keadaan yg 'aku'. Oh, kau liat! Betapa semesta kecilku ini merasakan diri diantara dan diri itu menari-nari bahagia ia merasa. Hìdup dan menyatu. Bintang, pagi, langit, kokok ayam kumandang adzan, daun-daun yg masih remang. Kau, kalian, dan siapapun kalian! Aku merasakan keberadaan itu. Waduh, aku tak tahan!
Selamat Pagi!
Bumi menunggu dipijak, Tuhan tersenyum dan mengajak berakrab-akrab. Hayya 'alal falaah!
Hayya 'alal falah!

Sabtu, 24 Januari 2009

Jiwa Yang Merindu

Freud pun ketawa dalam kuburnya. Manusia makin suka menyanggah keberadaan naluri konstan yang cenderung menghasilkan laku ataupun sikap kurang ajar kita. Alih-alih mengakui adanya naluri itu untuk rujukan melangkah menuju ego kreatif kita membarui diri. Kebanyakan dari kita justeru mengendapkannya dalam pikiran yang kemudian dimunculkan dalam perilaku bawah sadar yang tak sehat.
Sehingga kau tak pernah merindukan jiwamu yang berlalu...

Jumat, 23 Januari 2009

Gelak

Tak ada kondisi absolut, karena itulah takdir menjadi misteri,nasib menjadi "kesunyian" yg tak bisa dibagì. Hari ini menjadi hari yg sangat tak ku mengerti karena aku memulainya dg rasa yg aneh. Kemarin aku gagal, mau marah, tpi alhamdllh, nuraniku tak mengìzinkan. Sehingga tangis yg hampir pecah disambut tawa yg tersendat, untuk kemudian keduanya berbaur. Aku tak nyaman dg kondisi tersebut, maka semua rencana hari yg tersisa menjadi empuk untuk dilahap kemustahilan. Aku pun melarikan diri dengan berselancar di dunia maya. Bukan untuk mencari teman. Tetapi menyeretku untuk makin tenggelam dalam amuk pelarian.(kadangkala melarikan diri bukan sebuah sikap pengecut)kita hanya ingin meneruskan sesuatu tanpa harus berhenti. Hanya saja sesuatu itu memiliki raut lain dari wajah yg sama....
Sekarang aku tak merasakan jejak kegagalan itu lagi, tapi aku mau menyelesaikannya. Kini!

Arsip Blog

Cari Blog Ini